Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Canggung


__ADS_3

Saking kagetnya, Kia tak sengaja menampar wajah Zaki. Hal itu sontak membuat mereka mendelik bersamaan, karena Kia memang tidak sengaja melakukannya.


Hal itu terjadi lantaran Kia merasa sangat terkejut, karena Zaki yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.


“Aww ....” Zaki merintih kecil, membuat Kia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“Sorry ... sorry, gue gak sengaja!” ujar Kia, merasa bersalah dengan Zaki.


Zaki tak menjawab, dan hanya berfokus pada rasa sakitnya saja. Zifa melihatnya pun sampai terkejut, ia berpikir kalau Kia sengaja melakukannya pada Zaki, karena Kia tidak menyukainya.


‘Gak sengaja ternyata,’ batin Zifa, yang merasa sangat kaget dengan perlakuan Kia pada Zaki.


“Sorry, gue beneran gak sengaja,” ujar Kia, Zaki pun mulai memandang ke arah Kia.


“Gak sengaja, tapi kenceng banget. Sakit lho,” ujar Zaki, dengan nada yang sedikit sendu.


“Aduh, gue beneran minta maaf ... gue beneran gak sengaja,” ujar Kia.


“Gak sengaja, ya?” tanya Zaki, Kia mengangguk cepat.


“Gue beneran gak sengaja, lo mau ‘kan maafin gue?” tanya Kia, membuat Zaki terdiam sesaat mendengarnya.


‘Dia lagi ngerasa bersalah? Sekalian aja ya gue manfaatin?’ batin Zaki, yang malah memilih untuk memanfaatkan Kia.


“Gue maafin kok, asalkan kita jadi ya makan siang bareng?” ujar Zaki, sontak membuat Zifa dan Kia mendelik kaget mendengarnya.


‘Licik juga dia,’ batin Zifa yang saat ini sedang menahan tawanya.


“Ih, gak mau! Lagian, lo ngapain ada di belakang gue, sih? Gue mau makan siang sama temen gue!” tolak Kia, yang langsung menggandeng lengan Zifa.


Zaki memandang ke arah Zifa, membuat Zifa menjadi salah tingkah melihatnya. Karena sudah berjanji untuk membantunya, Zifa pun terpaksa harus memainkan perannya.


“Emm ... Kia, kayaknya aku gak bisa makan siang dulu deh. Aku mau ke kelas sebelah, bukuku dipinjam sama temenku. Kamu ... makan siang sama dia aja ya, bye!” ujar Zifa, yang lalu segera pergi dari hadapan mereka.

__ADS_1


Kia kewalahan, “Zifa!” pekiknya, tetapi Zifa sudah terlanjur pergi dari hadapan mereka.


Zaki hanya bisa tersenyum, ketika rencananya akhirnya berhasil, untuk lebih dekat dengan Kia.


“Zifa aneh, deh! Memang dia punya temen di kelas sebelah? Aku gak pernah tau,” gumam Kia, merasa sangat heran dengan kelakuan dan alasan Zifa yang seperti itu.


“Itu tandanya ... takdir kita supaya kita makan siang bareng,” celetuk Zaki, membuat Kia memandangnya dengan datar.


“Gue gak suka ya lo macem-macem sama gue!” bentak Kia, tetapi Zaki yang tidak ingin macam-macam pada Kia, hanya bisa menyeringai.


“Gue gak mau macam-macam, cukup satu macam untuk makan siang bareng,” bantah Zaki, membuat Kia kesal mendengarnya. “Eh, dua macam, deh! Makan siang bareng, terus pulangnya gue antar,” tambahnya, meralat ucapannya yang sebelumnya.


Kia mendelik, “Itu namanya macam-macam!” bentaknya.


“Apanya yang macam-macam? Itu cukup dua macam!” sanggah Zaki lagi, tetapi Kia tak mau kalah.


“Kalau ada satu itu macam, kalau ada dua ya macam-macam! Gimana sih!” ketus Kia, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.


“Bisa aja ngelawaknya, lo ‘kan bukan pelawak!” seloroh Zaki, membuat Kia memandangnya sinis.


“Ya, Zaskia. Gue Zaki,” seloroh Zaki lagi, membuat Kia kesal lalu segera pergi dari sana.


“Ih ... heeeehhh ....”


