
Kia tersadar dengan Zaki yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya. “Ngapain lo senyum-senyum gitu?” tanyanya.
“Kenapa? Takut diabetes ya ngeliat gue senyum-senyum di depan lo?” tanya Zaki dengan sedikit candaan, membuat Kia terkejut lagi dengan candaan yang Zaki lontarkan.
Zain juga sering memandangi Kia dengan senyumannya yang manis. Ia juga sering membuat Kia salah tingkah, dan akhirnya mengatakan hal yang Zaki katakan itu.
Semua ucapan Zaki terasa mirip seperti yang Zain katakan. Kia malah jadi diam, sembari mendelik ke arah Zaki.
‘Mereka sama ... ini Zain yang bereinkarnasi, atau aku yang kembali ke masa lalu, dengan orang yang berbeda? Tolong bantu aku, Tuhan ....’ Kia merasa aneh, karena setiap ia bersama dengan Zaki, bayangan Zain terus terbayang, membuat Kia merasa sangat bingung dan entah apa yang harus ia lakukan.
Melihat Kia yang hanya bisa diam, Zaki pun ikut diam karenanya. Ia memandang setiap inci wajah Kia, karena hanya saat seperti inilah yang bisa ia manfaatkan, untuk melihat dan menilai Kia lebih jauh lagi.
‘Dia beneran imut kalau lagi seperti ini. Pantasan saja Zain sampai tergila-gila, bahkan sampai sudah jadi arwah pun, arwahnya masih bergentayangan karena penasaran dengan Kia. Beruntung banget kalian bisa kenal dulu. Yaa ... walaupun sekarang kalian sudah pisah dan beda alam,’ batin Zaki, merasa sangat penasaran dengan sosok Kia yang ada di hadapannya.
Beberapa saat berlalu, Kia pun tersadar dari lamunannya. Karena melihat Kia yang tersadar dari lamunannya, Zaki pun ikut tersadar dari lamunannya. Waktu untuk mebayangkan wajah Kia telah usai, Zaki harus menunggu kesempatan lain lagi untuk bisa melakukannya.
“Ngapain lo ngeliatin gue?” tanya Kia lagi, seperti De Javu bagi Zaki.
“Tadi bukannya lo udah nanya begitu, ya? Kenapa sekarang nanya lagi?” tanya Zaki, heran dengan sikap Kia di hadapannya.
Kia gugup mendengarnya, “Emm ... kenapa memangnya? Ada larangan kalau harus nanya sekali aja?” tanya Kia, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Kenapa memangnya? Memangnya ada larangan juga, kalau gue gak boleh mandangin wajah lo?” tanya Zaki, sontak membuat Kia kesal mendengarnya.
“Apaan sih lo! Jangan malah muterin ucapan gue! Dasar, gak kreatif!” ujar Kia, lagi-lagi Zaki hanya tertawa mendengarnya.
Zaki pun mengambil bungkusan yang ada di atas meja. Ia pun duduk di sebuah sofa, dan memandang ke arah Kia sambil menepuk-nepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.
Merasa terpanggil, Kia pun sedikit terkejut. “Ngapain?” tanya Kia sinis.
“Ganti plester lo. Dari semalam belum diganti, bukan?” ujar Zaki, membuat Kia tertdiam mendengarnya.
__ADS_1
‘Kenapa dia malah begitu? Kenapa dia malah bikin gue merasa aneh?’ batin Kia bertanya-tanya, merasa aneh dengan apa yang Zaki lakukan padanya.
“Lo gak seharusnya ngelakuin ini ke gue, Zaki ....” Kia merengek, merasa sangat tidak bisa diperlakukan seperti ini oleh Zaki.
Perlakuan Zaki mirip seperti perlakuan Zain padanya. Ia merasa aneh, ketika Zaki melakukan hal itu padanya.
Perhatiannya membuat Kia bingung membedakan, antara sosok Zain yang ia cinta dan juga sosok Zaki yang baru saja ia kenal.
