
Kini, Fikar pun hanya bisa berharap tidak terjadi apa pun dengan Zifa dan juga Kia di jalan arah ke sini nanti.
“Mudah-mudahan mereka baik-baik aja dan nggak ada hal apa pun yang terjadi dengan mereka,” ujar Fikar yang sangat berharap tentang keselamatan adik dan juga mantan kekasihnya.
Sekian lama menunggu, akhirnya Kia pun sampai di rumah sakit dan kini berlarian menuju ke arah Fikar, yang sedang menunggu di depan ruang UGD. Mereka bertemu di sana, dengan Kia yang merasa sangat panik dengan keadaan Zaki saat ini.
“Kak, gimana keadaan Zaki saat ini?” tanya Kia, setelah ia sampai di hadapan kakaknya.
Fikar pun bangkit dan berhadapan dengan Kia. “Masih belum selesai operasi kecilnya. Masih berjalan, karena tadi Kakak lihat juga darahnya banyak banget. Mungkin karena darahnya atau lukanya yang besar, mereka masih kesulitan untuk menjahitnya,” jawab Fikar, membuat Kia tidak menyangka dengan hal itu.
Kia pun menutup mulutnya, dengan air mata yang sudah mengalir sejak tadi. Firasatnya kembali terulang, padahal ia tidak mengizinkan Zaki untuk kembali pulang ke rumahnya. Namun Zaki tidak mendengarkan ucapannya dan malah pergi pulang dari rumahnya itu.
“Ternyata firasat aku bener, Kak! Aku tadi udah ngelarang Zaki untuk nggak pulang, sama seperti saat aku ngelarang Zain waktu itu. Aku sama sekali nggak ngizinin mereka untuk pulang, dan aku malah nyuruh mereka buat nginep, tapi ternyata mereka ngeyel dan akhirnya mereka pulang. Sampai ada kejadian kayak gini yang menimpa Zaki dan juga Zain. Apa ada seseorang yang beneran mengincar aku?” tanya Kia, membuat Fikar sedikit terdiam mendengarnya.
“Kalau memang kejadiannya seperti itu, kemungkinan besar ada seseorang yang gak suka sama hubungan kalian,” ujar Fikar membuat Kia memandangnya dengan bingung.
“Tapi aku sama sekali nggak ada hubungan apa pun sama Zaki, Kak! Masa sih, ada orang yang gak rela dan nggak pengen ada siapa pun yang dekat sama aku?” ujar Kia, yang merasa bingung karena hal tersebut.
Fikar pun jadi berasumsi lain, “Ya kemungkinan besar tuh ada seseorang yang nggak suka sama kamu, atau nggak suka ada seorang cowok yang deket sama kamu, musuh kamu atau siapa pun itu, kemungkinan besar begitu,” ujar Fikar, membuat Kia terdiam sejenak mendengarnya.
__ADS_1
“Sekarang pertanyaannya, apa ada orang yang benci sama kamu di kampus?” tanya Fikar, Kia pun memandangnya dengan dalam.
“Zura benci banget sama aku! Dia benci atas meninggalnya Zain, dan dia malah nyalahin aku karena aku dianggap telah membunuh Zain. Padahal aku sama sekali nggak ngelakuin apa pun. Aku pun kehilangan Zain, dan dia seenaknya menuduh aku telah membunuh Zain,” jawab Kia kembali.
“Berarti kemungkinan besar bukan Zura pelakunya. Kalau dia masih menyalakan kamu atas kematian Zain, berarti bukan dia yang tidak menyukai kamu. Ada lagi orang yang membenci kamu di kelas, atau di kampus?” tanya Fikar.
Kia sejenak berpikir, “Aku nggak tahu sih, tapi nanti pasti aku bakal cari tahu siapa yang nggak suka sama aku, atau siapa yang punya gelagat lain,” jawab Kia, Fikar pun mengangguk mendengarnya.
“Ya sudah, sekarang lebih baik kita menunggu dokter keluar dari ruangan,” ujar Fikar, membuat Kia pun mengangguk mendengarnya.
Mereka pun menunggu dengan sabarnya, hingga akhirnya Zifa pun datang ke hadapan mereka, dengan perasaan yang sangat khawatir.
