Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Mulai Menceritakan


__ADS_3

Happy reading....


“Sandwich dengan telur mata sapi, setengah matang.”


Zain terkejut, karena mendengar jawaban dari Zaki. Secara tidak langsung, makanan yang akan dimasak oleh Zaki, telah mengingatkannya kepada sosok Kia yang ia cinta.


‘Itu adalah makanan kesukaan Kia,’ batin Zain yang merasa kagum dengan sosok Zaki ini.


“Kau tahu nggak--”


“Nggak tahu tuh,” pangkas Zaki sebelum ucapan Zain selesai.


Zain menatapnya datar, “Saya belum selesai bicara. Kenapa kamu sudah potong? Ya jelas kamu tidak tahu, lah!” bentaknya, membuat Zaki tertawa kecil mendengarnya.


Ini adalah kali pertama Zain melihat Zaki tertawa. Dia merasa senang, karena bisa membuat Zaki tertawa seperti itu.


“Ini adalah makanan kesukaan Kia,” ucap Zain, membuat Zaki terdiam sejenak mendengarnya.


“Makanan kesukaan Kia?” gumam Zaki, yang merasa heran dengan ucapan Zain.


Zain menggangguk kecil, membuat Zaki berpikir keras, karena hal ini bisa secara kebetulan terjadi pada mereka.


Pandangannya ia tundukkan, napasnya ia hela, “Ini juga makanan kesukaan cinta pertama saya,” gumam Zaki, sontak membuat Zain mendelik kaget mendengarnya.


“Kenapa sekebetulan ini? Padahal, kita tidak janjian,” ujar Zain, membuat Zaki kembali menghela napasnya.


“Saya juga tidak tahu.”


Suasana menjadi rancu, karena mereka yang sama-sama diam tak bersuara. Suara dari kompor mengingatkan mereka dengan masakan, yang sedang Zaki masak. Kesadaran mereka kembali, mereka pun segera menoleh ke arah kompor.


“Masakannya!!” pekik mereka bersamaan.


Dengan sangat sigap, Zaki pun segera mematikan kompor tersebut. Mereka menghela napas karena sudah berhasil selamat dari tragedi yang hampir terjadi.


“Hampir saja,” gumam Zaki, dengan tangan yang mengelus dada.

__ADS_1


“Hati-hati, jangan sampai kejadian ini terjadi lagi,” ujar Zain mengingatkan padanya.


“Ya, mudah-mudahan ini nggak akan terjadi lagi,” ucap Zaki, yang kemudian segera menoleh kembali ke arah masakannya.


Zaki mengoreksi rasa dari masakannya yang ia buat. Kepalanya mengangguk-angguk kecil, karena rasa masakannya yang dinilai sudah sangat sesuai dengan seleranya.


Setelahnya Zaki mengambil sebuah mangkuk berukuran sedang, untuk meletakkan sup jagung buatannya.


Kemudian ia mengambil dua buah roti tawar. Ia memanggangnya dan juga memasak telur mata sapi yang setengah matang.


Setelah semua makanan selesai, Zaki meletakkan telur mata sapi setengah matang itu, di antara kepingan roti. Dia juga menambahkan saus dan juga mayonnaise, sebagai tambahan agar sandwich tersebut terasa lebih lezat.


“Sudah jadi,” gumam Zaki, sembari membawa semua makanan tersebut ke atas meja makannya.


Di hadapannya kini, sudah ada makanan yang terlihat sangat lezat. Aromanya pun tercium, sampai membuat Zaki menjadi semakin lapar.


Zain kembali berdiri di hadapan Zaki, “Kenapa selera makan kamu hampir sama seperti selera makan Kia? Sup jagung ditambah sandwich seperti ini?” tanya Zain yang masih merasa penasaran dengan mereka.


Karena sudah merasa lapar, Zaki pun tak menghiraukan dan segera melahap makanan yang ada.


Dia menikmati setiap makanan yang masuk ke dalam tenggorokannya, karena sudah seharian kemarin perutnya sama sekali tidak terisi makanan.


