Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Pengganti


__ADS_3

Jawaban Zaki masih belum bisa dicerna oleh Kia.


“Gue masih belum ngerti,” ujar Kia, mencoba untuk mengerti apa yang Zaki katakan.


Zaki tersenyum mendengarnya, “Gak usah ngerti, gue gak mau lo jadi pusing mikirinnya,” ujarnya sembari tertawa kecil mengucapkannya.


Kia memandangnya dengan datar. “Gue kepo ih!”


“Gak usah kepo, nanti jadi mirip kebo,” seloroh Zaki, membuat Kia sedikit kesal mendengarnya.


“Apaan, sih?” gerutu Kia, membuat Zaki semakin tertawa saja mendengarnya.


“Udah, masuk gih. Udah terlalu malam. Anak gadis gak baik terlalu malam pulangnya,” suruh Zaki, Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.


“Sebelum gue masuk, lo mau gak nemenin gue ke time zone besok? Udah lama gak main time zone. Gue kangen banget main time zone,” ujar Kia.


Zaki memandangnya aneh, “Lo ... main time zone? Lo suka main time zone?” tanyanya, yang merasa aneh dengan apa yang Kia katakan.


“Ya, gue suka banget main time zone! Udah lama juga gak main!” jawab Kia dengan nada yang sangat bersemangat.


Zaki semakin heran karenanya. “Lo ... bukannya gak suka sama sekali main time zone?” tanyanya memastikan, membuat Kia berdebar mendengarnya.


‘Dia tau lagi kalau gue gak suka main time zone! Dia sebenarnya siapa, sih?’ batin Kia, merasa sangat aneh karenanya.


Seperti halnya Kia yang merasa aneh dengan Zaki, Zaki pun demikian adanya. Ia juga merasa sangat aneh, ketika ia mendengar Kia mengatakan kalau dia sangat suka bermain time zone. Banyak sekali keanehan yang Kia lakukan, sehingga membuat Zaki merasa sangat aneh ketika mendengarnya.


‘Dia aneh banget, sih? Kenapa ucapan dia bernegasi dengan apa yang udah Zain katakan? Kenapa mereka gak ada yang nyambung?’ batin Zaki, merasa sangat heran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Sejenak mereka sama-sama berdiam diri, tak ada yang bisa mereka katakan lagi, dan hanya bisa memikirkan tentang spekulasi mereka sendiri.


‘Masih belum terlalu yakin. Gue harus korek sedalam-dalamnya, sampai memang benar gue yakin kalau Zaki memang ada sangkut-pautnya dengan Zain,’ batin Kia, merasa harus melakukan hal yang membuatnya bertambah yakin dengan apa yang menjadi firasatnya.


“Ya udah deh, yang penting lo sekarang masuk. Jangan sampai bikin orang tua lo nyariin lo,” ujar Zaki, Kia mengangguk kecil mendengarnya.

__ADS_1


“Besok bisa temenin gue?” tanya Kia, Zaki mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, gue bisa temenin lo besok. Setelah istirahat pertama, gue udah gak ada kelas lagi,” jawab Zaki, seraya menjelaskan keadaannya kepada Kia.


Kia mengangguk kecil mendengarnya. “Kebetulan gue juga udah gak ada kelas. Cuma 2 SKS aja besok,” ujarnya.


“Oke, tunggu aja di kantin tempat biasa. Nanti setelah gue selesai, gue ke sana buat nemuin lo,” ujar Zaki, Kia mengangguk kecil mendengarnya.


“Siap.”


“Ya udah, sana gih masuk,” suruh Zaki, entah mengapa Kia tidak ingin meninggalkan Zaki secepat itu.


Bersama dengan Zaki, rasanya mirip ketika ia bersama dengan Zain. Ia merasa tidak ingin mengulang kesalahannya lagi, dan merasa tidak mengizinkan Zaki untuk pulang ke rumahnya.


“Zaki ... lo mau gak, gak usah pulang malam ini?” pinta Kia, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.


“Lho, kenapa gue gak boleh pulang?” tanya Zaki heran, Kia merasa firasatnya yang tidak enak terhadap keselamatan Zaki.


