
Happy reading....
Pandangannya nanar ke arah Kia, ia hendak meraih tangan Kia, tetapi seperti tadi, Zain bahkan tidak bisa menyentuhnya. Karena tak bisa menahannya, Zain hanya bisa melihat kepergian Kia dan juga Fikar.
Lelaki itu pun melongo kaget, karena yang ia lihat adalah Zain yang merupakan arwah gentayangan.
Pandangan Zain memandang ke arah lelaki itu, dan kaget melihat ke arah lelaki itu, yang sedang memandangnya dengan pandangan yang nanar.
Lelaki itu menunjuk dengan pandangan tak percaya, “Kamu ... sudah meninggal?” tanyanya, Zain berusaha untuk mengembalikan kesadarannya.
“Ya, saya sudah meninggal,” jawab Zain.
Sejujurnya, Zain tidak ingin menjawab pertanyaan lelaki asing ini. Ia tidak ingin bercengkerama dengan orang lain, karena dirinya yang masih sangat terpukul sudah terpisah dengan orang yang ia cintai.
Lelaki itu kaget, dan merasa sangat tidak percaya dengan hal yang ia dengar.
“Masa kamu sudah meninggal? Kenapa saya bisa lihat kamu?” gumamnya, sembari menunduk tak percaya.
Zain menghela napasnya dengan panjang, “Saya juga sangat tidak percaya,” jawabnya seadanya, karena ia tidak mengetahui apa pun lagi untuk ia katakan padanya.
Melihat lelaki itu yang sedang memegang sebuket bunga di tangannya, Zain merasa bingung dengan apa yang lelaki itu lakukan di sini.
“Mau apa kau di sini?” tanya Zain.
Masih tak percaya dengan keadaan mereka itu, lelaki itu berusaha untuk menerima keadaan. Perasaan takut tetaplah terasa, tetapi ia memberanikan diri untuk berbincang dengan Zain, karena sosok fisik Zain yang terlihat sangat baik dibandingkan arwah lainnya.
“Saya ... sedang mengunjungi makam teman,” jawab lelaki itu, membuat Zain mengangguk kecil mendengarnya.
Lelaki itu segera melangkah ke arah sebuah makam, yang ternyata berada persis di sebelah makam Zain.
Zain terus memperhatikan ke arah lelaki itu, yang sepertinya sangat khusyu memanjatkan doa, di hadapan makan temannya itu.
Setelahnya, lelaki itu mencabut setangkai bunga yang ia pegang, dan memandang ke arah Zain.
“Ini makam kamu?” tanyanya, Zain mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
Lelaki itu pun meletakkan setangkai mawar tersebut, pada nisan Zain, membuat Zain terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
‘Ternyata dia orang baik-baik,’ batin Zain yang bisa merasakan, pribadi lelaki itu yang terlihat sangat baik.
“Saya permisi,” ujar lelaki asing itu, yang segera pergi melewati Zain di sana.
Sunyi, sepi, hanya sendiri Zain di tanah seluas ini. Ia merasa sangat sepi, karena ia tidak bisa melakukan apa pun lagi di sini.
‘Apa yang harus aku lakukan di sini?’ batin Zain, yang benar-benar tidak mengerti dengan kehidupannya baru, yang ia jalani saat ini.
Zain masih bisa melihat lelaki itu, yang masih berada di hadapannya. Ia memandang tajam ke arahnya, karena ia merasa harus ikut dengan lelaki itu.
“Aku harus ikut lelaki itu. Cuma dia yang bisa melihat aku,” gumam Zain, yang lalu segera berjalan cepat ke arah lelaki itu.
Sementara itu, lelaki itu melangkah dengan sangat cepat. Ia tidak ingin berlama-lama di sana, karena ia tidak ingin malam tiba lebih dulu, sebelum dirinya sampai ke kediamannya.
Lelaki itu naik ke motor besarnya, kemudian segera pergi dari tempat pemakaman tersebut, untuk menuju ke arah kediamannya.
Zain memandang lelaki itu yang sudah pergi jauh. Ia memejamkan matanya, dan tiba-tiba saja ia menghilang dari sana.
.
.
