
“Ah, yang boong?” tanya Zaki, membuat Zifa sedikit tersenyum mendengarnya.
“Gue nggak apa-apa, kok!” ujar Zifa, membuat Zaki merasa belum tenang mendengarnya.
“Nggak ... kalau seandainya lo sakit, gue bisa antar lo ke rumah sakit atau ke klinik terdekat gitu. Biar kita tahu penyakit lo apa,” ujar Zaki, yang masih tetap kekeh untuk mengantarkan Zifa memeriksakan keadaannya.
Namun yang Zifa rasakan bukanlah hanya sakit pada fisiknya saja, melainkan juga sakit pada mentalnya. Dia memang menginginkan hal tersebut dilakukan bersama Fikar, tetapi tidak untuk waktu dekat ini. Ia ingin mengejar cita-cita dan impiannya lebih dulu, sebelum melakukan hal tersebut bersama dengan Fikar.
Namun nyatanya, mereka malah melakukannya kemarin, membuat bekas ingatan Zifa tersisa dalam benaknya. Zifa tidak mudah untuk melupakan, karena itu adalah kali pertamanya melakukan hal intim tersebut.
“Enggak ... gue beneran nggak apa-apa, kok!” ujar Zifa. “Oh ya, lo ngapain hubungin gue pagi-pagi begini? Memangnya gak ada kelas?” tanya Zifa, membuat Zaki kaget mendengarnya.
“Hah? Pagi-pagi lo bilang? Zifa, lo baru melek, ya? Ini tuh udah siang, tahu!” ujar Zaki dengan bingung, membuat Zifa mendelik kaget mendengarnya.
“Lah gue kira masih pagi aja ... ternyata udah siang,” gumam Zifa, yang mendapatkan gelengan kepala dari Zaki.
“Yang bener aja, Zif.”
“Gue dari tadi cuman tiduran aja di kasur, jadi gue nggak tahu kalau ini udah siang. Gue juga nggak ngecek handphone, jadi gue nggak ngelihat jam berapa sekarang,” papar Zifa menjelaskan.
“Pantesan ... ya udah pokoknya, hari ini kita bisa ketemu nggak? Ada yang mau gue omongin sama lo,” ujar Zaki.
Sebenarnya Zifa sedang tidak ingin pergi ke mana pun. Namun, karena Zaki yang meminta, ia pun mempertimbangkan semua itu.
“Ya udah, kita mau ketemu di mana?” tanya Zifa.
“Di kosan lo aja, gimana?” tanya Zaki, sontak membuat Zifa mendelik kaget mendengarnya.
“Jangan di kosan gue, nanti kalau orang mikirnya gue cewek gatel atau cewek nggak bener, gimana? Soalnya semua orang ngeliatin gue di sini dan merhatiin gue, jadi gue nggak bisa macam-macam!” tolak ziva dengan keras.
Zaki tersadar dengan hal tersebut, “Oh, sorry ... maksud gue tuh gue mau ketemu di kosan lo, karena gue khawatir kalau lo nggak enak badan. Jadi biar gue aja yang ke sana gitu maksudnya. Kalau seandainya lo mikirnya kayak gitu, ya udah gue nggak jadi ke sana deh,” ujarnya.
__ADS_1
“Ya udah, nggak usah pokoknya. Gue takutnya yang gue pikirin beneran terjadi. Kita ketemu di rumah si Zain aja, biar aman,” ujar Zifa, membuat Zaki mengangguk mendengarnya.
“Oke deh, gue tunggu lo di rumah, ya!” ujar Zaki.
“Oke, nanti sore gue berangkat ke sana. Sekarang gue mau siap-siap dulu,” ujar Zifa.
“Iya, nanti sore aja. Gue juga masih ada di kampus kok, belum balik dan masih ada kelas,” ujar Zaki juga, dan mereka pun mencapai kesepakatan bersama.
“Ya sudah, gue matiin ya!” Zifa langsung bangkit dari ranjang tidurnya untuk bersiap-siap.
“Ya, sip.”
Mereka pun memutuskan sambungan telepon mereka, membuat Zifa langsung bersiap untuk mandi dan juga menyantap makanan yang ada.
