
Zaki berusaha untuk menghilangkan rasa nervous-nya di hadapan Kia, karena ia yang terkejut melihat Kia yang tiba-tiba saja datang di hadapannya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Kia, yang berusaha untuk menghilangkan rasa tremornya di haapan Zaki.
“Emm ... sorry, Kia. Gue cuma mau bilang, jangan pernah khawatir tentang Zura. Gue gak akan pernah biarin dia buat nyentuh lo sedikit pun. Jangan khawatir, gue akan jagain lo,” ujar Zaki, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
‘Kenapa dia bilang begitu?’ batin Kia, heran dan terkejut dengan apa yang Zaki katakan.
Zaki memberikan sebuah jaket kepadanya, sehingga membuat Kia semakin melongo kaget.
“Ini jaket gue, siapa tau lo butuh,” ujar Zaki, seraya menyodorkan jaket tersebut ke arahnya.
Kia menerimanya dengan bingung, karena ia merasa malu jika ia tidak segera mengambil jaket tersebut.
Namun, bukannya mendapatkan penjelasan dari apa yang ingin ia ketahui, Zaki malah berlalu pergi dari hadapan Kia.
Kia membulatkan matanya, “Apa? Gitu doang, terus dia pergi?” gumamnya, heran dengan apa yang Zaki lakukan padanya.
Karena merasa Zaki adalah orang yang sangat aneh, Kia pun segera pergi dari sana, dan segera kembali menuju ke arah kelasnya.
***
Sore ini, persis seperti apa yang pernah Fikar katakan pada Zifa, ia menjemput Zifa di kampus. Ia menunggu di luar kampusnya, dan tak lama kemudian, Zifa pun keluar bersama dengan Kia.
Namun, belum sempat mereka melangkah menuju ke arah mobil Fikar, Zaki pun datang ke hadapan mereka, berharap bisa mengantarkan Kia pulang.
“Selamat sore, para gadis,” sapa Zaki, membuat mereka heran melihatnya.
“Sore,” sapa balik Zifa, tetapi Kia hanya diam saja tak berkata apa pun.
“Kalian mau pulang?” tanya Zaki lagi, Zifa mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, mau balik.” Zifa menjawab dengan singkat.
Zaki menatap ke arah Kia, “Ayo, pulang bareng sama gue,” ajak Zaki, sontak membuat mereka terkejut mendengarnya.
“Hah? Pulang bareng sama lo?” tanya sinis Kia, membuat Zifa memandangnya dengan heran.
__ADS_1
“Kenapa sih Kia? Kamu gak boleh terlalu jutek sama orang, nanti kamu malah naksir lho,” seloroh Zifa, membuat Kia memandangnya dengan kesal.
“Gak mau! Apaan sih, malah bawa-bawa naksir segala!” bentak Kia kesal, tetapi Zifa hanya tersenyum mendengarnya.
Dari arah sana, karena Fikar menyadari mereka yang sedang berbincang dengan Zaki, ia pun merasa sepertinya Zaki sudah mulai menjalakan rencananya untuk mendekati Kia.
“Dia sepertinya sudah mulai deketin Kia,” gumam Fikar, yang sudah mengerti dengan keadaan ini.
Karena ingin memperlancar usaha Zaki, Fikar pun segera turun dari mobilnya, dan menghampiri ke arah mereka.
“Zifa, Kia,” sapa Fikar, membuat mereka memandang ke arah Fikar dengan terkejut.
Kia merasa aman ketika kakaknya sudah berada di hadapannya. “Kak! Aku mau pulang sekarang! Cepetan!” ujarnya ketus, seraya menarik lengan tangan Fikar.
Namun, Fikar menahan Kia agar tidak pergi dari hadapan Zaki.
“Eh, Kia ... Kakak baru dapat kabar, kalau hari ini ... Kakak mau ada meeting sama klien. Kamu ... bisa pulang sendiri, ‘kan?” ujar Fikar, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
“Apaan sih, Kak? Kenapa tiba-tiba buru-buru gitu? Apa gak bisa aku ikut bareng Kakak dulu?” tanya Kia, merengek seperti anak kecil.
