
“Oh My God, kenapa ini semua terjadi pada Zaki?” gumam Zifa yang tidak percaya dengan keadaan ini.
Sementara itu Kia hanya bisa menutup mulutnya saja menggunakan kedua telapak tangannya, sangking merasa bersalahnya ia terhadap keadaan Zaki saat ini.
Air mata mengalir deras, karena Kia yang saat ini merasa sangat bersalah dengan Zaki. Melihat Kia yang menangis seperti itu, Fikar dan Zifa pun memeluknya erat, karena mereka yakin Kia tidak akan pernah melakukan hal yang ia sengaja itu. Pasti sebuah ketidaksengajaan Kia, karena terlalu excited sekali mendengar kata Zain.
“Gimana ini, Kak? Gimana kalau sampai Zain terbunuh gara-gara aku?” tanya Kia.
Fikar pun memeluk erat Kia sembari mengusap rambutnya dengan lembut. “Kamu nggak boleh ngomong gitu! Kita doakan saja yang terbaik untuk keadaan Zaki saat ini. Seperti yang kita tahu, ucapan itu adalah doa! Kita jangan sampai mengatakan hal yang tidak baik, sehingga akan tercatat sebagai doa nantinya. Kamu harusnya mengatakan hal yang baik-baik, agar nanti Zaki bisa dengan cepatnya pulih,” ujar Fikar memberikan teguran kepada Kia agar tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Namun, Kia yang merasa bersalah, hanya bisa menangis di pelukan mereka. Mereka pun merasa sangat sedih karena keadaan Zaki, yang saat ini kembali memasuki fase kritis.
Beberapa jam menunggu, Kia masih saja setia berada di depan ruang UGD. Operasi tersebut masih berjalan dan belum selesai. Kia merasa sangat cemas karena operasinya yang sangat lama. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana Zaki di dalam.
‘Gimana keadaan Zaki di dalam?’ batin Kia, merasa sangat bingung dengan keadaan ini.
Ketika sedang memikirkan Zaki, seseorang keluar dari ruang UGD.
Ia bertanya kepada mereka, “Apa di sini ada yang memiliki golongan darah O?” tanyanya, membuat Kia bangkit dari tempat duduknya.
“Golongan darah saya O!” ujar Kia, yang tanpa berpikir panjang mengajukan dirinya untuk mendonorkan darah kepada Zaki.
“Baiklah, ayo cepat! Pasien sedang sekarat saat ini, dan membutuhkan transfusi darah secepatnya!” ujarnya membuat dia mengangguk cepat mendengarnya.
__ADS_1
Fikar dan juga Zifa merasa khawatir dengan keadaan mereka, sehingga ia merasa cemas karenanya dia pun pergi mengikuti ke arah petugas itu pergi.
Sementara Fikar dan Zifa hanya memandang mereka dengan harapan agar Zaki bisa kembali seperti sedia kala.
“Mudah-mudahan usaha mereka tidak menjadi sia-sia,” ujar Fikar membuat Zifa mengangguk mendengarnya.
“Aku juga berharap demikian. Jangan sampai kejadiannya malah membuat mereka kembali terpisah. Aku nggak mau sampai Zaki kenapa-napa. Karena setelah Zain nggak ada, Kia hanya percaya sama Zaki dan nggak percaya dengan lelaki lain,” ucap Zifa.
Fikar pun mengangguk kecil mendengarnya, “Ya sudah, doakan saja. Tugas kita hanyalah berdoa. Biarkanlah mereka yang berjuang dan takdir yang menentukan.”
Mendengar ucapan Fikar, Zifa pun mengangguk kecil mendengarnya, sembari membuat harapan dalam hatinya, agar Zaki kembali pulih seperti sedia kala. Karena tak bisa dipungkiri, Ziva pun merasa sangat kehilangan sosok Zaki, ketika Zaki sedang dalam posisi seperti ini. Walau bagaimanapun juga Zifa sedikit dekat dengan Zaki.
Kia pun segera melakukan proses untuk mendonorkan darahnya, karena ia tidak ingin membuang waktunya untuk hal-hal yang tidak penting. Ia merasa harus secepatnya melakukan hal tersebut, agar ia tidak melewatkan kesempatan yang sangat sedikit ini untuk Zaki bertahan hidup. Bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya, karena sudah membuat Zaki seperti ini lagi. Ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Zaki, karena ia menyadari jika kehilangan sosok Zaki itu sama saja kehilangan sosok seperti Zain. Terlebih lagi Kia yang belum menemukan jawaban tentang siapa yang sudah membunuh Zain.
