
Happy reading.....
Mereka mengangguk paham, kemudian segera pergi dari sana, dan menyerahkan semuanya pada Fikar.
Fikar menghela napasnya panjang, berusaha untuk melihat situasi dan kondisi.
Diketuknya pintu ruangan kamar Kia, membuat Kia yang sedang menangis, segera menghapus air matanya.
“Kia, ini Kakak. Boleh Kakak masuk ke dalam?” tanya Fikar, yang sebenarnya merasa sangat ragu mengatakannya.
“Masuk aja, Kak.”
Mendengar Kia yang sudah memberikan izin, Fikar pun segera masuk ke dalam ruangan kamar Kia, dengan sangat berhati-hati karena membawa makanan di tangannya.
Terlihat Kia, adiknya yang sangat ia sayangi masih saja menangisi kepergian calon suaminya. Fikar sangat mengerti, memang berat kehilangan orang yang dicintai, apalagi orang tersebut pergi tepat di saat hari bahagia mereka.
Fikar memandangnya dengan dalam, “Kia ... Kakak bawa makanan buat Kia. Kia makan dulu, ya?” rayunya, tetapi Kia sama sekali tidak merespon apa pun yang Fikar ucapkan.
Sekali lagi, Fikar menghela napasnya.
“Kia ... Kakak udah bawain makanan buat kamu. Setidaknya, kamu makan sedikit, biar kamu gak sakit,” rayu Fikar lagi, tetapi Kia hanya menggelengkan kepalanya saja.
Fikar meletakkan makanan tersebut pada nakas, lalu segera duduk di sebelah Kia. Ia memandang dengan dalam ke arah adiknya yang malang itu, karena ia merasakan rasa sakit yang Kia derita.
Tangannya menyentuh punggung tangan Kia yang dingin, membuatnya semakin iba mengetahuinya.
“Tangan kamu dingin banget. Kamu belum makan, kamu harus makan, ya?” bujuknya lagi.
Kia memandangnya dengan air mata yang sudah mulai mengalir, “Aku gak mau makan, Kak! Jangan paksa aku buat makan! Semua itu gak ada gunanya sama sekali!” ujarnya, yang sudah mulai berkata aneh-aneh.
Fikar tidak terima mendengarnya, “Kenapa gak ada gunanya sama sekali? Kamu itu harus makan, buat ngelanjutin hidup kamu. Jangan malah seperti ini. Jalan kamu masih panjang, Kia ....”
Fikar berusaha untuk membujuk Kia, tetapi lagi-lagi Kia menjadi seperti sebuah mangkuk yang tertutup. Sebanyak apa pun air mengalir membasahinya, tetap tidak akan pernah masuk ke dalam mangkuk tersebut.
__ADS_1
“Apanya yang mau dilanjutkan lagi, Kak? Aku udah gak ada apa-apanya tanpa Zain. Aku udah gak bisa ngapa-ngapain lagi sekarang! Aku gak bisa tanpa Zain, Kak!” ujar Kia, dengan tatapan mata yang sangat sinis.
Fikar mendelik kaget, mendengar ucapan adiknya yang seperti itu.
Fikar memandangnya dengan tegas, “Kia, jangan bicara seperti itu. Kamu harus bisa melanjutkan hidup, walaupun tanpa Zain! Kamu masih muda, Kia. Masih banyak yang bisa kamu kerjakan, dan masih banyak orang yang bisa kamu jadikan tempat berlabuh,” ujarnya panjang lebar, Kia semakin menatapnya dengan sinis.
“Kakak enak bicara seperti itu, karena Kakak gak ngerasain rasanya jadi aku! Aku yang udah kehilangan Zain, untuk selamanya. Kakak kehilangan siapa? Kakak gak pernah ngerasain kayak aku! Jadi, stop bicara hal yang gak bisa aku lakukan!” bentak Kia, tangisannya semakin deras karena mengatakan hal seperti ini.
Mendengar bentakan Kia, Fikar tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia hanya bergeming, sembari memandang sendu ke arah adiknya itu. Fikar menoleh ke arah nakas, dan segera mengambil piring berisi makanan, yang sudah disiapkan untuk Kia.
Fikar mengulurkan makanan yang sudah ia sendok ke arah Kia, “Ayo, Kakak suapin,” ujarnya dengan penuh kelembutan.
Perbuatan Fikar seakan memaksa Kia untuk melahap makanannya, dan itu sangat tidak disukai Kia.
