Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Memperhatikan Kia


__ADS_3

Happy reading....


Siang ini, Zaki sudah menyelesaikan perkuliahannya. Ia sudah tidak ada mata kuliah apa pun lagi, sehingga ia bebas untuk pergi ke mana pun, bahkan jika ia ingin pulang sekalipun.


Ia melangkah ke arah kantin, untuk sekadar mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan. Karena ia tidak sempat sarapan, ia sengaja memesan makanan berat sekaligus.


Sembari menunggu makanan yang ia pesan tersedia, Zaki pun membuka aplikasi novel online, dan melihat banyak sekali novel-novel yang masih belum sempat ia baca.


Salah satunya adalah novel karya dari sarjiputwinataaa, dengan judul ‘Day After The Incident’ yang sudah tamat di aplikasi tersebut.


Ia sangat senang membaca, meskipun hanya di sela rutinitasnya. Ia menyempatkan membaca, karena hanya dengan membaca ia bisa mengendurkan syaraf-syaraf otaknya yang tegang, karena seharian mengerjakan pekerjaan kampusnya.


“Ini udah tamat, tapi gue masih baca bab 70 aja. Kenapa gak sempet mulu, sih? Padahal novelnya seru, kisah seorang dosen yang jatuh cinta terhadap mahasiswanya,” gumam Zaki, sembari membaca novel tersebut.


Tak berapa lama kemudian, makanan yang ia pesan tersedia di hadapannya. Ia lekas menyimpan handphone-nya pada saku celananya, dan mulai menyantap makanannya.


Ini adalah makanan kesukaan Zaki, jika ia tidak sempat memasak di rumah.


Soto mi Bogor.


Kedengarannya sangat unik, sampai rasanya pun terbilang sangat unik. Paduan bumbu dan juga makanan yang ada di dalamnya, membuat Zaki merasa sangat senang memakan makanan ini.


Ada daging sapi iris, dan juga risol, tentunya juga ada mi yang semakin membuat makanan ini terasa sangat nikmat.


Apalagi, jika ia memakannya bersama nasi. Itu akan terasa semakin nikmat. Zain muncul tiba-tiba di hadapannya, membuat Zaki mendelik dan hampir saja tersedak melihatnya.


Buru-buru Zaki mengusap kuah soto yang sudah berlumuran di sekitar sudut bibirnya, dan langsung memandangnya dengan sinis.


“Udah saya bilang, jangan muncul tiba-tiba begitu! Bikin kaget aja!” bentak Zaki, membuat orang yang melintas di hadapannya, memandangnya dengan sinis.


Zaki menyadari hal itu, dan menunjukkan telapak tangannya, pertanda kalau ia meminta maaf kepada orang yang melintas itu.

__ADS_1


Zain tersenyum melihat reaksi Zaki tersebut, “Maaf, saya gak sengaja. Saya belum terbiasa seperti ini, jadi saya belum bisa mengendalikannya,” ujarnya, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.


“Ya sudah, gak apa-apa,” ujar Zaki, yang tangannya meraih ke arah minuman yang terletak tak jauh dari mangkuk sotonya.


Zaki menyesap minuman tersebut, dan tak sadar matanya terpaku ke arah seorang gadis yang ada di hadapannya. Melihat gadis itu berjalan di hadapannya, Zaki pun hanya bisa memandangnya dengan bingung. Dirinya menerka-nerka, karena sepertinya ia merasa pernah bertemu dengan gadis ini.


Akan tetap, di mana? Entahlah.


Zain melihat ke arah yang Zaki pandang, kemudian kembali melihat ke arah Zaki.


“Ada apa?” tanya Zain.


“Gadis itu ... sepertinya aku pernah lihat,” gumam Zaki, yang tanpa sadar sudah mengucapkan hal itu pada Zain.


Zain terkekeh mendengarnya, “Dia Kia, kekasihku. Tentu saja kamu pernah lihat. Kamu sudah pernah lihat dua kali. Pertama di pemakaman kemarin, kedua di rumahnya pagi tadi,” ujarnya, membuat Zaki segera tersadar dengan keadaan.


“Eh ....” Zaki memandang ke arah Zain dengan bingung, karena bukan itu yang ia maksud.


