
Kia mendadak merasa sedih mendengarnya, karena sebenarnya Kia masih belum bisa melupakan Zain hingga saat ini. Ia juga tidak ingin membahasnya, karena ia yang tidak mau kembali mengingat Zain lagi untuk saat ini.
“Ayah ... tolong jangan bicarain itu sekarang. Kia baru sampai lho di rumah. Aku capek, mau istirahat. Aku nggak bisa ngomongin itu sekarang,” ujar Kia, yang merasa sangat tidak selera saat ini.
Mereka hanya memandang Kia dengan tatapan heran, karena mereka juga membutuhkan jawaban secepatnya dari Kia. Namun, karena melihat keadaan Kia yang seperti ini sekarang, mereka pun mengerti dan tidak bertanya banyak tentang Zain.
“Ya sudah, masuk ke dalam kamar aja. Istirahat ya,” ujar Ibu. “Besok ada acara nggak?” tanya Ibu, yang mengerti keadaan anaknya.
Kia mengangguk kecil mendengarnya. “Ya, besok ada acara sama temen, tapi cuma sekadar main, jalan-jalan aja ke mall,” jawab Kia seadanya, yang memang benar besok dirinya dan Zaki akan pergi ke mall, untuk bermain Timezone.
“Ya sudah, kamu istirahat saja ya di kamar,” ujar Ayah, membuat Kia mengangguk kecil mendengarnya.
Namun, ada hal yang mengganggu Kia saat ini. Karena ia tidak melihat kakaknya di sekitarnya.
“Ke mana Kak Fikar?” tanya Kia yang merasa bingung, karena tidak melihat Fikar seperti biasanya.
“Belum pulang, belum juga ada kabar,” jawab Ayah, membuat Kia merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakaknya.
“Lho, kenapa gitu? Biasanya ‘kan kakak udah pulang jam segini?” tanya Kia, yang merasa heran dengan kebiasaan Fikar, yang kali ini tidak ia lihat.
“Mungkin dia ada klien yang harus ditemui, atau ada perjanjian kerja sama yang tidak bisa ditunda, sehingga harus melakukan pertemuan,” sahut Ayah, tetapi Kia masih tidak percaya dengan hal itu.
“Ah, mana mungkin? Ini kali pertama lho kakak begini? Biasanya tetap kasih kabar, dan memastikan kapan dia mau pulang,” bantah Kia, tetapi ayahnya bingung tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Kia.
__ADS_1
Karena memang pada dasarnya, ayahnya tidak mengetahui di mana Fikar berada.
“Ayah nggak tahu ke mana Fikar pergi. Biasanya sih Fikar ngabarin Ayah atau Ibu, tapi sekarang kenapa dia nggak ngabarin? Ayah nggak tahu, mungkin handphone-nya lowbat atau gimana ‘kan, Ayah juga nggak tahu. Itu cuma dugaan Ayah aja,” ujar Ayah menjelaskan kepada Kia.
Kia pun merasa hal itu ada benarnya juga, karena memang sejak awal ayahnya sudah mengatakan bahwa dia tidak mengetahui keberadaan Fikar. Ia jadi tidak bisa mengatakan apa pun lagi, untuk ia tanyakan kepada ayahnya.
“Ya udah deh kalau gitu, nanti Kia yang nanya sendiri langsung ke Kak Fikar,” ujarnya yang lalu segera pergi menuju ke arah kamarnya, yang ada di lantai 2 rumahnya.
Sementara itu, Zaki yang baru saja pulang dari rumah Kia, melajukan kendaraannya dengan sangat cepat. Karena jalanan yang sepi, Zaki pun merasa tidak khawatir ketika harus menggunakan kecepatan tinggi seperti ini.
Ia merasa baik-baik saja, sebelum akhirnya ia hampir menabrak seseorang yang melintas di hadapannya.
Matanya mendelik kaget, ketika melihat seorang wanita melintas di hadapannya, tanpa melihat ke arah ia berada. Dengan sangat reflek, Zaki pun akhirnya menginjak pedal rem dan ketika kendaraannya sudah berada di hadapan wanita itu, hanya berbeda beberapa senti saja, akhirnya mobilnya pun berhenti melaju.
