Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Ke Apartemen Zain


__ADS_3

Happy reading...


Zaskia memandang ke arah Fikar dengan dalam. “Ayo, kita kembali, Kak.”


Fikar melihat ke arah mata sendu Kia, dan hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sang operator.


“Saya minta tolong untuk menyalinkan semua video ke flashdisk. Tolong kirim ke alamat ini,” pinta Fikar, sembari membarikan kartu namanya, dan mereka pun menerimanya.


“Baiklah, Tuan.”


“Ada alamat rumah kami di belakang kertas ini. Jangan kirim ke alamat kantor saya, ya. Nanti akan saya ganti semua biayanya,” ujar Fikar, membuat mereka mengangguk.


“Baik, Tuan. Secepatnya akan kami urus, demi memperlancar semua penyelidikan kalian. Tuan Zain adalah salah satu penghuni apartemen yang baik. Dia sering memberikan makan malam untuk kami. Kami tidak akan pernah bisa membalas jasanya. Hanya ini yang bisa kami lakukan,” ujarnya, membuat Kia dan Fikar terharu mendengarnya.


‘Bahkan kamu dinilai sangat baik di mata mereka. Aku sangat senang mendengarnya,’ batin Kia, merasa sangat senang dengan apa yang mereka pikirkan tentang Zain.


Mereka pun pergi dari sana. Ketika pintu lift sudah tertutup, Kia lantas menekan tombol lantai apartemen Zain, membuat Fikar menjadi bingung dengan apa yang ingin Kia lakukan.

__ADS_1


“Kamu mau ngapain?” tanya Fikar, yang sudah mengetahui tujuan Kia yang hendak menuju ke apartemen Zain.


“Mau ke apartemen Zain,” jawab Kia, tanpa memandang ke arahnya.


Lift pun membawa mereka ke tempat yang Kia inginkan. Ketika lift itu terbuka, Fikar hanya bisa mengikuti ke mana Kia melangkah.


Dengan langkah yang gontai, Kia pun melangkah ke arah ruangan Zain yang terletak di paling ujung sebelah kiri, dari tempat keluarnya ia dari lift. Tak disangka, ia melihat seseorang yang sedang membuka pintu apartemen ruangan sebelah kamar Zain, membuat perhatiannya tertuju pada lelaki itu.


Belum sempat Kia memerhatikan wajah lelaki itu dengan benar, lelaki itu sudah masuk lebih dulu ke dalam ruangan, dan mengunci pintu tersebut dengan rapat. Hal itu membuat Kia mendelik, lalu segera berlarian ke arah pintu ruangan tersebut.


“Kia!” panggil Fikar, yang lalu segera menghampiri Kia dan menarik tangan Kia.


Hampir saja Kia memegang gagang pintu ruangan tersebut, membuat Fikar merasa sangat bingung dan merasa sangat takut akan terjadi keributan dan kesalahpahaman di sini.


“Kamu mau ngapain, sih?” tanya Fikar yang tak habis pikir dengan apa yang ingin adiknya lakukan.


“Aku yakin, dia yang tadi yang udah bunuh Zain! Aku yakin dia!” ujar Kia, sontak membuat Fikar mendelik kaget mendengarnya.

__ADS_1


“Kia! Jaga bicara kamu! Ayo, kita ke dalam kamar Zain dulu!” bentak Fikar, yang lalu segera menarik kasar tangan Kia, dan membuka pintu ruangan Zain.


Memang, Zain sudah memberikan kartu apartemennya kepada Kia dan juga Fikar. Hal itu membuat mereka merasa sangat aman dan nyaman, karena Zain yang sangat mempercayai mereka untuk bisa datang ke kediamannya kapan saja. Hal itu juga membuat Fikar merasa tenang, karena jika Kia sedang berada di apartemen Zain, ia bisa memeriksa apa yang mereka lakukan, tanpa harus menunggu pintu apartemen dibukakan.


Setelah memastikan Kia sudah masuk ke dalam ruangan apartemen Zain, Fikar pun mengunci rapat pintu apartemen tersebut, lalu memandang sinis ke arah Kia sembari melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Kia.


“Jangan seperti itu, Ki! Kita gak tau kebenarannya, dan mungkin nanti akan jadi boomerang buat kita! Jangan asal menebak, siapa tahu bukan dia!” bentak Fikar, Kia merasa sangat bersedih, karena firasat yang ia rasakan mengatakan memang benar lelaki itulah pelakunya.


Namun, untuk saat ini, apa yang Fikar katakan itu benar. Kia tidak bisa menyanggahnya, karena memang ia sama sekali tidak memiliki bukti apa pun mengenai hal yang ia tuduhkan itu. Ia hanya bisa mengandalkan firasat, dan juga perasaannya sebagai seorang wanita, yang kebanyakan benar.


“Ya, aku tau itu tindakan yang sembrono. Aku sadar, apa yang aku lakukan memang berdasarkan sebuah emosi. Aku tidak bisa memastikan dengan benar, apa yang aku rasakan ini,” gumam Kia, yang mulai mengerti apa yang Fikar maksudkan.


Fikar tersenyum, lalu mengelus lembut rambut Kia untuk memberikan sedikit rasa aman padanya. “Nanti kita selidiki bareng-bareng, ya. Sekarang, tolong. Jangan gegabah dulu. Kakak udah minta mereka untuk kirimkan bukti CCTV itu. Kita bisa mengumpulkan lebih banyak bukti, sebelum menyerahkannya pada pihak yang berwajib,” ujarnya, membuat Kia mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, aku paham.” Kia merasa sudah sedikit tenang sekarang.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2