
Happy reading....
Zifa sangat menyetujui, apa yang Zaki inginkan. Itu semua karena ia tidak ingin siapa pun mengetahui hubungannya dengan Fikar.
Masih terlalu dini untuk mereka memberitahu hubungan mereka. Mereka khawatir, hubungan mereka tidak sesuai dengan harapan, sehingga membuat mereka sangat kesulitan nantinya.
Sebagai gantinya, Zifa menyanggupi semua yang Zaki inginkan. Tidak ada lagi yang membuat Zifa ragu, dengan yang Zaki katakan padanya. Setelah pulang kampus, Zaki kembali ke apartemennya, dan beristirahat di atas ranjangnya.
Sebelumnya ia sudah sempat merapikan dan membersihkan dirinya. Ia hanya tinggal berleha-leha, sembari memainkan gawainya. Zaki sudah menyimpan nomor telepon Zifa, untuk sekadar menghubunginya mengenai masalah Kia.
“Satu hal sudah beres. Saya hanya tinggal mengikuti ke mana alur ini berjalan,” gumamnya, sembari memandangi nomor telepon Zifa, yang di profilnya terlihat foto Zifa bersama dengan Kia.
Zaki menghela napasnya dengan panjang, ‘Jadi mereka sedekat itu, ya? Pantas saja Fikar senang dengan wanita ini. Wanita ini kelihatannya sayang sekali dengan Kia. Kalau aku jadi Fikar, aku juga pasti akan mencintai wanita ini,’ batinnya yang merasa tidak heran dengan keadaan.
“Permisi,” ucap seseorang, Zaki menoleh ke arah orang tersebut yang ternyata adalah Zain.
Zaki mengubah posisi tidurnya, menjadi duduk menghadap ke arah Zain.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Zaki datar, Zain tersenyum mendengarnya.
“Sepertinya sudah berhasil mendekati Zifa, nih. Gimana sikapnya?” tanya Zain, Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Sikapnya terlalu waspada, tapi berhasil saya yakinkan. Dia mau membantu saya, karena saya sudah berhasil meyakinkan dia,” jawab Zaki, membuat Zain mengangguk-angguk kecil mendengarnya.
“Bagus, memang begitu Zifa. Terlalu waspada dengan semua orang yang baru ia kenal. Lama-lama dia akan terbiasa kok sama kamu. Tenang aja.” Zain mengerlingkan sebelah matanya, membuat Zaki mual melihatnya.
Mereka sama-sama tertawa, karena merasa senang berteman satu sama lain. Kedekatan mereka ini membuat Zain penasaran, bagaimana sosok Zaki dan kehidupannya sebelum bertemu dengannya.
“Hey, tolong beri tahu saya sedikit tentang kamu,” ujar Zain, membuat Zaki terdiam sembari memandangnya dengan bingung.
Zain menghela napasnya, “Maksudnya haus akan kasih sayang?” tanyanya kebingungan.
Suasana mendadak menjadi sangat serius, dengan Zaki yang tiba-tiba saja menundukkan pandangannya.
“Ya, saya haus akan kasih sayang. Sejak saya bayi, kedua orang tua saya sudah tiada. Saya hanya memiliki satu orang keluarga, yaitu kakak lelaki saya,” ungkap Zaki, membuat Zain membeku mendengarnya.
__ADS_1
Setidaknya, Zain sudah memiliki persepsinya sendiri tentang sosok Zaki yang ada di hadapannya ini.
“Kakak? Kakak laki-laki kamu? Dia sudah menikah?” tanya Zain, Zaki menggelengkan kepalanya.
“Dia belum menikah, padahal usianya mungkin sudah lebih tua dari kamu. Haha, lelaki yang jadi budak cinta itu, mungkin saja gak akan pernah bisa menikah,” ujar Zaki, setengah meledek kakak kandungnya sendiri.
Zain semakin bingung mendengarnya, “Budak cinta?” gumamnya bertanya-tanya.
“Ya, dia sangat cinta dengan kekasihnya. Sampai kekasihnya meninggal pun, dia gak bisa terima dan sekarang malah masuk rumah sakit jiwa karena gangguan jiwa,” ujarnya, sontak membuat Zain mendelik kaget mendengarnya.
Zain sangat mengerti, sesakit itu rasanya kehilangan pasangan yang sudah mereka cintai.
“Bukan budak cinta. Memang sangat sakit kehilangan orang yang kita cintai. Apalagi kehilangan untuk selamanya. Saya merasakannya, dan juga Kia. Saya tahu rasanya kehilangan, sama seperti kakak kamu,” ujar Zain, seketika membuat pandangan dan pemikiran Zaki.
Sejenak Zaki terdiam, saking dalamnya perkataan Zain itu. Sebenarnya Zaki juga tidak sepenuhnya meledek kakaknya tentang hal ini. Ia hanya sedang menutupi lukanya, dengan mencela sendiri apa yang ia rasakan.
Dark jokes.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....