
Zaki memandang Kia dengan dalam, karena ia merasa harus mengatakan semua kejujuran ini secepatnya.
‘Gue harus ngomong yang sejujurnya sama Kia, secepatnya!’ batin Zaki yang merasa sangat senang, karena ia akan mengungkapkan semua perasaan yang ia rasakan.
“Habis ini, lo mau nggak ke rumah gue?” tawar Zaki, membuat Kia memandangnya bingung.
Karena Kia yang merasa tidak keberatan dengan hal itu, ia pun akhirnya mengangguk karena ia juga ingin sekali tahu di mana tempat tinggal Zaki yang sebenarnya. Selama ini ia sama sekali tidak pernah mengetahui hal itu.
“Oke,” ujar Kia, yang menyetujui tawaran Zaki.
Tanpa basa-basi, setelahnya mereka pun akhirnya menuju ke suatu tempat yang ternyata bukanlah rumah Zaki melainkan rumah dari Adnan. Hal itu membuat Kia bingung, karena Kia yang sudah pernah sekali mengunjungi rumah Adnan. Karena keadaan terdesak waktu itu, saat masih dekat dengan Adnan dan belum dekat dengan Zain. Kia pun merasa bingung, entah apa yang Zaki akanlakukan di sana.
“Lho ... ini ‘kan bukannya rumah ...,” ujar Kia, yang seketika terdiam karena tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Zaki mengangguk kecil mendengar. “Ya, lo benar. Ini bukan rumah gue, tapi rumah Adnan. Ayo kita turun dulu, biar gue tunjukkan sesuatu,” ujarnya, membuat Kia pun mengangguk mendengarnya.
Setelah Kia menuruni mobil Zaki, ia pun tersadar karena ia melihat banyak sekali mobil polisi di pelataran rumah Adnan. Tepat di depan pintu rumah Adnan juga sudah ada Fikar dan Zifa, dan para petugas kepolisian yang lainnya, yang ternyata sudah menghubungi rumahnya. Hal itu membuat Kia bingung, dan tidak menyangka dengan kejadian ini.
“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Kia, yang merasa bingung dan tidak tahu hal itu.
Walaupun Kia bertanya, tidak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaannya dan mereka pun fokus untuk membekuk Adnan yang masih ada di dalam rumahnya.
Salah satu komandan memberikan aba-aba, kemudian mereka pun memaksa masuk ke dalam rumah Adnan dan segera menodongkan pistol ke arah hadapan mereka.
Di hadapan mereka, terlihat Adnan yang saat ini sedang duduk di sofa bersama dengan kedua orang tuanya. Hal itu membuat kedua orang tuanya bingung, karena banyak sekali polisi yang datang ke dalam rumahnya.
“Jangan bergerak!” ujar mereka, yang langsung menodongkan pistol ke arah Adnan.
__ADS_1
Mereka pun membekuk Adnan, dengan orang tuanya yang merasa bingung dengan hal itu.
“Ada apa ini? Kenapa kalian menahan anak saya? Ada apa ini?” tanya orang tua Adnan bingung.
Adnan merasa sangat tidak percaya dengan hal ini. Ia tidak menyangka, kalau kejahatannya akan terbongkar secepat ini, sebelum ia mendapatkan hati Kia.
“Anak Bapak ditangkap karena telah melakukan upaya pembunuhan dan bukan hanya terjadi sekali tapi berkali-kali, dengan orang yang berbeda,” ujar petugas polisi tersebut, membuat mereka terkejut mendengarnya.
“Bawa dia secepatnya!” titah kepala polisi, membuat mereka pun segera membawa Adnan dari sana.
“Ma, Pa, tolong Adnan!” teriaknya, karena ia tidak ingin ikut bersama dengan mereka.
Kia pun tidak percaya mendengar hal ini, tetapi ia tidak bisa menanyakan alasannya langsung saat ini.
