Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Ngapain Lo, Di sini?


__ADS_3

‘Kalau gue bisa ngomong yang sejujurnya ke Kia, tentang semua ini, mungkin semuanya akan baik-baik aja, dan akan lancar-lancar aja,’ batin Zaki, merasa ingin mempertimbangkan mengenai hal ini.


Karena Kia yang juga memikirkan tentang Adnan yang selalu mengganggunya, Kia pun akhirnya mengangguk, setuju dengan apa yang Zaki katakan.


“Ya, gue setuju. Tolong jaga gue, ya!” ujar Kia, Zaki mendelik, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari Kia.


“Lo setuju, Ki?” tanya Zaki, Kia memandangnya datar.


“Jangan sampai gue berubah pikiran karena pertanyaan lo ini,” ujar Kia datar, membuat Zaki tersenyum mendengarnya.


“Jangan sampai berubah pikiran,” ujar Zaki, Kia pun membalas senyumannya sembari menganggukkan kepalanya kecil.


“Mudah-mudahan,” ujar Kia singkat.


“Harus pasti,” paksa Zaki, Kia tertawa kecil.


“Kok maksa?”


“Gak apa-apa, ini memang gue. Maksa untuk kebaikan,” ujar Zaki, membuat Kia sedikit tersenyum mendengarnya.


Kia menghela napasnya panjang, ‘Ya, bersama Zaki memang tidak ada salahnya,’ batin Kia, yang merasa sudah menemukan teman baru yang sesuai dengan keadaan.


Dengan alasan ingin melindungi diri dari Adnan, Kia terpaksa menerima tawaran dari Adnan. Walaupun tidak terlalu terpaksa, tetapi ia sangat terbantu dengan tawaran Zaki yang seperti itu padanya.


“Janji, jaga gue dari siapa pun yang ganggu gue, dan janji gak ada perasaan apa pun di antara kita, karena gue belum bisa move on dari Zain,” ujar Kia, berusaha make sure dengan apa yang ia ingin tanyakan kepada Zaki.


Zaki terdiam sejenak, “Kalau menjaga lo dari Adnan atau lelaki lain yang ganggu lo, gue yakin gue bisa. Tapi ... kalau untuk janji gak akan ada perasaan apa pun di antara kita, gue gak bisa pastiin,” ujarnya, membuat Kia terdiam dengan mata yang membulat tak percaya mendengarnya.


Karena merasa malu, Kia pun menunduk di hadapannya. “Bukannya lo udah janji tadi?” tanyanya dengan nada yang sendu di hadapan Zaki.

__ADS_1


Zaki menghela napasnya panjang, “Bukannya lo udah bilang, kalau gak ada pertemanan murni di antara lelaki dan perempuan?” tanyanya, Kia semakin mendelik mendengarnya.


‘Ya, memang tidak ada yang seperti itu. Karena dia udah bantuin gue beberapa kali, jadi gue ngerasa kayak ketergantungan sama dia. Apalagi udah gak ada Zain, gue jadi makin kesepian karena gak ada teman hidup. Mungkin, ini karena gue hanya kesepian aja, makanya gue begini ke dia. Kalau nanti gue misalkan dapat teman hidup yang lebih baik dari Zain, mungkin gue gak akan seperti ini lagi sama Zaki,’ batin Kia, merasa sangat bingung dengan keadaan.


Kia memandang ke arah Zaki, yang saat ini wajahnya terlihat sangat merona. ‘Wajahnya merah, apa dia malu?’ batinnya terkejut melihat perubahan sikap Zaki di hadapannya.


“Lo ... kenapa?” tanya Kia, Zaki sedikit tersentak kaget mendengarnya.


Zaki membuang pandangannya, “Gak apa-apa,” jawabnya, yang lalu segera bangkit dari tempat duduknya. “Gue pergi dulu,” pamit Zaki, yang lalu segera pergi dari hadapan Kia dengan cepat.


Kia memandangnya heran, karena ia tidak biasa melihat ekspresi Zaki yang aneh seperti itu. Ia hanya bisa memandang kepergian Zaki, lalu menghela napasnya dengan panjang.