Namun, Zaki tidak ingin memberitahu kepada Zain tentang apa yang ia maksud. Biarlah Zain menganggapnya tidak jelas, asal ia tidak membocorkan apa pun tentangnya kepada Zain.


Zain hanya menggelengkan kepalanya kecil, dan memandang kembali ke arah Kia yang baru saja datang bersama dengan Zifa.


“Itu Zifa, sahabat baik Kia. Kamu bisa mendekati dia, untuk mengutarakan maksud kamu yang ingin menjaga Kia,” ujar Zain, membuat Zaki memandangnya dengan bingung.


“Hah? Mendekati siapa?” tanya Zaki.


Nampaknya Zaki masih saja belum sadar sepenuhnya, dan masih memikirkan hal yang ia pikirkan itu.


“Kamu dekati Zifa, teman Kia yang berada di sampingnya. Kamu minta tolong dia, dan bilang ke dia tentang maksud kamu mendekati Kia. Bilang saja, aku yang menyuruh kamu,” ujar Zain menjelaskan, membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.


“Kamu gila, hah?” pekik Zaki, membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Merasa malu diperhatikan seperti itu, Zaki pun hanya bisa menunduk, dan mengalihkan perhatiannya dari mereka. Mungkin saja mereka sudah menganggap Zaki gila, karena sudah mengatakan hal yang aneh seorang diri.


“Mahasiswa pasca sarjana ya, Bang?” teriak salah seorang yang jauh di sana, membuat Zaki memandangnya dengan malu-malu.


“Ya, Bang. Maklumi aja, ya!” sahut Zaki, mereka paham dengan yang Zaki maksudkan.


Memang, banyak orang yang tidak kuat menerima pelajaran dari dosen, sehingga membuat mereka setengah sadar sudah melakukan hal-hal yang aneh.


Zain tertawa melihat sikap Zaki, yang seperti itu di hadapan orang lain.


“Mereka sudah anggap kamu gila,” seloroh Zain, membuat Zaki mendelik sinis ke arahnya.


“Ya, dan itu semua gara-gara kamu!” bentaknya lirih, tak ingin mereka memandang ke arahnya kembali.


Zain menggelengkan kepalanya, “Sudahlah, kamu tinggal dekati Zifa, dan bilang kalau saya yang meminta kamu melakukannya,” ujarnya, berusaha untuk menyuruh Zaki melakukan apa yang ia pinta.


Zaki memandangnya tak percaya, “Kamu gila? Gimana kalau dia gak percaya sama saya?” tanyanya berbisik.


“Kamu tinggal kasih tahu yang sejujurnya sama dia. Kamu kasih tahu, setiap hari aku penasaran, dan gak akan tenang kalau kamu gak melakukan hal ini,” ujar Zain dengan polosnya, membuat Zaki menepuk keningnya dengan keras.


“Demi neptunus, kenapa aku berada di keadaan yang membingungkan?” gumam Zaki, yang merasa sangat kesal dengan keadaan ini.


Jika ia menolak, itu tandanya ia sudah melanggar janji pada Zain. Ia juga kasihan pada Zain, dan juga tidak ingin dihantui terus-menerus oleh Zain.


“Gimana caranya? Paling enggak, kasih tau cara buat deketin si Zifa. Gimana orangnya?” tanya Zaki.


“Zifa orangnya friendly. Tenang aja, tapi kamu juga harus hati-hati bicara sama dia. Kasih tau dengan jelas di awal, tujuan dan maksud kamu deketin dia,” ujar Zain memberi clue.


Zaki mengangguk kecil mendengarnya, “Nanti saya dekati dia pelan-pelan,” ujarnya, membuat Zain juga ikut mengangguk kecil mendengarnya. Mereka terdiam, sembari memperhatikan ke arah Kia dan juga Zifa, yang sedang duduk jauh di hadapan mereka.


Zain memandangnya dengan rasa rindunya, sementara Zaki memandangnya dengan rasa penasarannya. Walaupun sudah beberapa kali bertemu Kia, ia masih belum sadar dengan keadaan ini. Ia masih penasaran, apakah Kia orang yang dimaksud dirinya itu?

__ADS_1


‘Apa benar dia?’ batin Zaki, merasa sangat bingung dan tetap memperhatikan Kia dengan saksama.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2