Jantungnya terpompa dengan cepat, sehingga membuat Zaki merasa kaget bukan kepalang. Ia berusaha mengatur napasnya, dan mengusap dadanya yang terasa seperti hampir meledak itu.
Ketika Zaki menyadari dan memandang ke arah hadapannya, wanita itu pun sudah tidak ada. Karena rasa penasarannya, ia pun akhirnya keluar dari mobilnya untuk mencari keberadaan wanita tersebut.
‘Di mana wanita itu? Bukannya tadi ada di sini?’ batin Zaki, yang tetap mencari keberadaan wanita itu.
Namun, bukannya wanita itu yang ia temui, malah segerombolan lelaki yang ia lihat di hadapannya. Matanya langsung tertuju kepada mereka, karena saat ini mereka sedang berdiri di hadapannya, sembari memegang senjata tumpul. Hal itu cukup membuat Zaki resah.
“Siapa kalian?” tanya Zaki, yang merasa agak takut melihat mereka yang membawa tongkat baseball.
__ADS_1
Mereka menampilkan dirinya dengan sombongnya, membuat Zaki merasa sangat kesal melihat tampang mereka satu per satu.
“Lo nggak usah tahu siapa kita. Yang lo harus tahu sekarang, jauhin Kia! Jangan sampai lo dekat-dekat sama Kia, atau—”
“ ... atau apa?” tanya Zaki, memangkas ucapannya.
“Kita semua akan ngasih pelajaran ke lo!” ancam salah satu dari berandal tersebut, yang diketahui adalah ketua geng tersebut.
Mendengar ancaman dari ketua geng itu, bukannya takut, Zaki pun malah menantangnya. Karena ia mengetahui ini semua ada sangkut-pautnya dengan Kia. Ia tidak bisa melakukan apa yang brandal ini suruh, karena menjaga Kia adalah tugas baginya.
Zaki pun tertawa kecil mendengarnya. “Ngejauhin Kia? Hahaha ... lo pikir gue takut sama ancaman lo?” tantang Zaki, membuat mereka semua tertantang mendengarnya dan mempersiapkan senjata mereka masing-masing.
“Jadi lo sama sekali nggak takut sama kita, hah?” tanya salah satu berandal itu.
Zaki meludah di hadapan mereka, “Nggak akan gue takut sama brandal busuk kayak kalian!” cela Zaki, membuat mereka tertantang untuk segera menghabisi nyawa Zaki.
“Si_alan! Bocah itu ... beraninya dia melakukan itu!” bentak salah satu dari berandal itu.
“Ayo, apa yang kalian tunggu? Cepat habisi dia, jangan sampai ada yang tersisa sedikit pun dari dirinya!” suruh ketua geng tersebut.
Mereka pun segera menyerang Zaki, membuat Zaki merasa tertantang dan siap untuk menunjukkan keahlian bela dirinya. Mereka menyerang dengan membabi buta, tetapi Zaki bisa menepis serangan mereka satu per satu, sehingga serangan mereka mengenai rekan mereka sendiri.
Ketika ada yang hendak memukul wajah Zaki, Zaki pun menunduk sehingga berandal itu mengenai wajah rekannya yang ada di belakang Zaki. Ketika berandal itu berhasil mengenai wajah rekannya, Zaki pun menendang rekan yang terkena pukulan itu, dengan melakukan tendangan belakang kemudian dia kembali pada posisinya dan segera menghajar berandal yang berada di sebelah kirinya.
__ADS_1
Tak habis di sana, berandal yang ada di hadapannya tadi hendak memukulnya kembali. Akan tetapi lagi-lagi Zaki menghindar dan ternyata pukulan berandal itu mengenai sebuah pohon, sehingga membuat berandal itu kesakitan.
Merasa sudah menyelesaikan beberapa brandal, Zaki pun terjun ke dalam sekelompok brandal yang masih belum melakukan apa pun terhadapnya. Ia meraih kerah baju mereka yang berada di samping kiri dan kanan, kemudian menariknya dengan kencang, sehingga kepala mereka satu sama lain beradu membuat mereka pun tumbang karenanya.