
Malam itu, ketika Zaki sudah dipindahkan ke ruangan rawat, Kia yang merasa lelah segera terlelap dan dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Fikar. Namun, Zifa yang berada di sebelah kanannya, masih mempertahankan posisinya untuk tidak mengikuti apa yang Kia lakukan.
Fikar menoleh ke arahnya, kemudian menepuk-nepuk bahu sebelah kanannya. “Sini, istirahat. Kamu pasti capek ‘kan?” suruhnya, membuat Zifa memandangnya dengan ketus.
“Nggak usah, aku nggak capek kok! Kalaupun aku capek, aku nggak bakalan tidur di bahu kamu!” tolak Zifa mentah-mentah, karena ia tidak bisa melakukan hal yang sama dengan yang Kia lakukan pada Fikar.
Zifa masih mengutamakan gengsi daripada rasa egoisnya. Ia tidak ingin melakukan hal itu, karena di antara dia dan Fikar, sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, sehingga membuatnya enggan untuk melakukannya.
“Nggak apa-apa, kamu pasti capek ‘kan? Udah istirahat aja,” bujuk Fikar, tetapi Zifa Masih pada pendiriannya dan tidak ingin melakukan hal itu.
“Aku bilang enggak, yang enggak!” tolak Zifa, yang merasa gemas menjawab ucapan Fikar.
Karena tidak ingin berdebat di hadapan Kia dan juga Zaki, Fikar pun akhirnya memejamkan matanya dengan posisi yang bersandar pada sofa. Ia membiarkan Kia untuk beristirahat di pundaknya, sementara itu Zifa memandangnya dengan bingung, karena ia tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini. Mereka sudah terlelap, sementara Zifa hanya memandang ke arah langit-langit ruang kamar rawat Zaki. Ia sebenarnya lelah, tetapi ia tidak ingin tertidur pada bahu Fikar.
‘Gimana nih? Aku nggak mau tiduran di bahunya dia. Aku nggak mau bikin dia makin berharap, dan aku juga nggak mau malah berharap lagi sama dia,’ batin Zifa, yang sebisa mungkin menyandarkan kepalanya pada sofa, sama seperti yang Fikar lakukan.
Namun, ketika ia sudah kehilangan kesadarannya, kepalanya perlahan turun dan bersandar ke bahu Fikar. Fikar menyadarinya, tetapi ia hanya diam dan malah mengusap lembut pipi Zifa. Ia merasa nyaman, ketika Zifa melakukan hal ini dengannya. Ia jadi merasa bisa melindungi Zifa, dan ia malah jadi berharap hubungan mereka bisa kembali seperti semula.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, saat Zifa tersadar ia sudah berada menyandar pada bahu Fikar, dengan tangan Fikar yang terus mengelus-ngelus wajahnya. Hal itu membuatnya mendelik, kemudian segera bangkit dari posisinya saat ini.
Namun belum sempat ia bangkit dari posisinya itu, Fikar sudah menahan wajahnya agar tidak melepaskan diri darinya. Mereka tidak mengatakan apa pun, tetapi mereka merasakan kenyamanan dan kehangatan mereka yang kembali seperti sedia kala. Hanya karena melakukan hal seperti ini, mereka sama-sama berspekulasi tentang hubungan mereka masing-masing, dan mereka sama-sama menginginkan untuk kembali menjalin hubungan bersama.
Namun mereka tidak mampu untuk mengungkapkannya. Bahkan Zifa pun ingin sekali kembali menjalin hubungan dengan Fikar, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Karena ia memiliki gengsi yang sangat tinggi.
Pagi ini mereka bangun dalam keadaan yang masih sama. Zifa bangun lebih awal, lalu membangunkan Fikar yang tangannya masih berada pada wajah Zifa. Ia khawatir, jika Kia melihat mereka dalam posisi yang seperti ini, mungkin mereka akan sangat malu jika Kia melihat mereka.
“Fikar ... bangun,” bisik Zifa, sembari menggoyangkan pundak Fikar.