Melihat Kia yang pergi, Zaki pun menggelengkan kepalanya kecil, lalu segera menyusul Kia.


Kia terlihat duduk di kursi tempat mereka duduk bersama pagi tadi, membuat Zaki pun ikut duduk di hadapannya.


“Akhirnya ... mau makan siang sama gue juga,” seloroh Zaki, dengan senyuman yang sedikit menyungging di hadapan Kia.


“Diem, deh! Ini gue lakuin, karena gue ngerasa bersalah tadi sama lo,” ketus Kia, semakin membuat Zaki tak bisa menahan tawanya.


“Ternyata gampang ya, bikin lo ngerasa bersalah,” goda Zaki lagi, membuat Kia mendelik kesal mendengarnya.

__ADS_1


“Udah gue bilang, jangan macem-macem! Gue gak suka orang yang macem-macem!” bentak Kia, Zaki hanya tertawa kecil mendengarnya.


“Gue gak macam-macam, dibilang gue cuma satu macam aja!” sanggah Zaki, yang memandangnya dengan dalam.


Sejenak pandangan mereka bertemu, membuat kecanggungan di antara mereka terasa begitu kuat.


‘Cukup menjaga lo, cuma itu yang gue mau,’ batin Zaki, yang tak mungkin memberitahukan kepada Kia, tentang misinya untuk menjaga Kia.


Tersadar dari situasi yang canggung, Kia pun membuang pandangannya dari Zaki. Hal itu juga ternyata disadari Zaki. Ia juga segera mengalihkan pandangannya dari arah Kia.


‘Aduh ... kenapa malah canggung gini, sih? Dia ngeselin banget!’ batin Kia, heran dengan sikap Zaki padanya, yang berbanding terbalik dengan sikap Zain kepadanya.


Ya, karena Zifa sudah mengatakan hal itu pada Zaki tadi, Zaki jadi tidak melanjutkan untuk menjadi Zain. Ia ingin memberikan kesal berbeda, walaupun sebenarnya hal ini bukanlah dirinya.


Zaki yang asli adalah Zaki yang pemalu, yang hanya bisa mendengarkan tetapi tidak ingin didengarkan. Yang ada untuknya, tetapi tidak mempermasalahkan kehadiran dirinya. Zaki memang selalu seperti itu.


Namun, ia tidak mungkin melakukan hal itu pada Kia. Ia masih belum bisa menunjukkan sikap aslinya yang sangat peduli kepada orang lain. Masih terlalu dini, untuk Zaki memberikan perhatian kepada Kia. Yang terpenting sekarang hanyalah mencari cara, agar Kia bisa lebih dekat lagi dengannya.


Zaki memandang ke arahnya, “Mau makan siang apa? Biar gue pesenin,” ujarnya, Kia memandang ke arahnya masih dengan perasaan yang canggung.


“Gue gak laper,” tolak Kia ketus.


Zaki menghela napasnya, “Makan, biarpun gak laper. Makanlah sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang,” ujarnya.


Kia malah melotot kesal, “Kok lo malah ceramah, sih?” pekiknya kesal, tetapi Zaki hanya tertawa saja mendengarnya.


“Udah, makan. Gue pesenin, ya!” ujar Zaki, tanpa basa-basi segera menuju ke arah salah satu stand kantin.


Karena sudah mengetahui apa yang biasa Kia makan, Zaki hanya yakin saja dan segera memesankan untuknya.


Tak berapa lama, Zaki pun kembali dengan membawa dua piring siomay. Ia meletakkan piring Kia di hadapan Kia, sampai Kia pun melotot kaget melihat menu yang Zaki pesankan untuknya.


Setelah meletakkan makanannya, Zaki kembali lagi untuk mengambil minuman, dan meletakkan kembali minuman itu kepada Kia.

__ADS_1


‘Hah? Gimana bisa dia tau makanan yang biasa aku pesen di kantin? Kenapa dia juga sampai tau apa aja yang aku suka dan gak suka? Siomay isi telur, kentang, tahu putih, bumbu kacang gak pakai kecap? Minumnya pun kenapa sama? Latte dingin, seperti yang dia kasih pagi tadi ke aku? Kenapa sampai detail banget, sih?’ batin Kia merasa tidak percaya dengan apa yang Zaki berikan untuknya.


__ADS_2