Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Selamat Tinggal Kia


__ADS_3

Happy reading....


Tersadar kedatangan Zain dari arah lobi, lelaki misterius itu pun segera bangun dari tidurnya. Semalaman ia tidak bangun, dan hanya terus memandangi ke arah mobil Zain, khawatir Zain pergi dari sana, dan ia tidak mengetahuinya.


Lelaki itu berusaha untuk membenarkan posisi duduknya, dan mengucek mata kanannya.


“Dia udah naik mobil ternyata!” gumam lelaki itu, sembari berusaha untuk menyalakan mobilnya.


Mobil Zain terlihat pergi dari sana, sedangkan lelaki itu lantas mengikutinya dari belakang mobil Zain.


Lelaki itu sudah tahu, kalau hari ini adalah hari di mana Zain dan Kia akan mengucapkan sumpah hidup bersama. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, karena jika hal itu terjadi, itu akan membuat tugasnya menjadi sia-sia.


Mobil Zain keluar dari basement, ia segera menuju ke arah kediaman Kia. Tak ada waktu untuk menghubungi Kia. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana caranya ia bisa sampai di kediaman Kia secepat mungkin.


Giginya terus-menerus digertakkan, Zain merasa sangat khawatir jika ia terlambat lebih lama lagi dari saat ini.


‘Jangan sampai terlambat! Jangan! Saya gak mau bikin dia khawatir!’ batin Zain, yang merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.


Zain tidak menyangka, kalau dirinya ternyata bisa terlambat, pada acara yang sangat sakral ini. Padahal, Zain terkenal dengan dirinya yang selalu on time, saat memenuhi janji, atau bekerja.


Zain menginjak pedal gas, dan memacu mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasa.


Melihat Zain yang sudah pergi jauh di hadapannya, lelaki itu merasa kesal, karena ia masih terjebak di depan palang parkir apartemen.


“SHIT!” bentaknya, sembari menggebrak kemudinya.


Di sepanjang jalan yang Zain lintasi, lalu lintas sedang kacau. Ia bahkan tidak bisa menyalip kendaraan yang berada di depannya, dan ia benar-benar terjebak kemacetan lalu lintas.


“Ini ‘kan weekend! Kenapa malah macet gini, sih?!” pekik Zain, yang sudah terlanjur kesal dengan keadaan.


Untuk kali ini, Zain sama sekali tidak bisa menahan emosinya. Ia benar-benar khawatir dengan Kia yang pastinya sedang resah menunggunya di sana.


Sementara itu, semua orang di kediaman Kia, sudah pada tempatnya. Kia masih menunggu dengan resah, karena Zain yang tidak pernah mengangkan panggilan darinya.

__ADS_1


‘Zain ... kamu di mana? Kenapa gak datang-datang, sih?’ batin Kia, yang merasa sangat sendu dan juga khawatir dengan keadaan Zain.


Di sana, Zain yang sudah terjebak kemacetan, semakin kesal saja. Ia tidak bisa menggunakan handphone-nya, karena handphone-nya yang sudah mati total dan lupa disambungkan ke charger.


Namun, jika seperti ini terus, ia tidak bisa memberi kabar kepada Kia, dan pasti akan membuat Kia merasa sangat khawatir padanya.


“Kalau gini terus, pastinya dia bakalan khawatir sama saya,” gumamnya, yang berusaha untuk memutar otaknya, agar bisa segera menghubungi Kia.


Sembari memegang alih kemudi, Zain berusaha menyalakan handphone-nya. Namun, setelah beberapa saat, handphone tersebut tidak juga menyala.


Kepala Zain mendadak berat, saking kesalnya ia dengan keadaan, yang tidak berpihak padanya.


“Beneran gak bisa nyala handphone-nya!” gumam Zain dengan kasar, sembari mengatakan kata-kata kasar setelah bergumam demikian.


Karena masih berfokus ke arah handphone-nya yang tidak kunjung menyala, Zain tidak menyadari bahwa di depan sana ia menghadapi tikungan dari jalanan yang ada.


Zain masih berfokus pada handphone-nya, hingga pandangannya menuju ke arah jalanan kembali. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat mobilnya yang ternyata sudah menyeberang dari arah tikungan jalan, dan hampir menabrak pembatas jalan.


