
Setelah sampai di rumah Kia, mereka masih duduk saja pada tempatnya. Mereka terdiam sejenak, karena tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan. Mereka sama-sama canggung, dan aneh dengan keadaan ini.
Zaki melirik ke arah Kia. “Makasih ya, udah mau ngajak gue ketemu,” ujarnya tiba-tiba, memecah keheningan mereka.
Kia menoleh ke arahnya, “Ya, makasih juga udah dateng ketemu sama gue, dan bicarain hal yang aneh,” ujarnya, membuat Zaki tertawa mendengarnya.
“Emangnya aneh ya, kalau lagi bicara sama gue?” tanyanya, Kia mengangguk mendengarnya.
“Aneh banget, pake ngomongin soal orang yang ledekin lo segala haha,” jawab Kia, membuat suasana menjadi sedikit longgar karena mereka tertawa.
Kini, mereka berhasil menemukan kembali kondisi yang rancu. Mereka berhasil menciptakan kembali hal yang membuat mereka nyaman.
“Ah, ngapain sih ngomongin mereka? Kabarnya mereka lagi ribut sekarang, karena ceweknya ketahuan godain orang yang lebih keren dan berduit,” seloroh Zaki, Kia tertawa kecil mendengarnya.
“Ada banyak orang yang begitu, lo baru nemuin satu,” ujar Kia, Zaki memandangnya bingung.
“Ha? Masa sih ada banyak? Tau dari mana?” tanya Zaki merasa penasaran dengan apa yang Kia katakan.
“Ya ... tau aja. Pasti banyak orang yang seperti itu,” jawab Kia, membuat Zaki bingung mendengarnya.
“Ah, yang bener aja? Ada satu aja repot, apalagi ada banyak?” Zaki semakin mengeraskan tawanya.
“Yang repot tuh kalau lo yang ada banyak, jadi bingung deh,” seloroh Kia.
“Justru bagus, dong! Jadi yang jagain lo ada banyak, gak cuma gue doang,” seloroh Zaki, membalas ucapan Kia, membuat Kia merasa bingung mendengarnya.
“Apaan? Yang ada malah bingung guenya,” ujar Kia, yang merasa tidak menginginkan hal itu.
Zaki menyeringai, “Jadi, gue aja cukup untuk jagain lo, nih?” tanyanya, Kia mendadak terdiam mendengarnya.
Ucapan Zaki sangat rancu, membuat Kia merasa agak aneh mendengarnya. Menjaga di dalam konteks ini, adalah menjaga dalam bentuk yang lain, sehingga membuat Kia merasa aneh sendiri karenanya.
__ADS_1
Kia mendadak berubah sikap, “Zaki, jangan begini. Gue gak bisa,” tolaknya, membuat Zaki merasa bingung dengan apa yang Kia katakan.
“Lo gak bisa kenapa, Kia? Emangnya apa yang gue lakuin ke lo sih, sampai lo bilang gak bisa gitu? Gue bingung,” tanya Zaki bingung, membuat Kia memandangnya dengan dalam.
“Lo jangan ngomong hal yang rancu, gue gak bisa kalau ngomongin soal yang ambigu,” jawab Kia, Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Gue gak ngomongin hal rancu, Kia. Gue emang akan jaga lo. Lo harus terima, apa pun yang gue ucapin ke lo. Tenang aja, gue gak akan kelewat batas. Gue gak bisa kalau harus nahan apa yang gue ingin katakan. Gue emang begini kalau sudah kasih komitmen ke orang lain,” ujar Zaki, membuat Kia terdiam sejenak mendengarnya.
“Lo kasih komitmen, ke orang yang lo anggap teman?” tanya Kia tak percaya, Zaki memandangnya bingung.
“Lho memangnya kenapa? Komitmen bisa untuk siapa aja. Bisa untuk teman, sahabat, adik, kakak, rekan bisnis, dan lain sebagainya,” ujar Zaki, membuat Kia terdiam kembali mendengarnya.
“Apa lo juga kasih komitmen lo, untuk orang yang lo sayang?” tanya Kia, penasaran dengan apa yang menjadi jawaban Zaki.
