Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Cerita Zaki


__ADS_3

Kia pun segera menuju ke arah Zaki, kemudian membangunkannya perlaha.n Tangannya menggoyang-goyangkan bahu sebelah kanan Zaki.


“Zak, bangun. Udah malam, lo belum makan, belum minum obat juga. Ayo bangun,” ujar Kia yang membangunkan Zaki untuk meminum obatnya.


Tak Butuh waktu lama, Zaki pun terbangun dari tidurnya karena ia juga merasa sudah kenyang beristirahat. Ia jadi tidak sulit untuk bangun dan setelah bangun tubuhnya merasa sangat segar dan bugar.


Hal yang pertama ia lihat adalah Kia, membuatnya merasa sangat bahagia saat ini.


Zaki memandangnya dengan senyuman hangat, membuat Kia merasa berdebar melihatnya.


“Selamat malam, Tuan Putri. Senang deh, bisa melihat kamu pertama kali di hadapan aku,” sapa Zaki, membuat Kia merasa malu mendengarnya.


Karena di hadapan mereka kini ada Zifa dan juga Fikar yang mendengar perbincangan mereka, wajah Kia seketika memerah, membuat Fikar dan juga Zifa tertawa mendengar ucapan yang Zaki ucapkan untuknya.


“Hahaha ... cie ada yang lagi romantis-romantisan ceritanya,” ledek Fikar membuat wajah Kia seketika semakin memerah karenanya.


“Apaan sih? Gue sama Zaki itu nggak ada apa-apanya. Gue sama Zaki nggak seperti yang kalian pikirin,” bantah Kia, yang merasa sangat malu di hadapan Fikar.


Ketika menyadari keberadaan Fikar, Zaki juga memandang sini ke arah mereka.


“Ternyata ada kalian juga di sini?” gumam Zaki, membuat mereka semakin tertawa saja mendengarnya.


“Ngapain harus ngomong sama kamu? Memangnya kamu satpam?” bantah Fikar, membuat Zaki merasa gemas mendengarnya.

__ADS_1


Karena sudah memegang kunci mereka berdua, Zaki pun tidak khawatir lagi mengenai hal ini, seandainya mereka meledek dirinya lagi dengan Kia, ia akan meledek kembali Zifa dan juga Fikar.


Zaki memandangnya dengan dalam, “Yakin kalian mau ngeledek gue?” tanya Zaki, membuat Fikar dan Zifa tersentak kaget mendengarnya.


Mereka terdiam sejenak karena mendengar ucapan Zaki itu.


Fikar pun segera mengubah sikap untuk mencairkan suasana. “Oh ya, gimana keadaan lo? Apa lo udah sembuh?” tanya Fikar membuat Zaki sedikit sejenak memandangnya dengan tatapan menggoda, lalu ia menghela napas, karena ia merasa harus serius saat ini.


“Ya ... mungkin sudah lebih baik lah daripada saat pertama kali gue sadar. Rasanya tuh beneran kayak ditusuk, sakit banget. Untungnya sih nggak terlalu dalam, jadi ya masih better lah,” ujar Zaki menjelaskan, membuat mereka merasa ngilu mendengarnya.


“Lo ditusuk kayak gitu, orang lain mah sakit, kenapa lo malah sikapnya kayak gitu?” tanya Zifa heran dengan sikap Zaki saat ini.


“Ya mau bagaimana lagi? Gue nangis pun, juga udah percuma. Karena tetap yang ngerasain sakit tuh gue. Kalian mah ‘kan nggak ngerasain, jadi percuma gue nangis-nangis minta tolong buat sembuhin luka gue, pada akhirnya ya gue yang harus berjuang sendiri buat sembuhin luka ini,” ujar Zaki secara blak-blakan mengatakan hal seperti itu.


Mendengar ucapan Zaki, mereka pun merasa hal itu sangatlah benar adanya. Mereka tidak bisa membantu Zaki untuk menghilangkan rasa sakitnya secara instan, dan memang benar Zaki lah yang pada akhirnya harus berjuang untuk memulihkan kondisi tubuhnya sendiri.


Zaki pun tertawa kecil mendengar ucapan Fikar itu, “Nggak jadi ngeledek lagi nih?” tantang Zaki, membuat Fikar merasa sedikit kesal memandang ke arah Zaki.