Zaki memandangnya dengan heran, “Lho, memangnya kenapa gue gak boleh gini?” tanyanya, berusaha untuk mendesak Kia, agar memberitahu alasannya.
“Karena gue takut malah jadi jatuh ci—”
Ucapan Kia terpotong, karena ia tersadar dengan apa yang ia ucapkan pada Zaki. Zaki sudah mengetahuinya, walaupun Kia sama sekali tidak melanjutkan ucapannya itu.
Karena tidak ingin sama-sama canggung, Zaki pun memutuskan untuk tidak membahasnya dan berpura-pura untuk tidak mendengarnya.
“Sini, gue bantu lo buat ganti kain kasa dan plester,” ucap Zaki.
Karena Kia yang juga tidak ingin merasa canggung, ia pun akhirnya menurut dengan Zaki, dan duduk di sebelahnya.
Setelah memastikan semuanya aman, Zaki pun memandang ke arah luka di kening Kia. Ia tersenyum, karena berhasil memakaikan kasa baru itu.
“Nah ... begini ‘kan bagus,” gumam Zaki, wajah Kia mendadak memerah, saking dekatnya jarak di antara mereka.
Menyadari perubahan wajah Kia, Zaki pun segera menjauhkan diri dari Kia, dan duduk agak jauh dari hadapannya.
“Sorry, gak sengaja gue,” ujar Zaki, Kia pun merasa kesal karenanya.
“Ih, ngapain sih lo begitu ke gue? Lain kali gak usah, gue bisa sendiri,” ujar Kia, dengan nada bicara yang cepat.
Zaki menghela napasnya dengan panjang, “Ah ... maaf. Gue gak sengaja,” ujarnya.
__ADS_1
Mereka sejenak saling diam, sampai akhirnya Kia pun bangkit dari sofa dan berdiri di hadapannya.
“Lo mau apa ke sini?” tanya Kia, mengalihkan percakapan mereka.
“Jenguk lo,” jawab Zaki seadanya.
“Memangnya gak ada kerjaan lain, apa? Susun tesis kek, atau kerjain makalah, kerja kelompok bareng?” tanya sinis Kia, Zaki menggelengkan kepalanya karena memang hari ini ia sedang tidak melakukan apa pun.
“Terus, sekarang udah ngobatinnya, bukan?” tanya Kia lagi.
“Iya, udah kok,” jawab Zaki.
“Kenapa gak pulang?” tanya Kia, Zaki memandangnya dalam.
“Mau di sini dulu, emangnya gak boleh ya?” tanya Zaki, Kia mendelik.
“Gak!” jawab Kia ketus, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya. Namun, justru itu adalah hal terimut dari Kia bagi Zaki.
“Jangan imut-imut, nanti gue kepincut,” seloroh Zaki, membuat Kia memandangnya dengan sinis.
“Zaki ... stop. Please ....”
Suasana seketika menjadi tegang, karena Kia yang saat ini sudah merasa terpojok dengan ucapan Zaki. Sebisa mungkin, Kia menahan agar mereka tidak berada dalam situasi aneh, yang memungkinkan terjadinya cinta lokasi di sana.
“Jangan sampai semua ini terjadi. Gue gak mau ada apa pun di antara kita. Gue kenal lo baru kemarin, dan gue sama sekali gak berharap apa pun dari kita! Stop deketin gue, stop miripin semua yang Zain lakukan! Gue gak butuh sosok Zain yang udah gak ada!” bentak Kia, membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.
Karena ucapan Kia itu, Zaki jadi merasa canggung. Maksud hati ingin mendekati Kia karena ingin menjaganya, ternyata Kia malah menganggapnya berbeda.
“Kia ... dengar sebentar. Lo salah persepsi mengenai gue,” ujar Zaki, yang sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi.
Namun, untuk menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya terjadi, Zaki benar-benar tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
“Apa salah statement gue, yang mikir kalau lo deketin gue karena memang udah kenal lama dengan Zain?” tanya sinis Kia, membuat Zaki semakin kaget saja mendengar tuduhan Kia itu.
BERSAMBUNG....