Zaki memandangnya heran. “Kenapa gue gak boleh pulang?” tanyanya, yang masih tidak menyangka dengan apa yang Kia inginkan.


“Gak bisa, jangan pulang pokoknya! Gue gak bisa ngomong ke lo alasannya,” tolak Kia, Zaki memandangnya dengan dalam.


“Ya minimal kasih tau alasannya, biar gue bisa pertimbangin mau pulang atau enggak,” paksa Zaki, yang merasa heran dengan apa yang menjadi maksud Kia.


Kia memandangnya sinis, “Jangan membantah! Gue gak mau lo pulang! Lo harus di sini!” bentaknya, membuat Zaki memandangnya dengan bingung.


“Terus kalau gue gak pulang, gue tidur di mana?” tanya Zaki, bingung dengan keadaannya.


“Ya, lo bisa tidur di kamar tamu, atau tidur di kamar kak Fikar,” jawab Kia, membuat semuanya menjadi mudah.


Zaki tidak bisa seperti itu. Sejak dulu, ia memang tidak senang berbagi kamar dengan orang lain. Ia tidak ingin tidur bersama dengan Fikar, karena memang sifatnya seperti itu sejak dulu. Ia lebih suka menyendiri, tanpa ingin ada siapa pun yang mengganggunya.


“Maaf Kia, gue lebih baik pulang aja. Gue gak mau merepotkan lo, dan keluarga lo. Lagipun gue sama sekali gak pernah berbagi kamar, dan lebih ingin menguasai tempat tidur sendiri,” tolak Zaki, membuat Kia merasa sangat sendu mendengarnya.

__ADS_1


“Tapi kalau sampai lo kayak Zai—” Kia langsung tersadar, karena ia tidak bisa mengutarakan apa yang terjadi pada Zain.


Kia membuang pandangannya, “Ya sudah, hati-hati di jalan,” ujarnya, membuat Zaki kebingungan karenanya.


“Ya sudah, gue pulang dulu ya,” pamit Zaki, Kia pun memandang ke arahnya dan mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, makasih untuk malam ini. Jangan lupa untuk besok,” ujar Kia, Zaki pun tersenyum sambil mengangguk kecil mendenganrya.


Kia pun keluar dari dalam mobil Zaki, lalu segera menutup kembali pintu mobil itu. Ia memandang kepergian Zaki, dengan tatapan yang sendu.


“Mudah-mudahan gak ada yang terjadi sama lo,” gumam Kia, merasa sangat khawatir dengan keadaan Zaki.


Kia pun masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat Ibu dan Ayahnya sedang menunggu kedatangannya, di ruang tamu. Ia merasa bingung, karena ia melihat wajah kedua orang tuanya yang terlihat sangat khawatir.


“Lho, Ibu sama Ayah kenapa masih di sini?” tanya Kia, yang merasa bingung melihat ekspresi mereka.


Mereka pun memandang dalam ke arah Kia, sembari bangkit dari tempat duduknya.


“Kamu nggak apa-apa ‘kan Kia? Ibu sama Ayah nungguin kamu dari tadi. Kenapa kamu nggak pulang awal, sih?” tanya Ayah, membuat Kia tersenyum mendengarnya.


“Makasih Ayah, Ibu, sudah khawatirin aku. Aku nggak apa-apa kok. Karena sekarang aku udah ada yang jaga,” ujar Kia, yang keceplosan mengatakan hal rancu dan ambigu seperti itu.


Mereka memandang Kia dengan heran.


“Siapa yang jagain kamu?” tanya Ibu, Kia pun merasa bingung harus mengatakan apa.


“Enggak deh, Bu. Bukan apa-apa,” tolak Kia, yang merasa tidak ingin mengatakannya kepada orang tuanya.


Mereka sejenak memandang dalam ke arah anaknya itu, membuat Kia merasa sangat malu mendapatkan tatapan itu dari mereka.


“Ada apa sih? Kok Ibu sama Ayah ngeliatin aku kayak gitu, sih? Aku ‘kan jadi bingung?” tanya Kia.


“Apa kamu sudah memiliki pengganti selain Zain?” tanya Ayah.

__ADS_1


__ADS_2