
Zifa merasa sangat malu, dan tidak bisa melakukan apa pun. Ia hanya meminta Fikar untuk segera berangkat ke kampus.
“Cepat berangkat! Nanti aku telat, kamu juga telat masuk ke kantor. Emangnya kamu mau telat?” ujar ketus Zifa, membuat Fikar tersenyum mendengarnya.
“Iya, ayo kita berangkat sekarang. Nanti, tunggu aku jemput kamu ya,” ujar Fikar.
“Gak usah, aku bisa pulang sendiri!” tolak Zifa ketus, membuat Fikar menghela napasnya dengan panjang.
“Aku khawatir sama kamu. Jangan sampai terjadi apa pun sama kamu. Aku khawatir kejadian yang menimpa Zaki, juga menimpa kamu nantinya,” ujar Fikar, membuat Zifa memandangnya dengan tatapan yang sinis.
“Jangan ngomong begitu, dong! Omongan adalah doa, lho!” bentak Zifa, Fikar memandangnya sendu.
“Makanya, harus dihindari. Jangan sampai kejadian itu terjadi sama kamu,” ujar Fikar, membuat Zifa menghela napasnya dengan panjang.
Karena sudah tidak ada waktu lagi, Zifa pun terpaksa meng-iya-kan apa yang menjadi ucapan Fikar. Ia tidak ingin jika Fikar sampai mengulur waktunya lebih lama lagi, karena hal itu akan membuatnya sangat terlambat menuju ke kampusnya.
“Ya udah deh, terserah kamu aja mau gimana juga,” ujar Zifa, membuat Fikar tersenyum mendengarnya.
“Ya udah, ayo kita jalan!” ujar Fikar, yang lalu segera menjalankan mobilnya untuk menuju ke kampus Zifa.
***
Saat mereka sampai di kampus, mereka pun segera berpisah dengan Fikar yang malu-malu memperhatikan Zifa. Tak hanya Fikar, Zifa pun sama demikian. Ia pun memperhatikan Fikar, agar hati-hati dan bisa menjaga keselamatannya saat berkendara menuju ke arah kantor.
“Hati-hati di jalan,” ujar Zifa malu-malu, membuat Fikar pun tersenyum mendengarnya.
“Kamu juga ya, hati-hati nanti masuk ke dalam kelasnya,” ujar Fikar, membuat Zifa malu mendengarnya.
“Apa sih? Kampus ada di depan mata, kenapa pakai hati-hati segala?” protes Zifa, Fikar tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Entahlah, kita harus hati-hati, di mana pun kita berada,” ujar Fikar, yang memang ada benarnya juga sampai Zifa tidak bisa membantah ucapannya itu.
“Ya udah, aku turun,” pamit Zifa, Fikar pun mengangguk dan tersenyum mendengarnya.
Mereka pun berpisah di sini, dan Zifa masuk ke dalam kampus.
Langkahnya tiba-tiba saja terhenti, ketika ia hendak melewati gerbang kampus. Ia melihat Adnan, yang saat ini ada di hadapannya, membuatnya merasa risih melihatnya.
‘Ngapain sih dia ada di situ? Ganggu pemandangan aja!’ batin Zifa.
Zifa pun tak menghiraukan, dan segera melewati Adnan. Lalu ia segera pergi menjauh darinya. Namun, Adnan yang memang sedang mencari Kia, lalu menghentikan langkahnya.
“Zifa!” panggil Adnan, membuat Zifa menghentikan langkahnya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Adnan menahan lengan tangan Zifa, membuat Zifa merasa risih karenanya. “Ngapain sih lo megang-megang tangan gue? Lepasin nggak!” bentak Zifa, yang merasa kesal dengan Adnan, yang tiba-tiba saja menahan lengan tangannya.
Zifa pun yang kesal, langsung menarik tangannya, sehingga tangannya terlepas dari tangan kanan Adnan.
“Ya udah sih, nggak usah galak-galak! Gue cuman mau nanya, ke mana Kia? Kenapa dia dari tadi gue tunggu nggak dateng? Apa dia sakit atau gimana?” tanya Adnan, yang merasa penasaran dengan keadaan Kia.
