
Zaki memandang dalam ke arah Zain, “Saya juga tahu rasanya kehilangan orang yang saya sayang, untuk selamanya,” ungkapnya, mendadak sendu di hadapan Zain.
Zain terdiam, memandang ekspresi Zaki yang sepertinya sangat sedih saat ini. “Kamu ... pernah kehilangan kekasih kamu?” tanya Zain, Zaki mengangguk kecil mendengarnya.
“Bukan kekasih, lebih tepatnya orang yang sangat saya sayang. Dia adalah kekasih kakak saya,” jawab Zaki, sontak membuat Zain kebingungan.
“Kekasih ... kakakmu?” tanyanya.
“Ya. Saya diam-diam mencintai dia. Dia itu wanita yang sangat menarik. Pantas saja kakak saya sampai tergila-gila dengan dia, sampai akhirnya gila beneran sekarang. Dia punya daya tarik sendiri, yang gak bisa disamakan dengan perempuan mana pun. Sedikit banyaknya, saya juga merasa kehilangan sosok tersebut,” gumam Zaki menjelaskan.
Zain terdiam sejenak, saking bingungnya ia bagaimana harus merespon yang Zaki katakan.
“Kamu waktu itu ... apa sedang mengunjungi makam wanita itu?” tanya Zain asal, tetapi sudah menduganya.
Zaki mengangguk kecil, membuat Zain mendesah sendu mengetahuinya. Pasalnya, makam wanita itu bersebelahan dengan makamnya. Ia juga sering mendengar tangisan seorang gadis, tetapi ia sama sekali tidak bisa melihat wujud gadis tersebut.
__ADS_1
‘Apa ... dia akan sangat sedih, kalau saya bicara soal hal ini?’ batin Zain, yang menimbang kembali apa yang akan ia lakukan. Karena satu dan lain hal, Zain mengurungkan niatnya untuk memberitahu Zaki mengenai hal ini. Ia menutupnya, dan hanya ia sendiri saja yang mengetahuinya.
Zaki menghela napasnya dan memandang ke arah Zain, dengan tatapan yang dipaksa tegar. “Sudahlah, jangan ungkit masa lalu lagi. Semua itu sudah lama berlalu, tetapi masih saja meninggalkan bekas yang mendalam bagi saya. Terlebih lagi bagi kakak saya,” ujarnya, yang dipaksa kuat untuk menghadapi kenyataan.
Zain mengerti dan sangat paham, dengan apa yang Zaki katakan. Memang, kehilangan orang yang kita sayang, sama seperti kehilangan separuh dari diri kita. Hidup mereka menjadi sama-sama hampa, karena orang yang mereka kasihi sama-sama pergi meninggalkan mereka.
Mau bagaimana lagi? Ini adalah takdir untuk mereka.
“Jadi, bagaimana Kia? Apa dia baik-baik saja?” tanya Zain, berusaha untuk menanyakan keadaan Kia dari Zaki.
Zaki tersenyum tipis, “Kamu bisa mengunjunginya sendiri. Untuk apa bertanya pada saya?” selorohnya, membuat Zain terkekeh mendengarnya.
“Baiklah, Zifa bilang masih belum ada perubahan dari Kia. Dia masih terus menangisi kamu, tetapi ia terpaksa masuk kampus. Dia takut tertinggal pelajaran karena sebentar lagi akan lulus,” tutur Zaki menjelaskan.
Sepanjang Zaki menjelaskan, Zain hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya saja, mengerti dengan ucapan dan maksud Zaki mengenai kondisi Kia saat ini.
__ADS_1
“Saya mohon, kamu terus awasi Kia. Jangan sampai Kia melakukan sesuatu yang tidak baik, atau ada seseorang yang berusaha untuk melakukan hal tidak baik itu kepada Kia. Saya tidak bisa menjaganya terus, saya butuh kamu untuk melakukan semua itu,” ujar Zain, Zaki hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Ya, saya akan berusaha untuk menjaga Kia. Saya juga akan berusaha untuk menepati janji saya sama kamu,” ujar Zaki, berusaha untuk membuat hati Zain menjadi tenang.
Dihelanya napas dengan dalam, Zain merasa sangat lega mendengarnya. “Terima kasih. Saya sangat lega mendengarnya. Saya hanya bisa mengatakan hal itu sama kamu,” ujar Zain, Zaki sangat mengerti dengan keadaan Zain yang sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi sekarang.
“Jadi, setelah ini saya harus gimana? Apa saya jelasin ke Kia secara terang-terangan, atau saya tunggu agar Kia tidak tau apa yang saya lakukan?” tanya Zaki, meminta saran kepada Zain tentang masalah ini.
“Kamu tunggu aja, jaga dia dari jauh. Jangan sampai dia tau, kalau kamu berusaha untuk menjaganya,” ujar Zain, berusaha untuk memberikan batasan pada Zaki dan juga Kia.
Zaki mengangguk kecil mendengarnya, “Oke deh,” gumamnya, yang sudah menyetujui apa yang Zain inginkan.
“Ya sudah, kamu istirahat dulu. Besok harus ke kampus, dan jangan sampai terlambat,” tutur Zain dengan nada yang mendikte, membuat Zaki tidak menerima pendiktean yang Zain lakukan padanya.
“Kamu terlalu mendikte, saya gak suka,” gerutu Zaki, yang lalu segera merebahkan dirinya dan menarik selimutnya.
__ADS_1
Walaupun Zaki menggerutu, tetapi ia tetap melakukan apa yang Zain suruh. Hal itu hanya membuat Zain tertawa mendengarnya.
BERSAMBUNG...