Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Bukti


__ADS_3

Karena sudah seperti itu, Zifa pun menyetujui apa yang sudah Fikar katakan. Ia mengeluarkan handphone-nya, lalu segera memesan taksi online dengan tujuan ke arah rumah lama Zain.


Zifa sudah membaca pesan singkat dari Zaki, sehingga ia bergegas untuk menuju ke arah tempat yang sudah Zaki katakan. Namun, rasa bersalahnya terhadap Fikar sangatlah besar, tetapi ia harus tetap merahasiakan semua ini, karena ini ada kaitannya dengan Kia.


Beberapa saat menunggu, taksi online yang Zifa pesan pun datang, sehingga Fikar pun memandang dalam ke arah Zifa.


Zifa menoleh ke arah Fikar, “Kak, aku duluan ya. Kakak semangat kerjanya,” ujarnya dengan senyuman yang tertoreh di setiap ucapannya.


Fikar mengangguk, “Ya, hati-hati kembali ke rumahnya. Nanti kalau sudah sampai rumah, kabarin saya,” ujarnya.


Terlihat sedikit tatapan canggung dari Zifa, tetapi ia bisa mengendalikan ekspresinya di hadapan Fikar. Zifa pun mengangguk kecil, lalu segera masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah tiba.


Fikar memandang dalam ke arah kepergian Zifa. Ia merasa sangat sedih, karena ternyata ia menangkap ekspresi aneh dari Zifa.


“Mungkin dia memang benar ingin ke rumah Zain?” gumam Fikar, yang lalu segera masuk ke dalam mobilnya untuk membuntuti ke mana Zifa pergi.


Namun, handphone-nya tiba-tiba saja berdering, ia segera mengangkat handphone-nya untuk menerima panggilan tersebut.


“Tuan, saya ingin memberikan bukti tersebut. Saya kirimkan melalui kurir ke alamat rumah Anda,” ujar seseorang yang sudah berjanji untuk mengirimkan video rekaman CCTV tersebut padanya.


“Ah, saya sedang ada di luar. Apa bisa sekalian mengirimkannya melalui chat?” tanya Fikar.


“Bisa, Tuan. Saya akan kirimkan.”


“Baik, terima kasih.”


Fikar menyudahi percakapannya dengan orang itu. Ia masuk ke dalam mobilnya, lalu segera memeriksa kembali handphone-nya, ketika orang itu sudah mengirimkan video itu padanya.

__ADS_1


Fikar membukanya dengan sangat penasaran, dan segera menyelidiki kembali hasil rekaman CCTV tersebut.


Di dalam video itu, ternyata memang benar ada seseorang yang sepertinya sangat menarik perhatian Zain. Lelaki yang Kia bilang pernah menguntitnya, membuat Fikar merasa sangat geram karenanya.


Fikar menghentikan video, sehingga terlihat lelaki yang ia curigai, yang ternyata adalah Zaki. “Ternyata ini ... lelaki yang menguntit Kia waktu itu?” gumamnya, yang berusaha untuk mengingat wajah Zaki dengan benar.


“Kalau memang benar dia, saya harus bersikap tegas! Jika sampai ketemu dengan orang ini, saya akan berusaha keras untuk memeras informasi dari lelaki itu!” gumam Fikar, merasa harus melakukan hal ini, demi kembalinya kesehatan mental Kia.


Fikar juga menemukan rekaman yang lain. Lelaki berjaket hitam misterius itu terlihat sedang menuju ke arah kendaraan Zain. Namun, langkah lelaki itu tertahan karena ia melihat ke arah CCTV.


Sekilas saat melihat ke arah CCTV, wajah lelaki itu terlihat seperti Zaki. Namun, lelaki yang berniat membuat Zain celaka, adalah orang yang berbeda dengan Zaki.


“Ternyata dia mau berbuat curang juga ke mobilnya Zain. Ini bisa jadi tambahan bukti, kalau seandainya benar!” gumam Fikar, yang merasa mendapatkan bukti baru, dari penyelidikannya.


Teringat tentang Zifa kembali. Ia merasa harus menyelamatkan Zifa, dari seorang lelaki yang sama sekali tidak ia kenal.


