Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Akhir Bahagia Cinta Kia dan Zaki


__ADS_3

Zaki berdeham, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan bludru, berwarna merah. Ia memperlihatkannya paa Kia, sontak membuat Kia mendelik tak percaya melihatnya.


“Kia ... karena gue yang udah berjanji jagain lo, gue gak mau setengah-setengah. Gue mau jagain lo seumur hidup gue. Apalagi lo juga ternyata adalah cinta pertama gue, jadi ... gue mau lo nerima gue,” ungkap Zaki, membuat Kia tersenyum tak percaya mendengarnya.


“Terima!” teriak Fikar dan Zifa bersamaan, membuat Kia memandang heran ke arah mereka, kemudian memandang kembali ke arah Zaki.


“Will you marry me?” tanya Zaki, tanpa basa-basi lagi, Kia pun mengangguk dengan mantap.


Mereka pun berpelukan, saking senangnya Zaki karena sudah berhasil mendapatkan hati Kia. Di sela saat Zaki memeluk Kia, ia tak sengaja memandang ke arah hadapannya. Ia melihat Zain, yang ternyata sedang memandang ke arah mereka dengan senyuman.


Zaki melepaskan pelukannya, lalu menunjuk ke arah Zain berada. “Di sana, sekarang ada Zain. Apa ada hal yang mau lo ungkapin untuk Zain?” tanya Zaki, sontak membuat mereka terkejut mendengarnya.


Walaupun sedikit takut, Kia berusaha untuk memberanikan diri. Walau sebenarnya ia sama sekali tidak bisa melihat keberadaan Zaki.


Kia menghela napasnya, “Zain Sayang ... terima kasih sudah menjadi orang yang pernah mengisi hari-hari aku. Aku udah iklas kalau kamu mau pergi sekarang. Kamu yang tenang di sana. Aku gak nyalahin kamu tentang kamu yang gak jadi datang ke pertunangan kita. Aku udah gak akan sedih lagi. Sekarang, ada Zaki yang akan jagain aku. Kamu jangan lupain aku ya di sana. Satu yang harus kamu tau, aku tetap sayang sama kamu, walaupun aku sudah sama Zaki sekarang,” ujarnya, membuat Zain tersenyum mendengarnya.


Zain memandang ke arah Zaki dengan senyuman. “You did it, Zaki. You won.”


Zaki hanya tersenyum, membuat Zain tidak bisa berkata apa pun lagi di hadapan mereka.


“Yang tenang Zain di sana. Jangan khawatir, ada gue juga yang jagain Kia di sini,” ujar Fikar.


“Ya, ada aku juga Pak Zain. Jangan khawatir,” sahut Zifa juga, membuat Zain tambah lega mendengarnya.


Zain memandang dalam ke arah Kia. “I love you, till I died,” ujarnya.


Perlahan Zain pun menghilang dari hadapan Zaki, membuat Zaki bingung. Namun, ia percaya kini Zain sudah pergi dengan damai.


Zaki memandang ke arah Kia dengan senyumannya. “Kata Zain, He love you, till him died,” ujarnya, menyampaikan pesan Zain kepada Kia.


Kia terharu, lagi-lagi ia menangis tak bisa menahan kesedihannya karena sudah mendengar ucapan itu dari mulut Zain. Walaupun harus diwakilkan dari mulut Zaki. Zaki memeluk erat Kia, membuat Kia menumpahkan semua rasa sakit dan rindunya pada Zain, di pelukan Zaki.

__ADS_1


“Gak apa-apa. Gue akan bantu proses recovery lo, buat lupain Zain. Sebaliknya, bantu gue buat lupain wanita yang gue cinta, yang juga sudah meninggal,” ujar Zaki, membuat Kia mengangguk kecil dalam pelukannya.


Pandangan Zaki tak sengaja menatap ke arah hadapannya. Di sana juga ia melihat wanita yang sangat ia cintai, yang ternyata juga hadir melihat keadaannya. Hal itu membuat Zaki terdiam, dan memandangnya dengan tatapan yang terkejut. Wanita itu pun melambaikan tangannya ke arah Zaki, dan tak sadar Zaki pun melambaikan tangan ke arahnya. Wanita itu pergi dengan senyuman, begitu pun dengan Zaki.


