
Zaki tertawa geli sekali, membuat Kia merasa sangat heran dengannya.
“Zaki ....”
“Zaki ....”
“Zaki!” pekik Kia, membuyarkan lamunan Zaki sejak tadi.
Zaki tersadar, sejak tadi ia hanya diam dan malah melamunkan hal yang aneh ketika bersama Kia. Baru saja ia mengganti kasa yang ada pada kening Kia, tetapi ia sudah melamun begitu jauh sejak tadi.
“Lo malah ngelamun!” bentak Kia, Zaki pun mengusap kasar wajahnya.
‘Dari tadi gue ngelamun? Astaga, kenapa bisa seperti nyata banget, ya?’ batin Zaki, heran dengan apa yang terjadi dengannya.
Zaki memandang Kia bingung. “Sampai mana tadi kita bicara?” tanyanya.
“Gue nanya, lo itu sebenernya siapa? Kenapa lo mirip banget sama Zain?” tanya Kia mengulang pertanyaan yang tadi.
‘Hah? Jadi dari tadi gue gak ngomong apa-apa sama Kia?’ batin Zaki, heran dengan keadaan yang ada.
“Mmm ... gue ... gue gak kenal siapa Zain,” ujar Zaki, yang lalu segera pergi dari sana dengan terburu-buru.
Kia memandangnya heran, merasa kesal karena pertanyaannya diabaikan oleh Zaki.
“Dia kenapa, sih? Aneh banget!” gerutu Kia, yang heran dengan sikap Zaki yang aneh sekali menurutnya.
Zaki melangkah keluar dari rumah Kia. Ia masuk ke dalam mobilnya, kemudian kembali ke kediaman Zain.
Sepanjang jalan, Zaki hanya bisa mengelus dadanya. Hampir saja ia mengatakan semuanya yang ia ketahui di hadapan Kia. Ia merasa aneh, dengan lamunannya yang terasa sangat nyata.
“Jangan sampai semuanya terbongkar lebih awal! Saya gak akan kasih tau apa pun mengenai hal ini ke Kia,” gumam Zaki, memperkuat tekadnya.
Dari arah belakang, Zaki melihat sebuah mobil yang melaju dengan sangat kencang. Ia merasa ada yang tidak beres dari orang yang mengemudikan, membuatnya memerhatikan dengan saksama.
“Mobil itu ... kenapa, ya?” gumam Zaki, masih memerhatikan kecepatan mobil tersebut.
Semakin dekat mobil itu, semakin membuat Zaki merasa yakin. Mobil itu kemungkinan besar akan menabraknya, membuatnya mendelik dan langsung membanting stir ke kiri.
“Ah!” teriak Zaki, yang hampir saja menabrak trotoar jalan.
Untung saja, belum sempat Zaki menabrak pembatas jalan, ia sudah menghentikan kendaraannya dan sudah berhenti di pinggir jalan.
“Sial!” teriak Zaki, kesal dengan pengendara mobil yang tadi hampir menabraknya.
__ADS_1
Padahal jalanan ini tidak terlalu sepi, tetapi mobil tersebut masih saja mengebut seperti itu, dan malah hampir menabraknya. Hal itu membuat dada Zaki berdebar, saking kagetnya ia dengan apa yang terjadi.
“Duh ... dada gue ....” Zaki memegangi dadanya, karena terasa sesak sekali.
Sirkulasi udara tidak masuk melalui hidungnya, membuat napasnya sesak sampai membuat dadanya pun sesak. Namun, Zaki mencoba untuk mengolah napasnya, agar tidak terjadi sesak yang berlebihan.
“Aduh, parah itu yang punya mobil! Gak punya mata apa, ya?” gerutu Zaki, sembari tetap memegangi dadanya yang sakit.
Sementara itu, di sana Adnan merasa kesal. Ia mengemudikan mobilnya dengan emosi yang membara.
“Sial! Gue gagal nabrak dia!” gerutu Adnan, yang ternyata adalah orang yang mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan tadi.
Ini semua tak lain adalah karena ia merasa cemburu pada Zaki. Saat ia pergi dari rumah Kia, ia tidak sengaja melihat Zaki yang hendak pergi ke rumah Kia.
Adnan tidak bisa membiarkan itu, dan mulai menyusun rencananya untuk membuat Zaki menerima ganjarannya.