Zifa pun memandang Adnan dengan tatapan sinis, “Itu bukan urusan gue! Gue nggak tahu, karena gue belum kontekan sama sekali sama Kia. Gue juga ‘kan nggak tinggal satu rumah sama Kia, jadi gue nggak tahu Kia itu masuk atau enggak. Harusnya lo cek langsung dong ke rumahnya, jangan tanya sama gue!” jawab Zifa dengan sinis, membuat Adnan merasa kesal mendengarnya.
“Nggak bisa gitu dong, Zifa! Lo ‘kan temennya Kia! Jadi harusnya lo tahu keberadaan Kia dan keadaan dia saat ini! Gue nggak mungkin langsung ngecek ke rumahnya, karena gue bukan siapa-siapa Kia,” ujar Adnan membuat Zifa menyeringai mendengarnya.
“Itu lo tahu kalau lo bukan siapa-siapanya Kia. Terus kenapa lo setiap hari nyariin dia, sampai lo neror gue sekarang, cuman buat tanya keadaannya Kia? Emangnya lo siapanya Kia?” tanya sinis Zifa, membuat Adnan terdiam mendengarnya.
Karena merasa tidak bisa mengatakan apa pun lagi, Adnan pun hanya bisa diam dan Zifa segera pergi dari sana.
“Ya udah, gue mau ke kelas dulu,” pamit Zifa, yang lalu segera pergi dari hadapan Adnan.
__ADS_1
Adnan merasa sangat kesal, karena ia tidak mendapatkan informasi apa pun dari Zifa.
Adnan memandang ke arah hadapannya dengan sinis, karena ia merasa ucapan Zifa yang terlalu kasar baginya.
“Kenapa dia kasar banget sih ngomongnya? Emangnya dia nggak takut sama gue? Kenapa cewek itu dari dulu nggak pernah jaga sikapnya dia? Zifa ataupun Kia, sama saja! Nggak pernah yang namanya bersikap lembut sedikit di hadapan gue!” gerutu Adnan, yang merasa bingung dengan mereka.
Adnan tiba-tiba saja mendelik, “Apa jangan-jangan ... Kia sekarang ada di rumah sakit buat nemenin Zaki? ‘Kan bisa aja ‘kan?” gumam Adnan, yang merasa sangat kesal jika memang hal itu benar terjadi.
“Nggak bisa! Gue harus ke rumah sakit sekarang dan harus ketemu sama Kia! Masa hal kayak begini, malah bikin mereka makin deket sih?” gumam Adnan yang merasa tidak mengerti lagi dengan apa yang harus ia lakukan.
Karena tidak bisa mendapatkan informasi apa pun, Adnan pun segera pergi dari sana untuk masuk ke dalam kelasnya.
Sementara itu, ketika Adnan hendak masuk ke dalam kelasnya, ia melihat ke arah taman, yang ternyata di sana ada seseorang yang ia kenal, yaitu Zura.
Zura memang setiap hari duduk di taman kampus, sebelum memasuki kelasnya. Karena Adnan yang merasa penasaran dengan keadaan Kia, ia pun mendekati Zura untuk menanyakan kabar Kia padanya. Mengingat Kia adalah sepupu dari Zura.
“Zura!” panggil Adnan.
Zura yang sedang ingin menyantap makanannya, langsung memandang sinis ke arah Adnan, yang baru saja datang di hadapannya.
“Kenapa lo manggil-manggil gue?” tanya sinis Zura, Adnan pun duduk di sebelahnya dengan pandangan yang sinis.
Mereka saling memandang dengan tetapan sinis, membuat Adnan merasa resah karenanya.
“Nggak usah sinis-sinis gitu kek! Gue itu cuman mau nanya ke lo. Lo tau nggak kenapa Kia nggak dateng ke kampus?” tanya sinis Adnan, membuat Zura merasa kesal mendengarnya.
“Gue nggak tahu! Kenapa lo nanya sama gue? Emangnya gue siapanya dia?” tanya sinis Zura.
“Bukannya lo sepupuan sama Kia, ya? Lo harusnya tahu dong, di mana Kia sekarang berada?” tanya Adnan, yang memaksakan kehendak kepada Zura.
__ADS_1
Namun, Zura yang tidak dekat sama sekali dengan Kia, hanya bisa memandangnya dengan sinis.