***
Setelah bersiap-siap, Zifa pun bergegas menuju ke arah rumah Zain yang ditempati oleh Zaki. Ia pergi menggunakan taksi online, dan menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 1 jam.
Tak berapa lama kemudian, Zaki pun datang untuk membukakan pintu untuknya. Mereka saling bertatapan, membuat Zaki tersenyum melihat kedatangan Zifa di hadapannya.
“Eh, udah dateng. Masuk,” sapa Zaki, Zifa pun akhirnya masuk ke dalam rumah Zain itu.
Mereka duduk berhadapan di sofa, yang di hadapannya kini terdapat beberapa camilan dan juga minuman ringan. Zaki sengaja mempersiapkan lebih dulu, agar tidak terganggu acara perbincangan mereka bersama.
“Lo apa kabar?” tanya Zaki, yang sedikit berbasa-basi di hadapan Zifa.
Namun, Zifa memang tidak suka berbasa-basi. Ia pun memandang Zaki dengan datar, dengan wajahnya yang terlihat sedikit pucat.
“Gak usah basa-basi, kita mau ngomongin apa?” tanya Zifa dengan datar, membuat Zaki tertawa mendengarnya.
“Buru-buru amat ... santai dulu, minum dulu habis perjalanan jauh,” ujar Zaki, membuat Zifa menahan kesabarannya di hadapannya.
__ADS_1
Memang Zifa sangatlah haus, sehingga membuatnya segera mengambil minuman ringan yang ada di hadapannya. Ia menenggak sampai setengah kaleng, lalu kembali meletakkan minuman tersebut di hadapannya.
Zaki mendelik bingung, “Lah, lo ngapa? Haus banget kayaknya,” selorohnya, tetapi Zifa sedang tidak ingin bercanda saat ini.
“Udah ... cepetan lo mau ngomong apa?” tanya Zifa datar, semakin datar ketika ia memandang ke arah Zaki.
Zaki menyeringai, “Jangan buru-buru, dong! Kita bicara dulu sebentar,” ujarnya, membuat Zifa tiba-tiba saja waspada dengan Zaki.
Zifa memandangnya sinis, “Lo mau ngapain, hah?” tanyanya sinis, sontak membuat Zaki tertawa keras mendengarnya.
“Gue gak ngapa-ngapain, Zifa. Maksud gue tuh, lo ngapain buru-buru banget? Lo baru aja sampai di sini, takutnya lo masih capek,” papar Zaki menjelaskan, membuat Zifa sedikit melonggarkan kewaspadaannya.
“Gue gak apa-apa, langsung ke intinya aja.” Zifa berusaha untuk melonggarkan kembali rasa takut di hatinya.
Melihat Zifa yang sudah sangat takut di hadapannya, Zaki pun menghela napas panjang lalu segera memberikan kode pada seseorang yang sedang bersembunyi di belakangnya.
Seseorang yang ternyata adalah Fikar, muncul di belakang Zaki. Zifa sampai terkejut, ketika ia melihat sosok Fikar yang ada di hadapannya.
“Lho, kamu ngapain di sini?” tanya Zifa, bingung ketika melihat kedatangan Fikar di sini.
Mereka sama-sama terdiam, membuat Zifa sadar dengan maksud mereka.
“Oh ... jangan-jangan, kalian udah ada rencana buat bikin gue ke sini, ya?” bidik Zifa.
“Ya, gue diminta Fikar untuk bantu dia ketemu sama lo. Semalaman dia gak bisa hubungin lo, dan dia juga gak bisa nemuin lo di kampus tadi pagi,” ucap Zaki menjelaskan keadaannya.
Zifa memandang ke arah Fikar, yang saat ini sedang memandang ke arahnya. “Kamu ngapain sih ngelakuin hal itu? Gak gentle banget!” bentaknya, Fikar pun melangkah duduk di sebelah Zifa.
Fikar menoleh ke arahnya, “Sayang, maafin aku, ya? Kamu dari semalam aku hubungi gak pernah bisa, jadi aku memutuskan untuk minta bantuan Zaki,” ujarnya.
Mendengar ucapan dan penjelasan Fikar, Zifa pun merasa sedikit kesal, karena ia tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini.
__ADS_1
Ya, semuanya sudah terjadi.