Fikar menghela napasnya dengan panjang. “Gak bisa, Kia. Kakak harus pergi sekarang.” Fikar memandang ke arah Zaki, “Kamu temannya Kia, bukan?” tanyanya, berusaha untuk memberikan Zaki kesempatan untuk hal itu.
“Bagus, tolong antarkan Kia pulang, ya! Saya percaya kamu,” ujar Fikar, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
“Hah? Apa? Kakak percayain aku ke dia? Kakak aja belum kenal dia, kenapa Kakak malah percayain aku sama dia?” tanya sinis Kia, membuat Zaki tersenyum mendengarnya.
“Butuh jaminan apa?” tanya Zaki, membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
Ucapan Zaki lagi-lagi mirip seperti ucapan Zain padanya dulu. Hal itu semakin membuat Kia menderita, karena ia tidak bisa lepas dari Zain seutuhnya.
‘Kenapa malah makin mirip sama Zain?’ batin Kia, heran dengan apa yang terjadi di antara Zain dan juga Zaki.
“Ya sudah, saya titip Kia, ya!Bye,” ujar Fikar, yang lalu pergi dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Zifa.
Zifa tentu saja mengerti, dengan apa yang Fikar maksudkan.
“Emm ... Kia, aku juga kayaknya harus ke toko buku dulu, deh. Aku mau beli buku dulu sebelum pulang ke rumah,” pamit Zifa.
__ADS_1
Kia melotot, “Jangan bilang kamu mau ninggalin aku di sini juga sendiri, Zifa ....”
Zifa menyeringai, “Ya ... maaf Kia. Mau gimana lagi. Kamu pulang bareng dia aja ya. Bye~”
Zifa pun pergi dari sana, meninggalkan Kia dan Zaki. Hal itu membuat Kia merasa kaget, kesal dengan apa yang Zifa lakukan padanya.
“What? Dia beneran ninggalin gue di sini? Argh!” gerutu Kia yang kesal dengan keadaan ini.
Zaki tersenyum, “Ayo, pulang bareng gue,” ajaknya, Kia memandangnya dengan sinis.
“Gak mau!” tolak Kia dengan keras, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Ingat lho, ucapan lo di kantin tadi,” seloroh Zaki, membuat Kia terdiam sejenak lalu semakin kesal mendengarnya.
“Ih!” Kia pun segera masuk ke dalam mobil sport yang Zaki bawa, membuat Zaki tersenyum karenanya.
‘Ya, akhirnya dia mau juga masuk ke mobil,’ batin Zaki, yang merasa sedikit senang karena usahanya tidak sia-sia.
Zaki pun akhirnya masuk ke dalam mobil, untuk mengantarkan Kia pulang ke rumahnya.
Dari sudut sana, seseorang mengintai dari dalam mobilnya. Ia melihat Kia yang berjalan dengan Zaki, membuat darahnya menjadi naik seketika.
“Dia mau main-main sama gue, ya?” gumam Adnan kesal, dengan tatapan yang sinis memandang ke arahnya.
Karena sudah seperti ini, Adnan kembali menghubungi pria misterius yang sebelumnya hendak membunuh Zain.
Adnan mendekatkan handphone ke telinganya. “Halo, lo boleh jalanin tugas sekarang. Ajak yang lain, biar lo gak sendirian,” ujarnya yang lalu segera menyimpan kembali handphone-nya.
“Kalau gue gak bisa dapetin Kia, gak ada yang bisa dapetin dia juga!” gumam Adnan, membuatnya merasa sedikit puas karenanya.
Sementara itu di sana, Fikar sudah sampai di tempat lokasi Zifa menunggu. Zifa yang menyadari kedatangan Fikar, langsung saja masuk ke dalam mobilnya setelah mobil itu berhenti.
Di dalam mobilnya, Fikar sudah menunggu kedatangan Zifa. Ia sengaja memutar balikkan kendaraannya kembali, agar bisa menjemput Zifa, sesuai dengan janjinya kemarin.
“Akhirnya kamu datang juga,” ujar Zifa, membuat Fikar tersenyum mendengarnya.
“Harusnya aku yang bicara begitu, Sayang,” ujar Fikar, yang lalu segera mengecup kening Zifa dengan lembut.
__ADS_1
BERSBUNG....