Mereka masuk ke dalam rumah mereka, dengan langkah yang pelan. Sampailah mereka di ruangan tamu rumah mereka. Pandangan Kia menatap ke arah dekorasi, yang masih menempel pada tempatnya, tak bergeser satu apa pun dari sebelumnya.
Bunga-bunga dan hiasan tersebut, membuat Kia merasa sangat sendu. Ia memandangnya dengan dalam, semakin dalam, sampai hendak mengeluarkan air mata karenanya.
Fikar yang melihatnya pun ikut merasa sedih, karena ia sangat mengetahui dengan jelas, effort yang Kia lakukan, untuk menghias ruangan ini sedemikian rupa, agar bisa terlihat seperti yang sekarang mereka lihat.
Fikar mengusap bahu Kia, “Mandi dulu ya, kamu istirahat dulu,” ujarnya, membuyarkan lamunan Kia.
Kia menghela napasnya dengan panjang, karena merasa sangat sedih, tetapi dipaksa untuk bersikap tegar di hadapan mereka.
Kia melangkah ke arah kamarnya, dengan pandangannya yang tetap ke arah ruangan tersebut.
__ADS_1
Memang, siapa pun akan merasa sangat sedih, jika kehilangan orang yang mereka cintai. Apalagi, Kia kehilangan Zain, tepat di hari pertunangan mereka.
Sakit, memang sakit. Namun, Kia harus menjalani kehidupannya lagi, meskipun tanpa adanya Zain di sisinya.
Sampailah Kia di kamarnya, tempat ia mencurahkan setiap perasaannya, ketika sedang berbincang mesra melalui telepon, bersama dengan Zain.
Ingatan itu selalu teringat dengan jelas, karena Kia yang memang tidak bisa melupakannya.
Bukan tidak bisa, Kia memang tidak berniat melupakan apa pun tentang Zain. Ia tidak sanggup, melupakan segala sesuatu yang menyangkut tentan Zain.
Fikar membuka lampu ruangan kamar Kia. Seisi ruangan terlihat dengan jelas, membuat Kia bisa melihat boneka pemberian Zain itu.
Mendadak Kia merasa sangat sedih kembali, karena ia yang merasa benar-benar tidak bisa kehilangan Zain. Hatinya hancur, ketika melihat barang-barang pemberian Zain yang masih ada di sekitarnya.
Matanya menggenang kembali, Kia mencoba untuk menutupi wajahnya, saking sedihnya ia.
Lagi-lagi, Fikar sama sekali tidak bisa berbuat apa pun untuk Kia. Ia tidak pernah merasakan kehilangan orang yang ia cintai, tetapi ia ikut merasakan rasa sedih yang adiknya alami saat ini.
Fikar mengelus lembut rambut Kia, “Kia ... sekarang mandi dulu, ya. Kakak siapin makan malam untuk Kia,” ujarnya, berusaha untuk membujuk Kia.
Kia berusaha menahan tangisnya, dan langsung melangkah ke arah ranjang tidurnya.
Dipeluknya boneka pemberian Zain tersebut, kemudian ia menumpahkan tangisnya pada boneka tersebut.
Karena merasa iba dengan keadaan Kia, Fikar hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, lalu segera menutup rapat ruangan kamar Kia. Fikar meninggalkan Kia, memberikan waktu untuk Kia menyendiri.
Rasa marah yang Kia rasakan saat ini, tidak tahu harus dilimpahkan pada siapa. Kia ingin marah, tetapi ini memang sudah ketentuan Tuhan untuk mereka.
Kia hanya bisa pasrah, sembari memaki dirinya sendiri dalam hati.
‘Kenapa bisa aku bodoh banget?! Kenapa aku gak larang Zain untuk pergi? Kenapa masih aku biarin Zain pergi dari sini kemarin? Harusnya aku paksa dia tinggal, karena ucapan dia yang udah merupakan tanda kepergiannya,’ batin Kia, yang merasa sangat bodoh dalam hal ini.
Padahal sudah jelas, tetapi Kia seakan tidak menyadari pertanda yang diberikan lewati perkataan Zain, kemarin sore.
BERSAMBUNG......
__ADS_1