Mereka bingung melihat Zaki yang melambai, membuat mereka sedikit takut melihatnya.


“Ada apa?” tanya Kia, Zaki tersenyum hangat padanya.


“Gak apa-apa,” jawab Zaki, yang lebih memilih untuk menyembunyikan hal ini dari Kia.


Tidak lucu jika Kia nantinya akan cemburu dengan seorang arwah gentayangan. Jadi, lebih baik Zaki menyembunyikannya.


“So, party nih kita?” tanya Fikar.


“Party!” teriak Zifa, yang merasa sangat senang, karena pada akhirnya mereka mendapatkan happy ending mereka.


Setelah kejadian itu, mereka pun melakukan wisuda dan pelantikan bersama. Zaki yang belum menyelesaikan study karena mengambil cuti untuk memulihkan lukanya, hanya bisa mengucapkan selamat pada Zifa dan juga Kia. Di sana juga ada Zura, yang ternyata sudah berubah dan mau berbincang bersama mereka. Kini, Zura pun masuk ke dalam circle mereka, dan ia tidak ingin mengikuti jejak Adnan, sang psikopat. Yang hanya karena cinta, bahkan rela melakukan apa pun demi mendapatkannya.


Mereka pun berpose bersama, membuat ketiganya terlihat sangat akrab.


Zaki memandang ke arah Kia dengan dalam, “Selamat ya, Sayang. Kamu hebat,” puji Zaki, membuat Kia tersenyum hangat mendengarnya.


“Terima kasih, Sayang.” Kia memeluk mesra Zaki, membuat Zura dan Zifa berdeham, saking irinya melihat kedekatan mereka.


“Btw, burger beserta saus gue belom lo ganti!” ujar Zura, membuat Zaki teringat dengan hal tersebut.


“Haha, ya, nanti gue ganti,” ujar Zaki.


Kia memandang bingung ke arahnya, “Jadi yang lo kena saus itu, kena sausnya Zura?” tanyanya pada Zaki, membuat Zaki mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka tertawa lepas, merasa sangat senang karena sudah mengetahui hal kecil yang tersembunyi selama ini.

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian, Fikar melangsungkan pernikahan dengan Zifa. Sementara Zaki dan Kia harus menunggu beberapa saat dan tidak bisa menikah bersama. Namun, keduanya sudah sangat dekat, bahkan Kia selalu memakai cincin yang Zaki berikan padanya, yang sebenarnya adalah cincin pertunangan Zain dan juga Kia.


Di suasana pesta mereka berbincang.


“Kia, ada yang mau gue kasih tau ke lo,” ujar Zaki.


“Apa?”


“Cincin ini ... sebenarnya cincin tunangan lo dan Zain,” ujar Zaki, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.


“Lo gak modal, ya? Jaket Zain, mobil Zain, rumah Zani, sekarang cincin Zain,” ledek Kia, yang mood-nya berganti dan malah meledek Zaki.


Zaki tak percaya dengan reaksi Kia saat ini, yang lebih mengarah kepada dirinya yang diledek. Bukan merasa sedih ketika sedang membicarakan Zain.


“Lo ... gak sedih lagi tentang Zain?” tanya Zaki, Kia menggelengkan kecil kepalanya.


“Udah ada lo sekarang, gue harus semangat. Buka lembaran baru bersama lo,” ujar Kia, sontak membuat Zaki merasa sangat senang dan bahagia mendengarnya.


Saat pelemparan bunga, tak sengaja bunga itu tertangkap oleh Kia. Hal itu membuat mereka tersenyum melihat Kia yang mendapatkan bunga lemparan dari sang mempelai.


“Nyusul!” teriak Fikar, membuat Zaki tertawa sembari memeluk Kia dengan bahagianya.


“Ya, nanti kita nyusul naik jet. Biar sat-set-sat-set,” jawab Zaki, membuat mereka tertawa mendengarnya.


Kia memandang ke arah Zaki dengan dalam, begitupun Zaki yang juga memandang ke arahnya dengan dalam.


“I love you, Is,” ujar Kia.


“I love you more, Kia.”


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2