Zaki memandangnya dengan tegas. “Pasti. Gue pasti ngasih komitmen ke orang yang gue sayang,” jawabnya, lalu tertawa kecil setelah mengatakannya.
Kia memandangnya bingung. “Lo kenapa ketawa?” tanyanya.
“Lah, kenapa gak pernah?” tanya Kia lagi.
Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Karena cewek yang gue sayang, adalah kekasih kakak gue. Gak mungkin gue kasih dia komitmen, sementara dia pasti sudah dapat komitmen dari kakak gue,” ujarnya, merasa sedih ketika mengatakannya.
Apa yang Zaki rasakan, ternyata Kia pun merasakannya. Ia merasa turut bersedih, karena biar bagaimanapun juga mereka sudah menjadi teman, yang akan berbagi, di saat senang ataupun sedih.
Kia mengusap lembut bahu Zaki. “Yang sabar, gue juga turut sedih, kok,” ujarnya.
Zaki tersenyum, “Biasa aja, tuh. Gak terlalu sedih banget,” bantahnya, tetapi Kia sama sekali gak percaya mendengarnya.
“Ditinggal pergi untuk selamanya, dengan orang yang kita sayang, gak mungkin kalau gak terlalu sedih. Apalagi posisinya lo gak bisa memiliki dia, walaupun hanya sementara,” ujar Kia, yang sudah mengetahui pangkal permasalahannya.
Zaki tertawa kecil mendengarnya. “Hah, ketahuan ya? Cepat banget ketahuannya,” gumamnya, merasa sangat bingung dengan Kia yang bisa menebak semua hal yang ia rasakan.
__ADS_1
“Firasat wanita kuat,” celetuk Kia, Zaki mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, lo benar. Wanita memang punya firasat yang kuat,” sahut Zaki.
Mereka terdiam sejenak, karena tidak ada topik pembicaraan yang mereka bicarakan lagi.
Kia memandang kembali ke arah Zaki. “Apa selain cewek yang lo suka itu, ada cewek lain yang lebih lo suka sebelum dia?” tanya Kia, Zaki mengangguk kecil mendengarnya.
“Ada, tapi itu cinta monyet doang,” jawab Zaki, membuat Kia menjadi penasaran dan ingin sekali mendengarnya.
“Wah, cinta monyet? Kasih tahu dong!” ujar Kia, Zaki pun tertawa kecil mendengarnya.
“Kasih tahu apa?” tanya Zaki heran dengan ucapan Kia.
Kia memandangnya dengan datar. “Ya kasih tahu namanya, apa yang lo suka dari dia, apa ada janji anak kecil yang kalian ucapin waktu itu?” ujarnya berusaha mengajarkan apa yang harusnya Zaki jelaskan padanya.
Zaki menghela napasnya panjang. “Gue gak tau siapa nama dia,” jawabnya, membuat Kia bingung mendengarnya.
“Lho, kenapa lo gak tahu?” tanya Kia dengan heran lagi.
“Ya, namanya aja cinta monyet. Gue kenal dia saat kita masih sekitar usia ... gue lupa berapa tahun. Intinya kita masih kecil gitu. Kita gak sengaja ketemu, dan ... ya, kita udah gak pernah ketemu lagi,” ujar Zaki menjelaskan, membuat Kia semakin penasaran saja dengan kelanjutan kisah cinta monyet mereka.
“Lho, kenapa lo gak pernah ketemu dia lagi?” tanya Kia, semakin penasaran karenanya.
“Ya, karena saat itu gue pindah dari daerah itu,” jawab Zaki, membuat Kia sedikit memikirkan hal yang tiba-tiba saja terlintas di benaknya.
Namun, Kia segera menepiskan semua hal yang ia pikirkan.
“Rasa cinta lo ke dia, apa melebihi rasa cinta lo ke pacar kakak lo?” tanya Kia.
Zaki terdiam sejenak. “Gue gak bisa memastikan. Karena cinta gue ke mereka sama-sama cinta yang jujur. Pertama cinta monyet itu memang cinta yang jujur, tapi setelah makin dewasa dan makin mengerti cinta, cinta kedua itu yang juga terasa jujur bagi gue,” jawabnya menjelaskan kepada Kia.
__ADS_1