
Happy reading....
Mereka sudah sampai di kediaman Kia. Zain tersenyum ke arah Kia, karena ia bisa melihat wajah Kia yang sudah kembali tersenyum seperti sedia kala.
“Nah ... gitu dong. Senyum,” ujar Zain, membuat Kia merasa malu mendengarnya.
Kia memukul pelan lengan tangan Zain, “Ah ... kamu mah bisa aja!” ujarnya, yang merasa sangat senang bisa berdua bersama dengan Zain hari ini.
Mereka saling memandang satu sama lain. Zain meletakkan tangannya pada rambut Kia, karena merasa sangat menyayangi Kia.
Kia memandangnya dengan tatapan bingung, “Ada apa?” tanyanya, membuat Zain menggelengkan kepalanya.
“Gak ada apa-apa. Cuma mau ngelus kamu aja,” ujarnya, yang merasa sangat senang bisa mengelus kepala Kia.
Diperlakukan romantis seperti itu oleh Zain, Kia merasa sangat malu dan hanya bisa menunduk saja menerima hal romantis tersebut.
Zain memandang Kia dengan lekat, merasa tidak ingin meninggalkan Kia sendiri di sini. Rasanya, ia tidak ingin kembali ke rumahnya. Ia ingin seterusnya bersama dengan Kia.
Namun, karena malam ini sudah larut, Zain pun melepaskan egonya, untuk tidak membuatnya kehilangan logika dan akal.
Mereka harus berpisah, agar besok bisa melaksanakan pertunangan mereka dengan khidmad.
“Sebenarnya aku gak mau pulang. Aku mau sama kamu aja di sini. Tapi ... besok harus datang pagi-pagi ke sini, buat acara pertunangan kita,” ujar Zain, Kia memandang dalam ke arahnya.
“Ya udah, kamu nginep di sini aja malam ini. Jadi ‘kan ... kamu gak perlu bolak-balik ke sini lagi besok,” ujar Kia, Zain tertawa kecil mendengar ucapannya itu.
__ADS_1
“Bagaimana bisa? Mau diamuk warga?” seloroh Zain, membuat Kia tertawa kecil mendengarnya.
Kia menyudahi tawanya, karena Zain yang menatapnya dengan tatapan yang dalam. Kia merasa, ia juga tidak ingin berpisah dengan Zain hari ini.
Setelah mendengar berita yang tidak baik, di televisi tadi, Kia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Zain.
“Aku juga gak mau pisah sama kamu ... kamu di sini aja, ya. Kamu tidur di kamar tamu,” ujarnya, membuat Zain tertawa kecil mendengarnya.
Jemarinya menyentuh hidung mungil Kia, “Jangan begitu, besok kita pasti ketemu lagi, kok!” ujar Zain, Kia mengangguk kecil mendengarnya.
“Kamu harus janji, jangan lama-lama sampai di sini besok,” ujar Kia dengan rengekannya yang lembut.
Zain sampai tersenyum mendengarnya, “Ya ... besok aku datang pagi-pagi banget, biar kamu gak bertanya-tanya ....”
Zain memandang Kia dengan dalam, “Cium kening, boleh?” tanyanya, Kia tersenyum sembari mengangguk kecil ke arahnya.
Melihat respon Kia yang menyetujuinya, Zain pun segera mengecup kening Kia, dan berusaha menyalurkan rasa cintanya terhadap Kia.
Sejenak Kia merasakan, perasaan cinta Zain yang begitu besar, yang baru kini ia rasakan. Hal itu membuatnya tidak ingin membiarkan Zain pergi saat ini.
“Jangan pulang, ya!''
Zain tersenyum, meletakkan jemarinya pada dagu Kia, berusaha untuk membuat Kia merasa aman dan nyaman.
“Bagaimana ya, cara agar membuat kamu bisa ngerelain aku pergi?” tanya Zain, membuat Kia memandangnya dengan dalam.
__ADS_1
Keningnya mengerut, karena mendengar ucapan Zain yang sangat ambigu. “Pergi ke mana?” tanya Kia penasaran dan dengan ekspresi yang sangat tidak rela.
“Ke apartemen,” jawab Zain seadanya, membuat Kia merasa sedikit kesal karena sudah sia-sia mengkhawatirkan Zain.
Melihat sikap Kia yang kelihatannya kesal, Zain pun tertawa kecil lalu merengkuh Kia ke dalam pelukannya.
‘Hangat,’ batin Kia, yang merasakan kehangatan yang dimiliki Zain.
Sejenak mereka berpelukan satu sama lain, menumpahkan perasaan yang aneh, yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Mereka sama-sama tidak ingin jauh, satu sama lain. Mereka merasakan hal, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Kamu akan tetap cinta sama aku, bukan?” tanya Zain, membuat Kia merasa heran dan kebingungan mendengar ucapannya.
“Ya.”
“Walaupun nanti aku pergi lebih dulu, apa kamu masih setia cinta sama aku?” tanya Zain dengan pertanyaan yang sangat random.
Dari pertanyaan yang Zain lontarkan pada Kia, seharusnya Kia sudah bisa menyimpulkan dengan benar, arti dari ucapan dan perasaan yang mereka rasakan.
Namun, Kia tidak terlalu memikirkannya, dan lebih berfokus pada jawaban yang akan diberikan padanya.
“Aku akan setia sama kamu ... selamanya. Aku gak akan mencintai orang lain selain kamu. Kamu tenang aja, jangan ngomong macem-macem lagi, okay?” jawab Kia, yang berusaha untuk meyakinkan hati Zain.
Bersambung......
__ADS_1