Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Tabir Pembatas


__ADS_3

Happy reading....


Kia masih saja menenggelamkan wajahnya pada boneka yang ia peluk, karena selain boneka ini, tidak ada lagi yang bisa menggambarkan sosok Zain.


Kia selalu menganggap boneka ini adalah Zain, ketika mereka tidak sedang bertemu. Ia selalu memeluk boneka itu, karena pelukan ternyaman setelah pelukan Zain, adalah pelukan boneka ini.


‘Andai aku tau, aku beneran gak akan pernah ngizinin dia pergi! Bodoh!’ batinnya, yang masih saja memaki dirinya sendiri.


Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Zain mendatangi apartemen lelaki asing, yang bisa melihat keberadaan dirinya.


Saat ini, ia sudah sampai di sekitar lelaki itu, yang sedang menyimpan motor besarnya di basement apartemennya.


Betapa terkejutnya Zain, karena ternyata lelaki itu memiliki apartemen yang sama, dengan dirinya.


Zain menatap ke arah lelaki tersebut, ‘Ah, ternyata tempat tinggalnya sama dengan saya,’ batinnya, yang merasa hal ini merupakan hal yang sangat kebetulan.


Ketika melihat lelaki itu pergi, Zain pun memejamkan matanya kembali, kemudian menghilang dari sana.


Lelaki itu segera melangkah ke lobi, lalu masuk ke dalam lift, dan menunggu lift mengantarkannya ke ruangan kamar apartemennya.


Beberapa saat menunggu, lelaki itu sudah sampai pada lantai, tempat kamarnya berada. Ia keluar dari sana, untuk menuju ke arah ruangan kamar apartemennya.


Lelaki itu berhenti pada pintu kamar sebelah kamar Zain, membuat Zain agak bingung melihatnya.


‘Ternyata dia tetanggaan sama saya? Kenapa bisa sampai gak sadar, sih?’ batin Zain, yang merasa sangat aneh dengan keadaan ini.


Karena pekerjaan dan kesibukan keduanya, mereka sama sekali tidak pernah berpapasan, ketika hendak memasuki kamar mereka. Itulah mengapa mereka tidak saling mengenal, walaupun mereka berada pada ruangan kamar yang bersebelahan.


Lelaki itu masuk ke dalam kamar, dan dengan cepat menutup pintu ruangan apartemennya. Tak memerlukan bantuan untuk membukakan pintu ruangan, Zain sudah bisa menembus masuk, ke dalam ruangan tersebut.


Zain melangkah masuk, dan melihat lelaki itu yang sedang membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia terlihat lelah, dan hanya memejamkan matanya saja.


Zain berdiri di hadapan lelaki itu, menunggu dengan sabar hingga lelaki itu membuka matanya.


Matanya ia edarkan ke segala sisi ruangan, tetapi ia tak menemukan benda apa pun yang menurutnya aneh. Hal itu semakin membuat Zain yakin, kalau lelaki itu tidak ada hubungannya dengan penjahat atau semacamnya.

__ADS_1


L


Beberapa saat Zain menunggu, Zain masih tidak melihat pergerakan lelaki ini, untuk bangun dari tidurnya. Ia tertidur di atas sofa, dengan tubuh yang menyadar, terlihat seperti orang yang sedang kelelahan.


‘Lelah sekali kelihatannya,’ batin Zain, yang lalu segera pergi dari sana.


Paling tidak, Zain sudah mengetahui, di mana tempat tinggal lelaki itu. Saat ini, Zain sudah sampai di rumah Kia. Hanya dengan memejamkan matanya saja, ia sudah bisa datang ke tempat mana pun, yang ia inginkan.


‘Gak perlu pakai mobil lagi, kalau mau ke rumah Kia,’ batinnya yang merasa sangat senang dengan keadaannya sekarang.


Namun, tetap saja, Zain tidak akan senang karena mereka saat ini yang sudah berbeda alam.


Zain menghela napasnya dengan dalam.


“Tetap saja, walaupun semuanya sudah mudah, tapi kita sudah beda alam. Saya bahkan tidak bisa memeluknya seperti dulu,” gumamnya, yang merasa sangat sendu dengan apa yang terjadi padanya saat ini.


Karena sudah sangat rindu dengan Kia, Zain pun menutup matanya kembali, agar bisa sampai di kamar Kia.


