
Kia menggelengkan kepalanya kecil, “Ah, gak mungkin bereinkarnasi! Ini zaman apa? Itu semua tuh cuma kata orang zaman dulu. Gak mungkin Zain bisa reinkarnasi di zaman modern begini,” gumamnya, yang berusaha untuk menafikan semua pikiran buruknya.
Karena tidak mau berlarut-larut, Kia pun mengambil jaket tersebut, lalu segera menuju ke arah ruangan untuk mencuci pakaian.
Setelah sampai, Kia segera memasukkan jaket itu ke dalam mesin cuci, lalu segera mencucinya dengan sabun dan pewangi.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, Kia segera mengeringkannya lalu ia menjemurnya di balkon kamarnya.
Kia memandang ke arah jaket itu, “Aku gak mau berhutang budi sama kamu. Sekali lagi, kamu bukan Zain, dan Zain bukan kamu. Kalian tidak bisa disamakan,” gumamnya, yang terus memaksa pikirannya untuk tidak memikirkan hal yang aneh.
Sementara itu, di sana Zaki sudah sampai di rumahnya. Ia merasa sangat lelah, karena seharian ini merasa cemas kepada Kia.
Rasa cemasnya itu sangat menguras emosi dan tenaganya. Entah mengapa, dirinya tidak bisa melepaskan pikiran buruk itu. Ia sangat khawatir dengan kondisi Kia, walaupun hasil pemeriksaan Kia tidak terjadi apa pun.
‘Melelahkan ketika mengkhawatirkan seseorang. Jangan sampai saya mengkhawatirkan dia, lebih dari ini,’ batin Zaki, yang juga tidak ingin sampai terjerumus ke dalam sebuah perasaan aneh terhadap Kia.
“Lelah sekali,” ujar Zain, yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Zaki.
Zaki menghela napasnya, “Ya, karena merasa khawatir,” ujarnya ketus.
“Ada apa?”
Zaki memandangnya, “Tadi ada mobil yang nyerempet mobil kamu. Saya spontan buang stir ke kiri, dan ternyata gak sengaja kepala Kia terbentur itu,” jawabnya, sontak membuat Zain mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Kenapa bisa?” tanya Zain, kaget mendengar penjelasan Zaki.
“Ya, saya juga gak tahu. Kenapa mobil itu bisa tiba-tiba nyerempet? Padahal, saya dalam keadaan pelan di pinggir jalan.”
Zain menatapnya sinis, “Apa terjadi sesuatu dengan Kia?” tanyanya.
Zaki menggeleng kecil, “Tidak ada sesuatu yang terjadi pada Kia. Saya khawatir itu semua terjadi, tetapi nyatanya memang tidak ada yang terjadi dengan Kia.”
Mendengar penjelasan Zaki, Zain tidak lantas percaya. Ia belum percaya, jika tidak memastikannya sendiri.
“Apa benar Kia tidak apa-apa?” tanya Zain sekali lagi, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Saya sudah bawa Kia untuk cek rontgen benturan di kepalanya. Nyatanya memang tidak ada apa-apa. Saya juga gak mau sampai terjadi lagi kepada Kia. Cukup kekasih kakak saya saja yang mengalaminya,” ungkap Zaki menjelaskan, membuat Zain menghela napasnya karena baru saja teringat dengan hal yang Zaki ceritakan.
‘Oh ya, saya sampai lupa dengan kejadian yang terjadi pada kekasih kakaknya itu,’ batin Zain yang sekarang sudah mulai percaya pada Zaki.
Zain tahu, Zaki tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi lagi, apalagi terjadi pada Kia. Zaki adalah tipikal lelaki yang memegang teguh janjinya. Ia pasti tidak akan pernah membiarkan apa pun terjadi pada Kia.
“Baiklah, semoga tidak ada sesuatu yang terjadi pada Kia,” ujar Zain. “Oh ya, apa kamu tahu nomor plat mobil yang menyerempet kamu?” tanyanya masih penasaran.
Zaki memandang tajam ke arah Zain, “Tahu!” ujarnya tegas, membuat mereka sama-sama memandang satu sama lain dengan tegas. Mereka merencanakan sesuatu, agar bisa membuat si pelaku kapok dengan ulahnya
***
Pagi ini, seseorang sudah menggetuk pintu kamar Kia. Karena terlalu lelah, Kia baru saja terbangun, mendengar suara ketukan pintu tersebut.
