Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Zain tak Kunjung Datang


__ADS_3

Happy reading....


Kia merasa sudah tidak tahan lagi. Ia sudah menunggu selama dua jam lamanya, tetapi Zain sama sekali tidak bisa dihubungi.


Semua orang sudah bertanya-tanya tentang keberadaan Zain, bahkan kedua orang tua Kia yang sedari tadi sudah siap pada posisi mereka.


Ayah menghampiri Kia, yang saat ini masih berada di kamarnya. Pandangannya hanya menangkap sosok Kia dan Zifa, sahabatnya, tapi tak melihat sosok Zain sama sekali.


“Di mana, Zain? Sudah 2 jam, tapi tak kunjung datang ke sini? Sudah coba hubungi dia?” tanya Ayah, Kia memandangnya dengan tatapan yang sudah sangat khawatir.


Sejak tadi, Kia memang sudah menghubungi Zain, tetapi Zain masih tetap tidak ada kabar. Jika ia bisa menghubunginya sejak tadi, pasti sudah ia lakukan.


Kia menggelengkan kecil kepalanya, “Zain gak bisa dihubungi, Yah,” ujarnya dengan raut wajah yang sangat khawatir.


Ayah menepuk keningnya cukup keras, “Ah! Kenapa ini? Kenapa anak itu gak tahu situasi dan kondisi, sih? Ini adalah hari pertunangannya, tapi dia bahkan terlambat datang ke sini,” ujarnya merasa kesal dengan sosok Zain, yang sudah membuat mereka semua menunggu seperti ini.

__ADS_1


Bukan salah Zain sehingga semua ini bisa terjadi. Ini adalah takdir, yang memang tertuliskan untuk mereka. Perasaan Kia memang sedang dilanda keresahan, dan juga firasat yang tidak baik. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Zain, sehingga membuatnya sampai terlambat seperti ini.


Matanya langsung mendelik ke arah Ayahnya, “Kak Fikar mana, Yah? Tolong susul Zain ke apartemennya!” ujarnya dengan tegas, membuat Ayahnya mendelik kaget mendengarnya.


Lelaki paruh baya itu sudah mengetahui betul, tentang firasat Kia yang jarang sekali salah. Ia tahu kemampuan putri bungsunya itu, apalagi Kia dan Zain pastinya memiliki ikatan batin yang kuat.


“Ya, tunggu sebentar. Ayah panggilkan Fikar!” ujar Ayah menyetujui.


Ayah segera keluar dari ruangan kamar Kia, untuk mencari keberadaan putra sulungnya itu. Sementara Kia dan Zifa tetap berada di dalam ruangan kamar Kia.


“Tenang, gak akan terjadi apa pun dengan pak Zain,” ujar Zifa yang berusaha untuk membuat Kia tenang.


Kia hanya mengangguk, berusaha untuk bersikap tenang, karena ia tidak ingin memikirkan sesuatu yang buruk tentang Zain di hari spesial mereka.


Di sana, Ayah sudah berhasil menemui keberadaan Zulfikar, kakak Kia yang sedang berada di bawah tangga. Ia menghampirinya, dan membisikkan sesuatu ke arah Fikar, kemudian mendapatkan anggukkan dari Fikar.

__ADS_1


Dengan segera, Fikar pergi melewati pintu belakang, untuk menuju ke arah apartemen Zain. Berbekal pengalamannya yang pernah sekali mengunjungi Zain, saat dia sakit, Fikar tahu arah untuk menuju ke apartemen Zain.


Dengan langkahnya jenjang, Fikar masuk ke dalam mobilnya, dan segera pergi menuju ke apartemen Zain.


Hanya harapan, yang bisa membuat Kia kuat. Ia selalu berdoa, agar pemikiran buruknya tidak terus menghantuinya. Beberapa saat berlalu, sudah setengah jam mereka menunggu kabar dari Zulfikar.


Kia masih tetap berharap, bahwa apa yang ia pikirkan tidak menjadi kenyataan.


Handphone-nya tiba-tiba saja berdering, diambilnya dengan segera, dan ia pun menerima panggilan yang ternyata dari Zulfikar.


“Halo, Kak Fikar. Gimana, Zain ada?” tanya Kia, yang merasa sudah sangat tidak sabar ingin memarahinya.


Fikar hanya diam, Kia merasa jaringannya tidak mendukung komunikasi mereka.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2