
Happy reading....
Zifa memandang bingung ke arah Kia, berusaha untuk mencari ide agar Kia tidak berpikir macam-macam mengenai hal ini.
“Ya sudah, kita masuk dulu ya ke ruangan pak Zain. Jangan bicara di sini,” ajak Zifa, Kia pun mengangguk kecil mendengarnya.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut, dan mengunci pintu ruangan dengan rapat.
Karena sudah melihat mereka masuk ke dalam ruangan Zain, Zaki yang sedari tadi menguntit pun langsung melangkah dan masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Ketika sudah berhasil masuk, ia langsung mengunci pintu rapat-rapat dan secara perlahan, agar Kia tidak mendengar tanda-tanda kehidupan di ruangannya.
“Ini gak bisa, saya harus pindah sementara waktu. Saya gak bisa di sini,” gumam Zaki, yang lalu segera duduk di sofa apartemennya.
Zain tiba-tiba saja muncul, tetapi Zaki tidak menunjukkan sama sekali reaksi terkejut karena melihatnya.
“Hey, kenapa tidak terkejut?” tanya Zain heran, Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Sudah biasa,” jawab Zaki datar.
Zain tertawa kecil mendengarnya, “Ya, maafkan saya karena tidak permisi dulu,” ujarnya.
“No problem.”
Zain memandang dalam ke arah Zaki. “Di sebelah ... apakah ada Kia?” tanyanya, Zaki pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, ada Kia dan Zifa sedang berada di ruangan kamar kamu. Saya jadi terlambat pulang, dan terlambat untuk makan malam lagi,” jawab Zaki dengan datar, Zain tersenyum kecil mendengarnya.
“Maafkan saya, Zaki. Karena saya, kamu jadi kesulitan seperti ini,” ujar Zain, Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Untuk apa minta maaf? Semua ini sudah terjadi. Daripada itu, kenapa kamu tidak mengunjungi Kia di ruanganmu?” tanya Zaki penasaran.
Zain menggeleng, “Saya tidak bisa melakukannya, Zaki. Saya harus tetap seperti ini, demi menjaga perasaan saya pada Kia. Saya tidak bisa melihat dia, khawatir perasaan saya malah menjadi tidak rela untuk meninggalkannya. Saya hanya butuh laporan dari kamu saja,” jawabnya, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Lantas, dari mana kamu tahu kalau di sebelah ada Kia?” tanya Zaki yang merasa agak aneh dengan jawaban Zain.
“Firasat,” jawab Zain, yang sangat tidak masuk akal bagi Zaki.
Zaki menggeleng kecil mendengarnya, “Tidak masuk akal,” gumamnya, merasa sangat heran dengan jawaban yang Zain berikan.
“Tali perasaan saya dan Kia cukup kuat, jadi saya bisa merasakan kehadiran Kia di sekitar saya. Apalagi sekarang saya sudah jadi arwah, jadi itu semua membuat saya lebih peka terhadap sekitar.” Zain duduk di samping Zaki, membuat Zaki heran melihatnya.
“Kamu bisa duduk di sofa?” tanya Zaki bingung, Zain tertawa kecil mendengarnya.
“Heran, ya? Sama ... saya juga sebenarnya heran. Tapi, namanya juga dunia perhaluan, memang seperti itu,” jawab Zain dengan asal, membuat Zaki merasa sedikit kesal mendengarnya.
“Ya ... gak salah sih, memang begitu dunia perhaluan mah. Yang tiada menjadi ada, yang ada jadi tiada, itu wajar,” ujar Zaki, yang juga memang sering membaca banyak novel fiksi pada aplikasi online.
Mereka terdiam sejenak, membuat Zaki teringat sesuatu. Zaki memandang tegas ke arah Zain, membuat Zain bingung dengan apa yang ia pikirkan.
“Ada apa?” tanya Zain.
“Saya harus pindah sementara dari tempat ini. Saya gak bisa tinggal di sini dulu, karena Kia mungkin akan terus cari cara untuk menemui jawaban atas kematian kamu,” jawab Zaki, Zain agak bingung mendengarnya.