Setelah kejadian itu, mereka pun pergi ke rumah yang Zaki tempati yang adalah rumah Zain. Hal itu membuat Kia merasa bingung, karena Kia yang mengetahui bahwa ini adalah rumah Zain.
Zaki memandangnya dengan dalam. “Kia, ada yang gue pengen ngomongin sama lo. Tapi kita bicara di dalam aja ya? Gue harap, lo bisa nerima semuanya, ujar Zaki, membuat Kia tidak banyak berkata.
Karena Kia yang merasa penasaran dengan apa yang ingin Zaki katakan, Kia pun tidak banyak membantah.
“Baiklah.”
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam, dengan dibarengi Zifa dan juga Fikar. Mereka duduk bersama, dengan Zaki yang datang membawa minuman dan juga camilan di hadapan mereka.
“Dimakan dulu camilannya, sama minumnya,” ujar Zaki, membuat mereka pun tersenyum mendengarnya.
“Santai aja,” ujar Fikar.
__ADS_1
“Iya, lo kayak sama siapa aja,” sahut Zifa, membuat Kia memandang mereka dengan bingung.
‘Seperti orang yang sudah pernah lama sekali,’ batin Kia.
Kia pun memandang bingung ke arah Zaki. “Emangnya, apa yang mau lo ungkapin ke gue?” tanya Kia, membuat keadaan menjadi serius saat ini.
Zaki menghela napasnya panjang, karena ia yang ingin memberitahukan semuanya pada Kia.
“Sebelumnya, gue minta maaf banget sama lo, Kia. Karena gue udah nyembunyiin semua hal dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari lo. Gue benar-benar minta maaf sebelumnya,” ujar Zaki, membuat Kia merasa bingung mendengarnya.
“Memangnya apa yang lo sembunyiin?” tanya Kia, sembari melirik ke arah Fikar dan juga Zifa.
“Oke, gue mau blak-blakan dan jujur sama lo tentang semuanya. Sebenarnya ... yang mencoba membunuh Zain itu adalah Adnan. Dia juga yang berusaha buat neror kita. Kejadian ditusuk itu, kejadian kita di serempet, sampai lo kebentur itu karena dia juga. Dia yang udah nyuruh orang buat ancam kita dan juga buat Zain,” ujar Zaki, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
“Apa?” pekik Kia, yang merasa tidak percaya dengan hal itu.
“Ya, makanya waktu itu gue sama sekali nggak nerima keberadaan dia saatnya jenguk gue. Karena gue udah tahu sebenarnya dia yang ngelakuin semuanya, dan orang yang lo liat di CCTV apartemen Zain itu, yang lo bilang mirip gue itu bukan gue, tapi orang yang disuruh sama Adnan buat ngebunuh Zain. Namun, ternyata Zain terbunuh bukan karena pecundang itu, tapi murni karena kecelakaan. Dia yang sama sekali nggak ngelihat kiri dan kanan, apa lagi dia lagi buru-buru saat mau menghadiri acara pertunangannya sama lo. Akhirnya dia pun nggak ada sekarang,” ujar Zaki, membuat Kia mendelik sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Zifa yang melihat reaksi Kia, segera dan memeluk Kia untuk lepas dari pikiran yang saat ini sedang ia pikirkan.
“Nggak mungkin,” bantah Kia, yang merasa tidak percaya dengan hal ini.
“Sabar Kia,” ujar Zifa, sembari tetap memeluk Kia dengan erat.
“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Kia. Gue ngomong jujur kalau dari jaket yang gue kasih ke lo itu sebenarnya jaket milik Zain dan sama sekali bukan milik gue. Jadi gue sengaja ngasih itu ke lo, biar lo selalu ingat sama Zain. Tapi lo nggak mau,” ujar Zaki, membuat Kia memandangnya dengan derai air mata yang sudah mengalir.
“Kenapa lo nggak bilang kalau itu punya Zain?”
__ADS_1