Karena tidak ingin ketahuan Zifa, Fikar sengaja menunggu di tepi jalan, agar Zifa lebih dulu sampai di rumah Zain. Ia sudah tahu di mana rumah Zain, membuatnya tidak mempermasalahkan jika harus tertinggal oleh Zifa.


Setelah kurang lebih 10 menit berlalu, barulah Fikar mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumah pribadi Zain yang terbengkalai.


Sesampainya di sana, tidak ada siapa pun yang terlihat di gerbang dan pelataran balkon rumah Zain. Namun, firasat Fikar mengatakan lain.


Karena rasa penasarannya yang tinggi, Fikar pun segera masuk ke dalam rumah tersebut, untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan.


Sementara itu, Zifa sudah sampai sejak tadi di rumah Zain. Mereka langsung saja berbincang mengenai Kia, dan bagaimana cara mendekati Kia, agar bisa menjaga Kia saat ini.


Mereka duduk berhadapan di sofa rumah Zain, dengan tangan yang sama-sama menggenggam minuman ringan. Mereka berbincang biasa, dengan tatapan Zifa yang tidak bisa teralihkan dari Zaki.

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa pindah di rumah Zain?” tanya Zifa, memulai percakapan di antara mereka.


Ya, walaupun sejak tadi mereka sudah bersama, tetapi mereka sama sekali belum ada yang menyinggung masalah ini. Barulah Zifa mengatakannya, karena ia sudah terlanjur merasa sangat penasaran.


“Ya, seperti yang kamu tau. Kia salah sangka dengan saya. Dia kira saya yang sudah membunuh Zain, padahal mah sama sekali saya gak melakukan itu,” ujar Zaki menjelaskan, Zifa mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, Kia bilang seperti itu kemarin. Hanya karena dia ngelihat orang yang ingin buka pintu ruangan kamu, dia jadi mengira itu kamu. Apalagi di CCTV juga ada pak Zain yang sedang lihat ke arah kamu,” ujar Zifa, membuat Zaki mendelik mendengarnya.


“Apa? Ada Zain yang sedang lihat aku? Aku gak sadar ....”


“Ya, kamu gak akan sadar. Soalnya kamu jalan duluan ke arah lift, sementara pak Zain hanya bisa memandang kamu dari belakang,” papar Zifa, berusaha menjelaskan tentang apa yang ia ketahui tentang hal ini, pada Zaki.


“Pantas saja, orang yang dia kenal pertama kali ... ya aku. Kebetulan juga cuma aku yang bisa lihat dia sekarang,” ujar Zaki, yang sebenarnya masih tidak dipercayai Zifa.


Walaupun Zifa tidak percaya dengan hal yang satu itu, tetapi bukti jika Zaki mengenal Zain sudah lebih dari cukup. Ia sudah percaya, karena Zaki bisa sampai menemukan kunci rumah ini, dan bisa sampai pindah ke tempat ini, ketika Zain sudah tiada.


Memang sangat sulit bagi Zifa untuk memercayai ucapan Zaki. Namun, apa yang Zaki buktikan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya percaya.


“Sebenarnya aku masih gak percaya sama kamu, tapi ... ya mau gimana? kamu udah nunjukkin semua bukti, yang bisa buat aku percaya sama kamu,” ujar Zifa, membuat Zaki tersenyum padanya.


“Aku pasti akan buktikan lagi, kalau ucapan aku benar. Aku mau kamu percaya, karena cuma kamu yang bisa nolong aku saat ini,” ujar Zaki dengan senyuman, membuat Zifa mendadak salah tingkah melihat senyumannya itu.


Ya, memang tidak heran jika Zifa sampai salah tingkah hanya dengan melihat senyumannya saja. Itu karena Zaki memang seorang lelaki yang cukup manis, sehingga senyum pun ia terlihat sangat manis.


Senyuman Zaki mendadak sirna, ketika ia menyadari bahwa dirinya sedang diserang oleh seseorang yang baru saja datang di hadapannya.


BUKK!

__ADS_1


__ADS_2