Tak berapa lama, Fikar pun bangun dari tidurnya karena terganggu oleh Zifa yang membangunkannya. Ia sejenak melihat keadaan sekitar, dan menyadari bahwa dirinya saat ini sedang tidak berada di kamarnya, melainkan sedang berada di ruangan rawat Zaki.
“Aku dan Kia harus segera berangkat ke kampus, tapi aku bingung gimana nasib Zaki kalau nanti kita nggak ada di samping dia?” ujar Zifa, membuat Fikar mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku juga nggak bisa jagain dia, karena pagi ini aku ada meeting. Semua karena semalam meeting-nya terpaksa ditunda, karena sudah terlalu malam,” ujar Fikar, membuat mereka bingung jadinya dengan apa yang harus mereka lakukan.
“Jadi gimana dong siapa yang bakal jagain Zaki di sini?” tanya Zifa, yang merasa bingung.
__ADS_1
“Aku yang bakalan jagain Zaki di sini,” ujar Kia yang tiba-tiba saja bangun dari tidurnya.
Mereka pun terkejut, karena mereka bingung mengetahui Kia yang bangun dari. Mereka khawatir jika ia mendengar semua ucapan mereka. Namun Zifa berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa paniknya di hadapan Kia saat ini.
“Kamu mau jagain Zaki di sini? Apa kamu nggak masuk kelas? tanya Zifa, yang merasa khawatir dengan nilai Kia.
“Aku di sini aja nemenin Zaki. Kamu tolong kasih tahu sama dosen, kalau aku hari ini izin nemenin Zaki di rumah sakit. Aku nggak bisa ninggalin Zaki gitu aja, karena semalam aku ngerasa bersalah banget sama dia. Harusnya aku nggak ngebiarin dia pulang ,sama seperti Zain waktu itu. Harusnya aku nggak ngebiarin mereka pulang, dan mereka nggak bakalan kayak gini,” ujar Kia, yang merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi, dengan Zaki dan juga Zain.
Fikar memandangnya dengan dalam. “Kia, sudah relakan saja Zain. Zain sudah nggak ada sisi kita. Sisi baiknya kamu bisa ketemu Zaki sekarang, dan bisa berteman sama dia. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Kamu ambil hikmahnya aja ya,” ujar Fikar, yang berusaha memberikan nasehat kepada adiknya.
Mendengar Fikar yang menasehati adiknya itu, Zifa pun melirik sinis ke arahnya. ‘Ambil hikmahnya dari mana? Atas kejadian yang menimpa kita, gue ambil hikmahnya. Sementara lo enak-enakan ambil enaknya!’ batin Zifa, yang merasa sangat kesal saat ini, ketika mendengar ucapan Fikar yang tidak matching, dengan yang ia lakukan.
“Ya, aku bersyukur kok, Kak. Tapi aku masih belum nyangka aja, kenapa aku sama Zain bisa terpisah secepat ini? Kalau seandainya aku waktu itu nggak ngizinin dia pulang, mungkin dia nggak bakalan kayak gini. Sekarang, terulang kembali sama Zaki. Kalau seandainya aku nggak ngizinin Zaki pulang, dia nggak bakalan kayak gini,” ujar Kia, yang merasa sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan, sehingga membuat mereka menjadi korban.
Fikar mengusap lembut rambut Kia, “Jangan berpikir kayak gitu. Semua yang udah terjadi memang tulisan takdir untuk mereka. Kamu sama sekali nggak salah dalam hal ini. Yang penting sekarang, kamu harus temenin Zaki. Jangan sampai dia bangun dengan keadaan bingung,” ujar Fikar, membuat Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Iya, ya udah aku tunggu di sini aja. Kalian kerja dan kuliah aja ya,” ujar Kia mereka pun mengangguk mendengarnya.
__ADS_1
“Ya udah, aku siap-siap mau kuliah dulu. Sampai ketemu nanti ya, Kia!” pamit Zifa, membuat Kia tersenyum mendengarnya.