
“Ya kalau lo mau gue makan, ya lo harus makan. Tuh, udah adil-adilnya,” ujar Kia yang nadanya semakin meninggi.
Karena melihat usaha Kia untuk membuatnya makan, Zaki pun tersenyum tipis tetapi senyumannya itu malah membuat Kia semakin kesal melihatnya.
“Bukannya senyum, gue tuh nyuruh lo makan. Senyum tuh nggak bikin lo kenyang Zaki,” gerutu Kia membuat Zaki tertawa tetapi tertawanya itu tertahan karena Zaki yang merasakan sakit pada perutnya, jika terguncang terlalu kuat.
“Aduh ...,” gumam Zaki, sembari memegangi perutnya.
Hal itu membuat Kia merasa puas melihatnya. “Lo sih nggak dengerin kata-kata gue. Bukannya makan malah ketawa. Inilah akibatnya,” ujarnya dengan ketus, membuat Zaki tertawa kembali tetapi berusaha ia tahan agar tidak merasakan sakit pada perutnya lagi.
“Iya gue makan kok. Tapi suapin ya?” pinta Zaki, membuat Kia memandangnya dengan ketus.
“Makan sendiri! Lo ‘kan punya tangan!” seloroh Kia, yang memang niat awalnya ingin menyuapi Zaki.
Setelah ia mengatakan hal itu, ia pun lantas menyuapi Zaki, sehingga Zaki bisa dengan mudahnya untuk menyuap makanan ke dalam mulutnya. Mereka sejenak saling pandang, membuat Zaki bingung ketika melihat pandangan Kia, yang terdapat kesedihan di dalamnya.
“Lo sedih, ya?” tanya Zaki, membuat Kia merasa kaget mendengarnya.
“Biasa aja,” bantah Kia, yang berusaha untuk menutupi semuanya dari Zaki.
__ADS_1
Karena Kia merasa terlalu gengsi di hadapan Zaki, Zaki pun lagi-lagi tersenyum karena melihat sebuah kebohongan di sini. Ia hanya bisa tersenyum, membuat wajah Kia merona karena malu melihat senyuman itu.
“Apa sih? Udah, makan lagi nih!” gerutu Kia, yang lalu segera menyuapi Zaki kembali.
Zaki pun menikmati suapan demi suapan yang Kia berikan padanya. Ia sangat senang karena kejadian ini bisa membuat dirinya semakin dekat dengan Kia. Tak disangka, kejadian ini malah membuatnya semakin lengket dengan Kia.
Zaki pun kembali tertawa kecil di hadapan Kia. “Haha, kalau gini caranya gue mau deh setiap hari ditusuk preman terus, asal bisa disuapin sama lo,” seloroh Zaki, membuat Kia merasa kesal mendengarnya.
“Lo ngomong apa sih? Udah untung lo tuh masih hidup! Untungnya dia juga nggak nusuk jantung lo!” bentak Kia membuat Zaki merasa baik-baik saja mendengarnya.
“Gue nggak apa-apa, Kia. Mau gue ditusuk di jantung kek, di hati kek, yang penting tuh ... jantung hatiku kuletakkan di jantung hatimu,” seloroh Zaki yang malah bernyanyi sebuah lagu, dari sebuah band yang cukup terkenal pada masanya.
‘Kenapa Zaki malah ngomong kayak gitu? Memangnya dia nggak takut kalau misalkan aku sampai salah paham sama dia? ‘Kan bisa aja orang salah paham kalau misalkan ucapannya kayak gitu,’ batin Kia merasa bingung dengan apa yang Zaki katakan itu.
Namun karena Kia tidak ingin menunjukkan rasa salah tingkahnya di hadapan Zaki, ia hanya bisa memandangi dengan datar, sehingga Zaki pun tersadar dengan apa yang ia lakukan.
“Ayo cepat makan! Gue mau lo makan obat setelah ini!” suruh Kia, membuat Zaki mengangguk kecil mendengarnya.
Kia pun menyuapi makanan ke arah mulut Zaki kembali, membuat Zaki menerimanya dengan sangat bahagia. Entah mengapa, baru kali ini ia disuapi seperti ini dengan seorang wanita. Hal itu membuat dirinya sangat bahagia.