“Tadi saya dengar, dia sudah mengetahui dan sudah menduga, kalau saya yang sudah membunuh kamu. Saya mendengarnya langsung dari mulutnya, dan saya merasa sangat khawatir. Kalau saja Kia benar-benar ingin menyelidiki masalah ini, dia pasti akan lebih cepat mendapatkan informasi. Karena waktu itu, saat pertama kali saya melihatnya di rumahnya, dia melihat saya dan benar-benar mengira kalau saya adalah pelakunya,” ujar Zaki menjelaskan dengan sangat detail.
Zain pun merasa ucapan Zaki ada benarnya. Ia harus memberikan solusi yang tepat, agar Kia tidak bisa menemukan Zaki selama beberapa saat ke depan.
“Kamu ... pakailah rumah pribadi saya untuk sementara. Tinggal di sana dengan baik, dan tetap ikuti perkembangan tentang Kia,” suruh Zain, Zaki mendelik tak percaya mendengarnya.
“Apa? Bagaimana jika mereka yang menghuni kebingungan dengan kedatangan saya? Apakah mereka akan setuju?” tanya Zaki, heran dengan ucapan dan permintaan Zain padanya.
“Tidak ada siapa pun yang menghuni. Keluarga pun tidak ada, jadi ... untuk apa kamu sungkan?” Zain berusaha untuk meyakinkan Zaki mengenai hal ini.
Zaki menghela napasnya dengan panjang. “Ya sudah, saya akan pindah besok.”
Zain mengangguk kecil mendengarnya, “Kunci rumah ada di meja kerja saya, di ruangan sebelah. Kamu harus mengambilnya dulu, agar bisa mengisi rumah pribadi saya,” ujarnya.
__ADS_1
“Ya, mungkin setelah Kia keluar dari ruangan, saya akan mengambilnya.”
Mereka pun sudah mendapatkan solusi dari permasalahan yang ada.
Malam ketika mereka sudah pergi dari sana, Zaki yang menerima pesan dari Zifa, langsung meluncur ke ruangan Zain untuk mengambil kunci rumah pribadi Zain.
Setelah mendapatkan kunci rumah tersebut, Zaki segera kembali ke ruangannya untuk mempersiapkan barang-barang yang hendak dibawa, untuk mengungsi ke rumah pribadi Zain.
***
Sore ini Fikar bertemu dengan Zifa di sebuah kafe tempat biasa mereka bertemu. Dengan perasaan rindu, keduanya pun bertemu setelah beberapa hari tidak melihat satu sama lain.
Zifa duduk di hadapan Fikar, dengan beberapa sajian yang sudah tersaji di hadapannya. Mereka sejenak saling memandang, sebelum menyantap makanan mereka.
“Sudah lama banget rasanya ya, gak ketemu ....” Zifa tersenyum dengan senyuman manisnya ke arah Fikar.
Fikar pun membalas senyumannya, “Ya, sudah lama. Rasanya yang sudah lama, padahal baru beberapa hari saja.”
Tatapan Zifa menjelajah ke dalam mata Fikar. “Kamu ... kangen sama aku?” tanyanya, yang sedikit menggoda Fikar.
“Kangen, banget malah.”
“Ah, gombal.” Zifa mengalihkan pandangannya, karena tidak ingin Fikar melihat wajahnya yang sudah berubah memerah saat ini.
“Gombal gimana? Aku beneran kangen sama kamu,” ujar Fikar, membuat Zifa merasa bertambah malu saja mendengarnya.
“Jangan begitu, aku jadi malu,” sanggah Zifa, lalu segera memandang ke arah Fikar kembali.
“Malu? Kamu malu sama aku? Kita pacaran udah lama, Sayang. Kenapa masih harus malu?” tanya Fikar dengan sedikit nada yang menggoda.
Zifa menghela napas, “Gak bisa dijelasin.” Karena sudah merasa malu, Zifa pun bangkit di hadapan Fikar. “Aku mau ke toilet dulu ya,” ujarnya.
Fikar mengangguk kecil mendengarnya, “Ya, jangan lama-lama ya,” pintanya, membuat Zifa mengangguk lalu segera pergi dari sana.
__ADS_1
Ketika sedang asyik memandang ke arah makanan yang tersedia, Fikar dikejutkan dengan sebuah pesan masuk di handphone Zifa.
Matanya mendelik, kaget dengan isi pesan yang masuk di handphone Zifa.