‘Dia aneh banget,’ batin Kia, sembari tetap memandang ke arah kepergian Zaki.


“Permisi, Non.” Seseorang datang menyapa, membuyarkan lamunan Kia.


“Tadi minumannya belum dibayar. Kopi hitam panas, dan latte dingin,” ujarnya, sontak membuat Kia kesal mendengarnya.


‘Zaki ... dia lupa bayar! Ngeselin banget, sih!’ batin Kia, kesal dengan Zaki yang ternyata belum membayar minuman yang mereka minum.


Kia memandang ke arahnya, “Oh ya, berapa Pak semuanya?” tanya Kia, yang sejenak melupakan masalah itu di hadapan sang pemilik kedai.


Sementara itu, Zaki pergi dari sana karena sudah terlalu malu dengan Kia. Ia merasa aneh, ketika ia mengatakan semua itu di hadapan Kia.


Zaki berhenti di sebuah taman kampus, tempat Adnan dan Zura bertemu kala itu. Ia duduk dengan wajah yang masih terasa panas, dan mencoba untuk menghilangkan rasa malunya saat ini.


‘Duh ... gue apaan sih? Kenapa malah malu di hadapan Kia? Kenapa malah ngomong begitu ke Kia? Ketauan banget gak sih, kalau ucapan gue itu aneh, dan menyimpang dari keinginan gue buat jagain dia?’ batin Zaki, merasa sangat aneh sendiri saat ini.


“Heh,” sapa seseorang dengan ketus, yang sejak tadi memang sudah berada 2 meter di sebelah Zaki.

__ADS_1


Zaki yang bingung, segera memandang ke arah sumber suara.


Terlihat seorang wanita, yang ternyata adalah Zura. Ia sedang menikmati burger yang ia makan, membuat Zaki terkejut lihat sosok aneh itu di sebelahnya.


“Ngapain lo di sini?” tanya sinis Zaki, membuat Zura memandangnya dengan tatapan yang juga sangat sinis.


“Ada juga gue yang harusnya nanya ke lo! Ngapain lo di sini, hah?” tanya sinis Zura, membuat Zaki kesal mendengarnya.


“Suka-suka gue, lah! Mau di mana kek, memangnya kampus ini punya anak S1 doang? Anak S2 gak boleh duduk di sini?” tanya sinis Zaki, dengan sedikit bentakan pada Zura.


Zura merasa tertantang, “Heh, kutu kupret! Gue gak peduli ya, lo mau anak S2 kek, mau anak basket terkenal kek dulu, gue gak peduli ya! Lo mau duduk di sini pun gue gak peduli, asalkan lo liat-liat dong kalau mau duduk! Yang bener aja, masa dudukin saus gue?” bentaknya, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.


“Hah?” gumamnya, yang lalu segera bangkit dan memegang sedikit punggung sampai bokongnya.


Matanya semakin mendelik, karena memang ia terkena saus pada bagian kemeja panel yang ia kenakan. Beruntung saus itu tidak sampai mengenai celananya. Jika hal itu sampai terjadi, ia mungkin sangat malu ketika sudah berada di kelas.


“Seriouslly? Gue kena saus?” pekik Zaki, heran dengan keadaan ini.


Zura tertawa jahat di hadapannya, “Hahah, gue gak peduli lo mau seganteng dan sekeren apa, yang penting jangan dudukin saus gue! Rasain tuh saus!” bentaknya, membuat Zaki kesal karenanya.


“Awas lo!” ancam Zaki, Zura sama sekali tidak takut karenanya.


“Gue gak takut! Ada juga lo harus ganti rugi! Gue jadi gak bisa nambah saus sekarang!” bentak Zura, membuat Zaki terdiam sejenak mendengarnya.


“Siapa suruh lo taruh saus di sini? Emangnya gak bisa lo agak ke sana sedikit?” tanya sinis Zaki, membuat Zura semakin mendelik saja mendengarnya.


“Heh, lo aja yang dateng-dateng langsung duduk! Gak lihat kiri kanan, malah nyalahin orang pula!” bentak Zura, merasa kesal dengan yang Zaki lakukan dan katakan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2