__ADS_1
“Tahu nggak? Gue itu bahagia banget bisa disuapin gini sama cewek. Terlebih lagi, cewek itu adalah lo. Gue nggak nyangka, kejadian ini malah bikin gue lebih dekat sama lo,” ujar Zaki, yang membuat wajah Kia kini memerah mendengarnya karena malu.
“Apa sih? Lo ngomong apa deh? Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh! Nggak usah pakai bersyukur segala karena lo ditusuk. Lo tuh sakit sekarang,” ujar Kia, Zaki pun tersenyum mendengarnya.
“Kalau setiap hari bisa disuapin sama lo, jujur aja gue lebih milih ditusuk berulang kali sama mereka dan nggak peduli mereka mau berbuat apa sama gue. Yang penting, lo nggak kenapa-kenapa. Jadi biar gue aja yang nahan mereka, jangan sampai mereka yang ngejar gue, malah ngejar lo. Gue gak akan biarin itu semua terjadi,” ujar Zaki, membuat jantung Kia berdebar dengan sangat kencang.
Kia merasa bingung harus mengatakan apa pada Zaki. Karena ia tidak pernah bersikap manis di hadapan Zaki. Ia jadi merasa canggung, karena tidak tahu cara bersikap manis di hadapan Zaki.
“Udah deh, lo nggak usah gombal! Gue nggak suka orang yang gombalin gue,” bantah Kia dengan ketus, membuat Zaki tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya.
“Gue nggak gombal, Kia. Gue bener-bener mau ngejaga lo dari mereka. Beruntung kemarin mereka nggak ngelakuin itu di hadapan lo, dan gue udah sempat bawa lo pulang ke rumah lo. Kalau seandainya mereka ngelakuin itu di hadapan lo, gue nggak tahu lagi gimana keadaan lo sekarang. Gue lebih milih mengorbankan diri gue buat lo. Nggak apa-apa gue ditusuk pun, cuman gue yang ngerasa sakit. Bukan lo yang rasa sakit,” ujar Zaki, sekali lagi membuat hati Kia merasa tersentuh.
Seumur hidupnya, Kia tidak pernah mendengar kata-kata indah seperti ini. Bahkan sampai menyentuh hati dan perasaannya. Ketika bersama dengan Zain pun, Zain tidak pernah mengatakan hal seperti ini. Namun, walaupun Zain tidak pernah mengatakan hal seperti itu, Kia tidak akan rela ketika ia melihat Zain tersakiti oleh siapa pun.
Maka dari itu, ketika kehilangan Zain, Kia merasa sangat terpukul dan sedih karenanya. Kia tidak bisa melakukan apa pun di saat Zain membutuhkan bantuannya. Kia malah merasa kesal dengan Zain, ketika Zain terlambat datang ke acara pertunangan mereka. Padahal di sisi belahan dunia lainnya, Zain saat itu tengah berjuang untuk bisa sampai ke rumahnya, dan bisa menyematkan cincin di jari manisnya.
Namun pada kenyataannya, takdir berkata lain. Tuhan tidak bisa menyatukan mereka, sehingga Zain pun pergi untuk selamanya karena kecelakaan tragis yang terjadi. Walau demikian, bukan berarti Zain tidak menepati ucapan dan janjinya untuk menyematkan cincin di jari manis Cherry. Ia sudah berusaha, tetapi takdir berkata lain, sehingga ia tidak bisa melanjutkan apa yang ia usahakan.
Dari situlah Kia merasa terpukul, apalagi ketika mendengar ucapan Zaki yang tiba-tiba membuatnya teringat dengan sosok Zain. Ia merasa sangat sedih ketika Zain pergi begitu saja, tanpa mengucap sepatah kata pun. Hanya pertemuan di malam itu, yang merupakan pertemuan terakhir bagi mereka.
__ADS_1
Air mata kembali bercucuran dari pelupuk mata Kia, membuat Zaki yang menyadarinya pun bingung harus berbuat apa. Karena keadaan Zaki yang saat ini baru saja melewati masa-masa kritis, ia tidak bisa banyak bergerak. Ia hanya bisa memandang Kia yang saat ini menangis di hadapannya, dan bingung harus menenangkan dengan cara seperti apa.