Kia menatap sinis ke arah Kakaknya, “Kak, aku gak mau makan! Kalau Kakak mau lihat aku makan, tolong datangin Zain ke sini sekarang juga!” ujarnya dengan tegas, sontak membuat Fikar memandangnya dengan bingung.
Fikar sama sekali tidak mengerti lagi, dengan apa yang Kia pikirkan.
“Kakak gak ngerti lagi, Kia. Apa yang sebenarnya kamu pikirin, sih? Kamu boleh sedih, tapi gak usah sampai mengorbankan semuanya gitu, dong!” bentak Fikar, dengan nada yang sudah mulai meninggi.
“Mm ... maaf Kia, Kakak---”
“Gak apa-apa kok, Kak! Udah biasa!” pangkas Kia dengan ketus, membuat Fikar semakin merasa bersalah padanya.
Terdengar suara bel berbunyi. Fikar terdiam sejenak untuk memastikannya, dan ternyata bel tersebut berbunyi beberapa kali lagi. Ia sudah yakin, kalau di luar sana sudah ada seseorang yang berkunjung ke rumahnya ini.
“Kakak buka pintu dulu,” ujar Fikar, tetapi Kia sama sekali tak menghiraukan.
Fikar pun melangkahkan kakinya ke arah pintu rumahnya. Ia membukakan pintunya untuk seseorang di sana.
Ketika sudah membuka pintu rumahnya, terlihat sosok lelaki yang asing baginya, sedang membawa sebuket bunga dan juga bungkusan di tangannya.
Fikar memandanginya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
“Siapa ya? Mau cari siapa?” tanyanya, lelaki tersebut tersenyum mendengarnya.
“Saya Adnan, Kak. Teman kuliahnya Kia. Saya ingin menjenguk Kia,” jawabnya dengan apa adanya, membuat Fikar mengubah pandangannya terhadap orang yang ada di hadapannya.
“Oh, temannya Kia. Mari masuk, Kia ada di dalam kamarnya,” ujar Fikar, sembari membuka lebar pintu yang sedari tadi masih ia tahan dengan tangannya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke arah kamar Kia, yang berada di lantai atas rumah ini.
Sepanjang jalan mereka, lelaki itu hanya bisa memperhatikan keadaan sekitarnya, sampai tak sadar ternyata mereka sudah sampai di ruangan kamar Kia.
Mereka masuk ke dalam ruangan, karena pintu kamar Kia yang tidak terkunci. Kini, mereka berhadapan dengan Kia, yang saat ini sedang membelakangi mereka.
“Kia, ada teman kamu. Dia ke sini mau jenguk kamu,” ucap Fikar, Kia mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan mereka.
Terlihat sosok yang sangat familiar bagi Kia.
Adnan, lelaki yang selama ini mengejar Kia, yang tak memedulikan tentang hubungan Kia dan juga Zain. Dia adalah teman satu tempat kuliah dengan Kia, tetapi hanya berbeda jurusan saja.
Kia tidak menyangka, lelaki itu menyempatkan diri untuk datang ke rumah ini, untuk menjenguknya.
Namun, pemikiran Kia yang lainnya memikirkan tentang tujuan buruk Adnan, yang ia duga hanya untuk meledeknya saja.
Adnan tersenyum ke arah Kia, “Kia ... ini aku bawain es krim sama bunga. Turut berduka ya, Kia!” ujarnya dengan sangat sungguh-sungguh, tetapi Kia membalasnya dengan tatapan yang sinis.
‘Turut berduka katanya? Bukannya dia senang ya, kalau Zain tersingkirkan? Itu tandanya gak akan ada lagi yang menghalangi dia,’ batin Kia, yang masih saja berpikiran jelek terhadap Adnan.
Bagaimana tidak? Kia merasa sangat risih, karena Adnan yang setiap hari selalu menempel padanya. Padahal, Kia sudah bilang, kalau dirinya menjalin hubungan dengan Zain.
Memang dasar Adnan yang tidak memedulikannya, akhirnya Adnan masih saja tetap menunggunya, dan tidak pernah menggubris apa pun yang Kia lakukan bersama dengan Zain.
Melihat adiknya yang sepertinya tidak menyukai Adnan, Fikar pun siap sedia untuk tidak membiarkan sesuatu terjadi pada mereka.
‘Sepertinya Kia gak suka sama orang ini. Jangan sampai terjadi sesuatu di antara mereka,’ batin Fikar, yang masih terus memantau tentang orang tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....