
Mendapatkan perlakuan manis Fikar, wajah Zifa pun memerah malu. Ia merasa sangat sangat malu, ketika Zulfikar mengecup keningnya dengan lembut.
Pikirannya mendadak melanglang buwana. Entah mengapa, sedikit sentuhan Fikar saja, sudah membuatnya terbang hingga ke awan.
Lebay? Ya, memang benar. Namun, itulah yang kini dirasakan Zifa, yang tengah dimabuk cinta oleh Fikar. Kedekatannya selama beberapa tahun ini, tidak menyurutkan rasa cintanya pada Fikar. Tidak ada kata bosan, malah Zifa sering merasa rindu, ketika tidak bertemu dua atau tiga hari.
“Kamu gak marah lagi sama aku, ‘kan?” tanya Zifa, yang masih teringat dengan hal kemarin dengan Zaki.
Fikar menggeleng, “Engga, karena aku sadar ... aku gak bisa marah lama-lama sama kamu. Aku gak sanggup kalau harus bentak-bentak kamu lagi. Aku gak bisa seharian aja tanpa kabar dari kamu,” jawab Fikar, menjelaskan pada Zifa mengenai hal ini.
Mendengar ucapan Fikar, Zifa pun tersenyum tersipu malu. Ia merasa sangat senang, karena sudah seberuntung itu bisa mendapatkan Fikar di sisinya.
‘Terima kasih Tuhan, karena kau telah mengirimkan lelaki seperti Fikar di hidupku,’ batin Zifa, merasa sangat bahagia dengan hal ini.
“Mmm ... so sweet,” seloroh Zifa, membuat Fikar tersenyum mendengarnya.
“Mau ke mana kita malam ini?” tanya Fikar, yang merasa harus mengalihkan perhatiannya dari Zifa.
“Mm ... ke mana aja. Yang penting berdua,” jawab Zifa, Fikar pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Oke. Kita makan, atau ... staycation?” tanya Fikar ragu, sontak membuat Zifa merasa kaget mendengarnya.
“Hah? Staycation? Apa aku gak salah denger?” tanya Zifa, Fikar pun mendadak malu mendengarnya.
“Engga, kok. Kamu gak salah denger,” jawab Fikar dengan nada yang malu, membuat Zifa merasa sangat aneh dengan yang Fikar katakan.
‘Kenapa dia tiba-tiba ngajak staycation? Ini baru pertama kali dia ngajak aku pergi staycation,’ batin Zifa, merasa sangat bingung dengan apa yang harus ia jawab pada Fikar.
Wajahnya tiba-tiba saja memerah, saking bingungnya dengan aktivitas yang mungkin akan dilakukan mereka nantinya.
Zifa menatap Fikar dengan ragu. “Kamu yakin mau ajak aku staycation?” tanyanya, bingung plus heran dengan apa yang Fikar tawarkan padanya.
Tak hanya Zifa, Fikar pun mengalami hal yang sama. Ia sebenarnya tidak bisa melakukannya, tetapi ia tidak bisa melewati kesempatan ini. Ia ingin bersama-sama, dan bermanja dengan Zifa, tanpa harus ada gangguan apa pun.
__ADS_1
“Ya, aku yakin. Memangnya ... kamu gak mau?” tanya Fikar, membuat Zifa kaget mendengarnya.
“Ah? A-aku?” gumam Zifa, bingung harus berkata apa di hadapan Fikar.
“Ya, kamu. Kamu gak mau?” tanya Fikar, dengan nada yang masih sangat ketakutan karenanya.
Zifa menelan salifanya, “Emm ....”
Sejenak Zifa berpikir, ‘Bagimana ini? Masa sih aku harus nolak ajakan dia? Tapi nanti kita ngapain di hotel? Bingung,’ batinnya, heran sekaligus bingung, dengan dada yang berdebar.
“Kalau kamu mau, kita bisa ke tempat yang sudah aku pesan sekarang,” ujar Fikar lagi, sontak membuat Zifa mendelik kaget mendengarnya.
“Kamu udah pesan hotel?” pekik Zifa, bingung dengan apa yang Fikar katakan.
Sebenarnya Fikar merasa sangat malu, tetapi ia tidak bisa menahan diri lagi di hadapan Zifa.