‘Semoga apa yang aku lakukan bisa menolong Zaki dengan cepat. Aku berharap seperti itu,’ batin Kia, merasa sangat mengharapkan hal itu.
Zaki membuka matanya, dan melihat keadaan sekitarnya dengan perlahan. Ia merasa kepalanya sangat pusing, sehingga ia tidak bisa melihat keadaan sekitarnya.
Tepat di sebelah ranjang tidurnya, terdapat sebuah ranjang lagi yang di atasnya adalah Kia yang saat ini terlihat sangat pucat. Zaki mendelik kaget, dengan keadaan Kia yang seperti itu saat ini.
“Kia ...,” panggil Zaki, tetapi Kia yang tidak sadarkan diri tidak bisa menjawab panggilannya itu.
Mendengar Zaki yang sudah sadarkan diri, Fikar pun yang sedang tertidur langsung bangun karena mendengar suara Zaki yang sudah tersadar.
__ADS_1
Ketika Fikar bangun, Zifa pun juga terbangun karena terganggu tubuh Fikar yang beranjak pergi.
“Zaki ... akhirnya lo sadar juga,” ujar Zifa.
Fikar pun segera berlarian memanggil dokter, dan membawa dokter kembali ke ruangan rawat Zaki.
Mereka pun melakukan pemeriksaan dan memeriksa segala macam keadaan yang ada. Walaupun saat ini banyak sekali pertanyaan di pikiran Zaki tentang Kia, tetapi ia masih harus mengikuti prosedur untuk memeriksa lukanya itu. Ia harus menunggu untuk menanyakan hal tersebut pada mereka.
Setelah mendapatkan penanganan dari mereka, Zaki pun diberikan beberapa suntikan. Entah suntikan apa itu, intinya Zaki merasa sedikit nyaman ketika diberikan suntikan itu dan rasa sakit tersebut sedikit berkurang, karena suntikan tersebut.
Dokter pun menghampiri Fikar. “Keadaan pasien sudah cukup baik saat ini, jangan sampai membuat luka pasien kembali terbuka, karena hal itu akan sangat membahayakan baginya. Kasihan pasien, karena jika lukanya terbuka kami harus segera menjahit kembali dan pemulihannya pun jadi semakin lama. Karena ia harus mengulang dari awal proses recovery,” ujar sang dokter menjelaskan pada Fikar.
Fikar pun mengangguk setuju mendengarnya, “Baiklah, dokter. Terima kasih atas teguran dan juga sarannya. Lalu bagaimana dengan Kia, dok?”
“Kondisi Kia saat ini sedang drop, karena kita yang terlalu banyak mengambil darah dari tubuh Kia. Hal itu karena kita khawatir dengan Zaki dan harus mengambil darah, sesuai dengan yang kita butuhkan. Hal itu membuat Kia jadi kehilangan banyak darah. Saat ini harus melakukan proses pemulihan,” ujarnya, membuat Fikar pun mengangguk mendengarnya.
“Baik, terima kasih, dokter. Jika ada apa-apa tolong hubungi ya,” ujarnya, yang lalu pergi dari ruangan Zaki tersebut.
Karena merasa sangat khawatir, Zifa pun segera menuju ke arah ranjang tidur Zaki, diikuti dengan Fikar yang juga khawatir dengan Zaki dan juga Kia.
Mereka memandang ke arah Zaki dengan sendu, karena keadaan Zaki yang saat ini lebih parah dibandingkan keadaannya yang kemarin.
“Fikar, kenapa dengan Kia?” tanya Zaki, yang masih dengan lemas bertanya seperti itu.
__ADS_1
“Kia nggak apa-apa, dia cuma lemas aja karena habis donor darah buat lo. Darah lo keluar banyak banget, jadi dia harus donorin darahnya buat lo,” jawab Fikar menjelaskan, membuat Zaki jadi merasa sangat tersentuh mendengarnya.
“Kia melakukan itu? Kenapa?” tanya Zaki penasaran.