Ketika Zain sudah membuka matanya, ia sudah sampai di kamar Kia. Pandangannya ia edarkan, mencari keberadaan Kia di ruangannya itu. Ternyata, Kia sedang tertidur pulas sembari memeluk boneka pemberiannya.


“Kia ... aku rindu kamu,” gumam Zain lirih, sembari tetap melihat ke arah Kia yang masih tertidur pulas itu.


Beberapa saat memandangi Kia, Zain merasa sangat rindu. Rindunya semakin tak tertahankan, membuatnya ingin sekali memeluk dan mengecup kening Kia.


Oh ... Tuhan.


Zain sama sekali tidak memiliki kesempatan, untuk melakukannya. Ia melangkah ke arah Kia, dengan langkah kecilnya, berusaha untuk tidak membangunkan Kia, yang saat ini sudah tertidur dengan sangat pulas.


Padahal, Zain tidak perlu melakukan hal itu, karena langkah kakinya pun tidak terdengar oleh Kia.


Zain melihat dan menatap wajah Kia dengan dalam, berusaha untuk menahan perasaan sendunya.


Tangannya ia ulurkan ke arah kepala Kia, tetapi ternyata lagi-lagi ia tidak bisa menyentuh Kia sedikit pun. Ia hanya bisa menahan perih, dan harus menerima kenyataan pahit ini.


Terlihat Kia yang masih mengeluarkan air matanya. Walaupun sudah terlelap, tetapi Kia masih saja mengeluarkan air matanya itu. Terlihat sangat jelas kesedihan yang ia rasakan, membuat Zain juga merasa sedih karenanya.

__ADS_1


“Jangan sedih, Sayang. Aku ada di sini. Aku gak ke mana-mana, ada di samping kamu,” ujar Zain dengan lirih, sembari berusaha menahan air matanya.


Jangan sampai air matanya mengalir, dan menetes di atas wajah Kia.


Padahal, semua itu tidak akan pernah terjadi, karena mereka yang sudah tidak bisa bersentuhan langsung.


Kerutan di kening Kia perlahan menghilang, karena kehadiran Zain yang membuat Kia menjadi sangat nyaman.


Sepanjang malam Zain menemani Kia, tak ingin meninggalkannya lagi. Hanya momen seperti ini, yang bisa membuat Zain bisa bersama dengan Kia sepanjang malam.


Zain tidak memejamkan matanya sama sekali, karena ia tidak ingin melewatkan momen seperti ini.


Sampai tiba waktunya sang Fajar terbit, Zain merasa harus pergi dari sana, karena tidak kuat melihat sinar matahari pagi yang menyilaukan.


Keadaannya saat ini masih belum bisa dikondisikan, karena ia masih belum terbiasa dengan kondisi dirinya saat ini.


Zain menghilang, tak meningucapkan sepatah kata pun kepada Kia. Kepergian Zain ternyata membuat Kia terbangun, karena kehangatan yang ia rasakan tiba-tiba saja menghilang, sehingga dapat mengusik tidurnya yang lelap itu.


Pandangannya membuka lebar, mengabsen setiap sisi ruang kamarnya. Tidak ada yang berbeda dengan keadaan di sekelilingnya. Namun, Kia bisa merasakan kehangatan milik Zain, di sepanjang malamnya.


Kia bangkit dan duduk di atas ranjang tidurnya. Keningnya mengerut, karena memikirkan kehangatan yang menemaninya semalaman.


“Seperti ada yang menemani semalaman?” gumam Kia, yang memang merasakan hal seperti itu semalaman.


Memang, mereka memiliki ikatan perasaan yang saling bertaut. Walaupun masih ada tabir yang menghalangi ikatan mereka, tetapi pada dasarnya mereka memang sudah berada pada perasaan yang sama.


Satu merasa bahagia, satu lainnya pun ikut merasakan. Begitu juga sebaliknya.


“Apa Zain tadi malam menemani di sini?” gumam Kia, berpikir demikian.


Hampir selalu benar, setiap tebakan dan firasat Kia yang ia pikirkan tentang Zain. Namun sekali lagi, masih ada tabir pembatas antara firasat dan perasaan Kia terhadap Zain.


Tabir pembatas itu ialah takdir mereka.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2