“Di mana Zaki?” tanya Zifa panik, membuat mereka bangkit dari tempat duduk mereka saat ini.
“Aku tadi ditelepon sama Kak Fikar buat datang ke sini. Katanya Zaki kritis, makanya aku buru-buru datang ke sini,” jawab Zifa, membuat Kia merasa bingung mendengarnya.
“Sejak kapan kalian deket gini? Sejak kapan kalian punya nomor telepon masing-masing?” tanya Kia yang merasa penasaran dengan Zifa dan juga Fikar.
Mereka sontak terdiam mendengar pertanyaan dari Kia. Mereka tidak ingin semua hal yang mereka tutupi sejak lama, terbongkar hanya karena masalah ini.
__ADS_1
Kia semakin memandang ke arah Zifa dengan tatapan yang tajam, “Lalu sejak kapan kamu deket sama Zaki? Sejak kapan?” tanya Kia lagi, dengan pertanyaan yang sangat membuat mereka bingung untuk menjawabnya.
Fikar pun terdiam sejenak mendengarnya dan melirik ke arah Zifa sejenak. ‘Zifa mau nggak ya, kalau hubungan ini dipublish di hadapan Kia? Masalahnya kita ‘kan memang udah nggak ada apa-apa,’ batin Fikar merasa bingung harus melakukan apa saat ini.
Zifa menghela napasnya, “Aku tukaran nomor sama Kak Fikar, sejak sebelum kamu dan Pak Zain bertunangan. Untuk persiapan segala macamnya ‘kan butuh yang namanya komunikasi, jadi aku inisiatif aja minta nomor Kak Fikar untuk keperluan acara kalian,” ujar Zifa menjelaskan, membuat Kia mengangguk-angguk kecil mendengarnya.
“Terus, kenapa kamu dan Zaki bisa deket begitu? Sampai khawatir ngedenger Zaki masuk rumah sakit?” tanya Kia lagi, membuat Zifa merasa gemas mendengarnya.
Kata-kata yang menjadi pertanyaan dari Kia sangat sulit ia jawab, sehingga membuat Zifa kembali terdiam mendengarnya. Melihat sikap yang aneh dari Zifa, membuat Kia merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan juga Zaki.
“Kenapa kamu diam aja? Aku nanya lho, Zifa?” tanya Kia yang merasa harus menemukan jawabannya saat ini juga.
Zifa pun menghela napasnya kembali dan memandang dalam ke arah Kia. “Sebenarnya aku cemas saat Zaki deketin kamu, jadi aku minta nomornya supaya bisa berhubungan sama dia. Intinya kalau ada hal yang tidak diinginkan, aku bisa langsung nelpon dia bahkan bisa langsung nyari keberadaan dia pakai GPS. Khawatirnya dia macam-macam sama kamu, aku ‘kan nggak tahu?” jawab Zifa, membuat Fikar memandangnya dengan sinis.
“Apa benar begitu alasan dia? Perasaan nggak seperti itu, deh!’ batin Fikar, yang merasa sangat tidak yakin dengan jawabannya yang Zifa berikan pada Kia.
Kia pun terdiam dan tidak bertanya apa pun lagi mengenai Zaki. Ia menunggu dokter yang menangani Zaki, menyelesaikan tugasnya dan hendak melihat keadaan Zaki saat ini.
***
__ADS_1
Karena Zaki yang belum sadarkan diri, setelah mendapatkan operasi kecil dan penanganan dari dokter yang menanganinya, semalam mereka bertiga menemani Zaki di rumah sakit sampai pagi hari. Zaki baru saja dipindahkan ke ruang rawat, untuk pemulihan lukanya. Saat Zaki dipindahkan ke ruang rawat, mereka pun menunggu Zaki sampai tertidur di sofa yang ada di ruang rawat Zaki. Mereka tidur dengan keadaan duduk, dengan kepala yang saling menyandar pada bahu Fikar.
Semalaman Fikar tidak bisa tidur, karena menjaga Kia dan juga Zifa. Fikar teringat dengan reaksi Zifa, yang semalam malu-malu untuk melakukan hal yang sama dengan yang Kia lakukan padanya.