“Gue cubit nih ginjal lo,” ancam Fikar, membuat Zaki merasa takut mendengarnya.


“Ih ... takut,” ledek Zaki yang sebenarnya sama sekali tidak takut dengan apa yang Fikar ancamkan padanya.


“Ya udah makan dulu deh mending, daripada kita ngobrolin hal yang aneh begini, ya ‘kan? Mendingan makan, terus minum obat,” suruh Zifa yang mendukung Fikar untuk menutupi keadaan.

__ADS_1


Zaki memandangnya dengan tatapan yang menggoda, ‘Kalian dua sejoli benar-benar sangat kompak untuk menutupi semua yang tidak ingin kalian publikasikan,’ batin Zaki, yang merasa sangat senang bisa meledek kembali dua sejoli itu.


Karena malam sudah terlalu larut, Zaki pun akhirnya menurut dengan apa yang mereka katakan. Kia menyuapi Zaki dengan Zifa dan Fikar yang terus ingin meledeknya, tetapi tertahan karena ia juga tidak ingin sampai Zaki mengatakan hal yang sebenarnya kepada Kia, tentang hubungan mereka.


Mereka berpikir akan mengatakannya langsung dengan Kia, dari mulut mereka sendiri. Bukan dari mulut Zaki ataupun orang lain.


Setelah selesai melakukan semua hal yang mereka butuhkan ini, mereka melakukan sesi perbincangan bersama. Masih banyak pertanyaan yang akan Fikar layangkan kepada Zaki, karena permasalahan ini sepertinya sudah ada yang mengatur. Fikar harus mengetahui detailnya sampai penyelidikan polisi mengenai kasus ini selesai.


“Gue boleh tahu detail kejadian lo, sampai lo kayak gini?” tanya Fikar.


Zaki merasa saat ini mereka harus mengatakan dengan mode yang serius, karena ia juga ingin sekali memberitahukan kebenaran yang sebenarnya di hadapan Fikar dan juga yang lainnya. Terutama di depan Kia.


“Tentu saja boleh, gue harus mulai dari mana?” Zaki menjawabnya.


“Dari awal. Dari mana kalian malam-malam begitu? Kejadiannya di atas jam 12.00 malam, lho?” tanya Fikar, yang lebih tepatnya dalam menginterogasi Zaki, karena sudah membawa Kia pergi di atas jam 12.00 malam.


Zaki merasa bersalah, karena sudah memulangkan Kia di atas jam 12.00 malam, tapi itu semua bukan murni kesalahan Zaki, tetapi karena Kia yang juga mengajaknya bertemu saat posisi sudah pukul 08.00 malam.


“Ya salah gue sih sebenarnya, karena gue mungkin terlalu lama balikin Kia ke rumahnya. Kita habis makan es krim terus kita ngobrol, udah gitu aja sih kita nggak ke mana-mana lagi,” jawab Zaki menjelaskan.


Kia mengangguk mendengarnya, “Ya bener yang Zaki bilang ... kita tuh cuman makan es krim ngobrol, habis itu pulang udah gitu aja. Kita nggak ke mana-mana lagi setelahnya,” sahut Kia, yang merasa harus memberitahukan kejujuran di hadapan Fikar, untuk membantu Fikar melakukan penyelidikan tentang kasus ini.


“Terus kenapa kok kejadiannya bisa sampai lo ketusuk gitu? Ceritanya gimana awalnya?” tanya Fikar lagi.

__ADS_1


“Jadi setelah gue drop Kia ke rumahnya, Kia tuh udah nyuruh gua buat nggak pulang. Cuman gue tuh orangnya nggak suka berbagi kamar ya ‘kan. Jadi gue nggak mau buat nginep di rumah Kia. Saat itu Kia juga Kia nyuruh gue buat tidur di kamar lo, berdua sama lo. Jadi gue nggak mau, makanya gue memutuskan untuk pulang. Nggak nyangka gue malah ketemu sama berandal itu di jalan,” ujar Zaki menjelaskan.


“Saat lo ketemu sama mereka, apa yang mereka bilang ke lo?” tanya Fikar.


__ADS_2