“Kita ... mau ngapain di sana?” tanya Zifa, bingung dengan yang akan ia lakukan bersama dengan Fikar.
Fikar tertegun, “Gak berbuat apa-apa, kok. Kita di sana hanya melepas rindu. Gak akan terjadi apa pun dengan kita,” jawabnya, membuat Zifa sama-sama malu karenanya.
“Oke, ayo kita ke sana,” ujar Fikar, yang mendapatkan anggukkan dari Zifa.
Mereka pun pergi ke tempat yang sudah Fikar pesan.
Sementara itu, Kia dan Zaki sedang menuju ke arah rumah Kia. Karena Zaki yang sudah tahu rumah Kia, ia segera mengantarkan Kia walaupun Kia tidak mengatakan apa pun sepanjang jalan, untuk memberitahu arah rumahnya.
Namun, Kia terkejut karena melihat Zaki mengemudikan mobilnya dengan benar, ke arah yang memang benar ke rumahnya. Hal itu langsung saja mengundang tanya, karena Kia merasa tidak memberitahukan alamat rumahnya.
“Lho, kok lo tau sih rumah gue di mana?” tanya Kia sinis, membuat Zaki sedikit menoleh ke arahnya, tetapi tetap memerhatikan ke arah jalan.
“Gue tau dari buku tahunan,” jawab Zaki datar, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
Sekelibat percakapan Zain dan dirinya kala itu, terbayang di hadapannya. Percakapan mereka itu juga sama seperti saat ini, membuat Kia merasa benar-benar seperti De Javu.
__ADS_1
‘Apa sih? Kenapa malah jadi kayak De Javu gini, sih? Kenapa ucapan Zaki dan Zain sama begitu? Waktu itu juga Zain anterin aku pulang, dan jawabannya sama,’ batin Kia, heran dan tak percaya dengan apa yang Zaki katakan padanya.
Karena sudah mengetahui reaksi Kia, Zaki hanya bisa diam sembari tetap memerhatikan ke arah jalanan.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Hal itu membuat Zaki dan Kia sama-sama mendelik, kaget karena mobil itu hendak menyerempet mobil sport mewah yang Zaki bawa.
“Awas!” pekik Kia kaget.
Dengan spontan, Zaki pun membuang stir ke kiri dan langsung menginjak rem, sehingga tak sengaja membuat benturan yang cukup kuat pada kening Kia.
Kia memegangi keningnya yang terbentur, lalu terkejut karena mendapati keningnya yang sudah berdarah seperti itu.
“Hah?” gumam Kia, dengan mata yang mendelik karena melihat darah di tangannya.
Zaki pun terkejut, karena melihat darah yang mengalir pada kening Kia. Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah pada Kia.
“Ya ampun ... Kia ... lo gak apa-apa?” tanya Zaki dengan sangat panik, Kia masih mengaduh sembari memegangi keningnya.
Zaki tak terima dengan perlakuan pengemudi mobil itu. Ia memandangi mobil itu dengan sinis, dan memerhatikan dengan benar nomor plat dan model mobil tersebut.
‘Sial! Dia siapa, sih? Kenapa ugal-ugalan begitu?’ batin Zaki, kesal dengan apa yang terjadi pada mereka.
Zaki kembali memandang ke arah Kia. “Kita ke rumah sakit sekarang!”
“Gak usah, Zaki!” bantah Kia seketika, membuat Zaki tak jadi bersiap-siap untuk mengemudikan mobilnya kembali.
“Gak usah gimana, Ki? Itu kening lo berdarah! Gue gak mau sampai lo kenapa-napa! Gue gak mau jadi lelaki yang gak berguna!” ujar Zaki dengan nada yang sangat khawatir.
Mata Kia membulat, ia merasa sedang berbicara dengan Zain sekarang. Zaki memang benar-benar mirip dengan Zain. Sampai semua ucapannya pun membuatnya merasakan De Javu.
Dengan rasa tak percaya, Kia mengulurkan tangannya ke arah wajah Zaki, membuat Zaki mendelik kaget mengetahuinya.
“Lo ... siapa lo sebenarnya?” tanya Kia.
__ADS_1
BERSAMBUNG....