“What?!” pekiknya, yang lalu segera menginjak pedal rem dengan sangat kuat.


Mobilnya terhenti, lima sentimeter di hadapan pembatas jalanan. Ia menghela napasnya dengan panjang, karena ia hampir saja mengalami kecelakaan, yang membuat nyawanya terancam.


Beberapa saat memandang ke arah hadapannya, Zain menghela napasnya yang masih terasa tercekat, karena hampir menabrak pembatas yang ada di hadapannya.


“Hampir aja,” gumamnya, yang merasakan jantungnya yang sudah hampir copot.


TIN!


Terdengar bunyi klakson yang sangat kencang dari arah sebelah kanan mobil Zain, membuat Zain menoleh ke arah sebelah kanannya.


Di pertigaan jalan tersebut, mobilnya menghalangi sebuah truk yang sedang melaju dengan sangat kencang. Matanya mendelik dengan napas tercekat, karena truk tersebut yang sudah berada satu meter di sebelah kanannya.


Hati Zain bergejolak, karena dirinya yang masih tidak siap menghadapi hal ini. Ia belum mengucapkan selamat tinggal dengan benar kepada Kia, tetapi ia sudah menghadapi maut yang ada di hadapannya.

__ADS_1


‘Selamat tinggal, Kia. Aku sayang kamu,’ batin Zain, yang sudah tidak bisa mengelak lagi dari mautnya.


Truk tersebut menabrak mobil Zain yang melintang, membuat mobil Zain terpojok ke arah sebelah kanan pembatas jalan, membuat mobil tersebut ringsek tergencet di antara pembatas jalan, dan juga truk tersebut.


Mobil Zain sudah benar-benar hancur, ditambah lagi dengan keadaan jalanan yang kacau, membuat suasana huru-hara itu terjadi secara mengejutkan.


Lelaki misterius itu sudah kesal, karena sudah kehilangan jejak dari Zain. Ia semakin kesal, karena kondisi di pertigaan jalan ini, yang sedang mengalami kemacetan parah.


“Macet! Sialan!” pekiknya, sembari menggebrak stir kemudinya.


Lelaki itu memperhatikan ke arah jalan, dan melihat sebuah ambulans dan juga banyak sekali polisi di sekitar sana. Garis kuning yang baru dipasang seorang polisi, membuat lelaki itu yakin, bahwa di depan jalan sana ada seseorang yang mengalami kecelakaan.


Matanya menajam ke arah hadapannya, “Ada yang kecelakaan?” gumamnya yang penasaran, dan tanpa pikir panjang segera keluar dari dalam mobilnya untuk melihat korban kecelakaan tersebut.


Hanya beberapa meter dari tempat mobil lelaki misterius itu terjebak kemacetan, saat ini ia bisa dengan mudahnya melihat ke arah korban kecelakaan tersebut.


Matanya membulat sempurna, tak menyangka dengan apa yang ia lihat. Di sisi sana, seseorang yang menjadi dalang untuk menyuruh lelaki misterius itu untuk membunuh Zain, sedang menikmati secangkir kopi di tepi kolam renang pribadinya.


Ia menyesapnya perlahan, dan merasakan manis yang unik, dari seduhan kopi robusta yang ia sesap.


Handphone-nya mendadak berdering, membuatnya segera melirik ke arah handphone-nya, yang ia letakkan pada meja yang berada di sebelah kirinya.


“Dia lagi,” gumam lelaki itu, yang lalu meletakkan cangkir kopi yang masih ia pegang, dengan cara yang sangat elegan.


Terlihat jelas aura elegan yang dimilikinya, hanya dari cara ia meletakkan kembali cangkir kopi tersebut.


“Halo,” ujarnya, sesaat setelah ia menerima telepon masuk dari orang suruhannya itu.


Senyumannya mengembang, setelah beberapa saat ia mendengar ucapan yang dikatakan lelaki suruhannya tersebut. Ia tidak menyangka, kalau orang suruhannya itu sudah menjalankan tugas dengan baik dan benar.


“Oke, kirim nomor rekening kamu sekarang.”


Lelaki itu menyunggingkan senyumannya, kemudian memutuskan sambungan telepon dengan orang suruhannya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2