Kia bangkit, dan duduk di pinggir ranjang tidurnya. “Ya, tunggu sebentar,” ucapnya sedikit keras.
Kia melangkah ke arah pintu masuk ruangan kamarnya, lalu segera membuka pintu tersebut.
Di hadapannya kini, sudah ada seorang pelayannya. Ia memandang bingung ke arah pelayan tersebut, karena sudah mengganggu tidur nyenyaknya.
“Maaf Non Kia, ada yang ingin bertemu dengan Non,” ujarnya.
Kia merasa bingung, “Siapa yang mau ketemu aku?” tanyanya.
“Tidak tahu, Non. Cowok,” jawabnya.
Memang bukan salahnya, sih. Pelayan ini baru bekerja di tempat Kia. Karena ucapannya kali ini, Kia merasa penasaran dengan siapa yang menemuinya pagi ini.
“Oke, suruh dia tunggu sebentar ya,” pinta Kia, sang pelayan itu pun mengangguk lalu pergi dari hadapan Kia.
Kia terdiam sejenak, “Jangan-jangan ... itu Zaki? Dia mau ngambil jaket kali, ya?” gumamnya, yang malah teringat dengan jaket yang sedang ia jemur di balkon kamarnya.
Matanya mendelik, “Aku belum gosok jaket!” ujarnya, yang lalu segera berlarian ke arah balkon kamar untuk mengambil jaket Zaki.
Dengan sangat cepat, Kia segera menggosok jaket tersebut. Memang tidak terlalu kusut, tetapi ia tetap harus menggosoknya.
__ADS_1
Setelah selesai menggosoknya, ia pun segera berlarian ke lantai dasar untuk menemuinya.
“Zaki maaf nunggu lama, aku baru gosok jak ....” Kia terhenti karena bukan Zaki yang ada di hadapannya, melainkan Adnan. “Ket ....” Kia meneruskan ucapannya yang sempat terpotong.
Melihat kedatangan Kia, Adnan yang sedang duduk di sofa pun langsung bangkit dan memandang Kia dengan bingung.
“Lho, kamu kenapa, Kia? Kenapa kening kamu?” tanya Adnan heran sekaligus kaget, melihat keadaan Kia yang seperti ini.
Kia tersadar dengan keadaan keningnya, yang saat ini belum mengganti kain kasanya.
“Ah? Ini? Gak apa-apa,” jawab Kia, yang sangat tidak respect menjawab pertanyaan dari Adnan.
“Duh, kamu jatuh? Apa gimana, Ki? Udah ke rumah sakit belum?” tanya Adnan, membuat Kia memandangnya dengan datar.
“Gak usah aku kamu,” ujar Kia ketus, membuat Adnan memperbaiki sikapnya di hadapan Kia.
“Emm ... ya, lo kenapa itu? Apa udah ke rumah sakit?” tanyanya lagi, mengulang pertanyaan yang sama.
“Gue bilang gak apa-apa, ya gak apa-apa! Gue gak apa-apa!” ketus Kia, merasa kesal dengan kehadiran Adnan ke rumahnya sepagi ini.
‘Aku kira Zaki, ternyata ....’ Kia merasa sedikit kesal, karena ternyata bukan Zaki yang datang ke rumahnya.
Adnan memandang sinis ke arah Kia. ‘Apa ini ada hubungannya dengan orang suruhan gue kemarin, ya? Kenapa malah bikin Kia begini?’ batinnya, kesal dengan keadaan yang ada.
“Lo ngapain ke sini?” tanya Kia, membuat Andnan tersadar dengan apa yang ia pikirkan.
“Emm ... kenapa, Kia? Ada yang lo tunggu ya, sampai gue gak boleh datang ke sini?” tanyanya, Kia merasa sangat bingung menjawabnya.
“Emm ... gak ada, tuh!” bantah Kia, membuat Adnan memandang ke arah jaket yang Kia pegang.
“Terus, itu jaket siapa?” tanya Adnan, Kia lantas segera menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
“Gak, bukan jaket siapa-siapa, kok!” bantah Kia, merasa tidak ingin memberitahukan kepada Adnan, hubungannya dengan jaket yang ia pegang itu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1