Adnan memandang sinis ke arah jalan, “Pokoknya, gue harus bisa jauhin dia dari Kia! Kalau gak bisa pakai omongan, gue harus pakai tindakan!” gumam Adnan yang merasa harus melakukan hal ini, agar memberikan efek jera pada Zaki.
Adnan lalu segera mengemudikan mobilnya dengan cepat, dan melupakan sejenak permasalahannya dengan Zaki.
***
Zaki sudah sampai di rumahnya. Ia segera masuk ke dalam, dan melihat Zain di sana.
Zaki tak menghiraukan, dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
“Ada-ada aja,” gumam Zaki, membuat Zain bingung mendengarnya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Zain.
Zaki memandangnya, “Ya. Tadi ada orang gila yang bawa mobil kencang lagi. Untungnya saya hanya sendiri di dalam mobil, dan gak sama Kia lagi,” jawabnya, membuat Zain mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Jadi ... dia berulah lagi?” tanya Zain, Zaki menggelengkan kepalanya.
“Mobil berbeda dari sebelumnya,” ujar Zaki, Zain terdiam sejenak mendengarnya.
“Bisa saja dia pakai mobil lain untuk melancarkan aksinya?” ujar Zain, memberikan statement mengenai hal ini.
Zaki terdiam mendengarnya. “Benar juga, bisa jadi dia orang yang sama, tetapi memang beda mobil saja,” ujarnya, yang malah tak berpikir bisa sampai seperti itu.
“Kamu tahu nomor platnya?” tanya Zain, Zaki menggelengkan kepalanya kecil.
Zain menghela napasnya, “Sayang sekali. Kalau seandainya kamu tahu, saya bisa usut semuanya,” ujarnya, membuat Zaki heran mendengarnya.
__ADS_1
“Wih, kamu hebat. Lebih hebat dari intel!” puji Zaki, membuat Zain tertawa mendengarnya.
“Tidak ada luka, bukan?” tanya Zain, Zaki pun menggelengkan kecil kepalanya.
“Tidak ada,” jawab Zaki, yang hanya bisa menjawab seadanya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya,” ujarnya.
“Sama-sama,” ucap Zain singkat, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Ah, kamu kaku sekali,” seloroh Zaki, membuat Zain tertawa mendengarnya.
“Ya sudah, memang begini adanya. Saya kaku, memang kaku. Begini memang pembawaan saya,” ujar Zain, merasa ucapan Zaki berlebihan karenanya.
“Jangan kaku sekali, dong. Saya ‘kan jadi mengikuti kakunya kamu. Haha, jadi serasa orang tua, yang gak bisa gaul,” seloroh Zaki, membuat Zain tersenyum mendengarnya.
“Kamu dan saya seumuran, Zaki. Hanya saja ... saya lebih cepat menyelesaikan pendidikan,” ujar Zain.
“Sombong sekali Anda,” ledek Zaki, mereka pun tertawa kecil mendengarnya.
***
Paginya, Kia berangkat bersama dengan Fikar. Ia tidak ingin berangkat bersama dengan Zaki, tetapi memang Zaki juga kebetulan tidak menjemput Kia hari ini.
Mereka sampai di gerbang kampus, dan Kia pun segera keluar dari mobil Fikar.
“Makasih tumpangannya ya, Kak!” ujar Kia, Fikar pun tersenyum.
“Ya, Kakak jalan dulu.”
Fikar pun pergi dari sana, meninggalkan Kia sendiri di depan gerbang kampusnya.
Kia yang sedang memegang jaket Zaki, hanya bisa berdiri sembari memandangi jaket yang ia pegangi itu.
“Aku belum sempat ngasih ke dia. Dia udah pergi aja kemarin,” gumam Kia, merasa sangat aneh dengan sikap Zaki kemarin.
Kia menghela napas, “Ya sudah, aku kasih sekarang aja deh,” gumamnya, yang lalu segera masuk ke dalam ruangan kampusnya.
Belum sampai ke kelasnya, lagi-lagi Adnan menghadang jalannya. Ia merasa risih, karena Adnan yang tidak jera untuk mendekatinya.
“Selamat pagi, Kia,” sapa Adnan dengan lembut, Kia hanya bisa memandangnya dengan kecut saja.
“Hmm ....” Kia hanya berdeham, malas meladeni Adnan yang tidak ada habisnya itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1