Zain melihatnya dengan sangat khawatir, karena mungkin saja Zaki akan tersedak, jika makan dengan keadaan yang seperti itu.


“Pelan-pelan saja makannya, jangan terburu-buru. Gimana kalau nanti kamu tersedak? Saya nggak bisa bantu kamu,” ujar Zain mencoba memperingati Zaki.


Zaki mendengarkannya, dan mulai mengurangi kecepatannya dalam melahap makanannya.


“Saya lapar. Seharian kemarin, saya nggak makan. Jadi sepertinya sekarang saya baru bisa makan dengan lahap seperti ini,” ucapnya menjelaskan pada Zain.


Entah sejak kapan mereka jadi sedekat ini. Zaki jadi sering berterus terang, dan mengatakan hal-hal yang ia rasakan kepada Zain.


Zain tersenyum karena ia merasa mereka sudah sangat dekat, tapi ia tidak menyinggungnya di hadapan Zaki.


“Kenapa kamu seharian tidak makan?” tanya Zain yang merasa penasaran.

__ADS_1


“Kemarin saya galau, terus saya berkunjung ke makam teman saya. Jadi saya tidak sempat makan,” jawab Zaki seadanya, sembari tetap melahap makanan yang ada di hadapannya.


Zain terdiam karena mendengar jawaban dari Zaki. Ia pun menunduk, karena ternyata Zaki memiliki sisi lembut yang tidak ia ketahui.


Bagaimana tidak, mereka baru saja mengenal satu sama lain. Masih perlu waktu untuk bisa mengenal masing-masing pribadi secara dalam, agar bisa mengasumsikan pendapat mereka masing-masing.


'Sepertinya Zaki memang pria yang baik. Saya tidak akan merasa khawatir, jika ia menjaga Kia,' batin Zain yang merasa sangat tenang.


Zain memandang Zaki dengan dalam, “Apa kamu mau tahu sedikit tentang Kia?” tanya Zain.


Pas sekali, Zaki sudah menyelesaikan makannya. Ia bangkit sembari membawa mangkuk dan piring kotor tersebut, ke arah wastafel.


“Sebentar, saya mau cuci piring dulu,” ujar Zaki menangguhkan ucapan Zain.


Zaki melangkah ke arah wastafel untuk mencuci piring kotor tersebut. Zain memandangnya dari arah meja makan, dan merasa Zaki adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab dan juga mandiri.


Berbanding terbalik dengan Kia yang selalu dimanja dengan kedua orang tuanya, sehingga ia tidak bisa melakukan apa pun pekerjaan yang biasa wanita lakukan.


‘Dia memang cocok dengan Kia, tapi saya masih tidak rela jika saya harus melihat dia bersanding dengan lelaki lain. Apakah akan terus seperti ini?’ batin Zain yang merasa kebingungan sendiri.


Zain menunduk sendu, ‘Saya tahu kami sudah berbeda alam saat ini, tapi kenapa perasaan ini masih tidak rela jika benar dia bersanding dengan pria lain? Saya meminta Zaki untuk menjaganya, bukan untuk memilikinya,’ batinnya lagi.


Zaki sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Iaa memandang ke arah Zain, yang sepertinya terlihat tidak baik-baik saja.


“Kamu kenapa?” tanya Zaki, sembari mengelap tangannya menggunakan tisu.


Zain memandang ke arahnya, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya.


Zaki melangkah ke arah sofa, kemudian segera duduk di sana. Ia memandang ke arah zain yang katanya hendak mengatakan sedikit tentang Kia.


“Bagaimana tadi? Apa yang mau kamu katakan?” tanya Zaki, yang sedikit penasaran dengan apa yang akan Zain katakan padanya.


Zain memandang ke arahnya, “Sedikit tentang Kia yang harus kamu ketahui. Ia mahasiswa semester akhir di kampus kita. Dia mengambil jurusan manajemen akuntansi. Dia punya seorang sahabat yang bernama Zifa dan juga seorang kakak bernama Fikar.”


Zain memperkenalkan semua sifat dan juga orang-orang yang berada di sekeliling Kia. Apa pun tentang Kia, Zain mengatakannya kepada Zaki.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2