
Happy rading..,
Mendengar ucapan Kia yang menyejukkan baginya, Zain jadi merasa tenang, dan bisa kembali ke apartemennya dengan tenang.
Zain melepaskan pelukannya dari Kia, lalu menyandarkan kepalanya pada dada Kia. Gundukan kenyal milik Kia membuat Zain semakin nyaman berlama-lama di dalam pelukannya.
“Aku pergi dulu, jangan nakal pas aku pergi,” ujar Zain, Kia tertawa kecil mendengarnya.
“Memangnya aku anak kecil? Aku gak nakal sama sekali,” seloroh Kia, Zain hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Mereka saling melepaskan diri satu sama lain, kemudian saling memandang. Terlihat tatapan sayu dari Zain, membuat Kia merasa sangat sendu melihatnya.
‘Apa dia lelah? Kenapa wajahnya berbeda dari biasanya?’ batin Kia, yang sudah mengetahui tanda-tanda dari wajah Zain.
Kembali Zain ulurkan jemarinya ke arah dagu Kia, membuat Kia tak sengaja menelan salivanya.
“Memangnya gak boleh, hanya cium sekali di bagian itu?” tanya Zain, sontak membuat Kia merasa sangat malu sampai wajahnya seketika merona karenanya.
Karena Kia juga menginginkannya, ia pun mengangguk kecil dan pandangannya yang menunduk.
Zain merasa bergelora hatinya. Perlahan ia angkat dagu Kia menggunakan tangan yang masih menempel di sana. Dengan perlakuan yang sangat lembut, Zain segera menempelkan bibirnya pada bibir Kia, dengan mata mereka yang sama-sama saling memejam.
Sejenak mereka rasakan hal yang sama sekali belum pernah mereka lakukan bersama.
‘Seperti ini rasanya ...,’ batin mereka, sama-sama berpikir tentang hal yang baru mereka rasakan itu.
Mereka menikmati ciuman-ciuman kecil itu, dengan perasaan yang tidak ingin berhenti. Namun, kewarasan Zain menghalau nafsunya, agar tidak menguasai hatinya dan tidak membiarkan mereka melakukan hal yang tidak baik.
__ADS_1
Zain melepaskan ciumannya pada Kia, dan memandangnya dengan lekat. Sementara Kia hanya bisa menunduk malu, karena ia merasakan sensasi aneh pada bibirnya.
‘Rasanya aneh,’ batin Kia, yang terus memegangi bibirnya yang baru saja dicumbu mesra oleh Zain.
“Terima kasih, aku jadi gak penasaran lagi rasanya. Aku bisa istirahat dengan tenang, kalau begini caranya,” ujar Zain dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Kia memandang ke arah Zain dengan pandangannya yang keheranan, “Gimana maksudnya?” tanya Kia, yang merasa ada yang aneh dari setiap ucapan Zain padanya.
“Aku mau istirahat cepat hari ini, biar besok gak kesiangan. Jadi, nanti malam kamu gak usah nunggu aku telepon. Pokoknya kamu tunggu aku datang aja besok, ke rumah kamu buat acara pertunangan kita,” ucap Zain menjelaskan.
Sejenak Kia memandangnya dengan tatapan bingung. Ia tidak bisa menjelaskan apa pun pada dirinya sendiri.
“Ya sudah, aku pulang dulu ya,” ucap Zain, yang sudah mantap ingin pulang dari sana.
Karena tidak memiliki alasan lagi untuk menahan Zain, Kia pun mengangguk kecil, dan berusaha tersenyum di hadapan Zain.
Sebelum Zain membenarkan kembali posisi duduknya, Kia sudah lebih dulu merengkuh tengkuk kepala Zain. Mereka kembali bercumbu dengan mesra, karena Kia yang juga menginginkan hal itu.
Setelahnya, Kia pun turun dari mobil Zain, melambaikan tangan ke arah Zain yang perlahan menjauh dari pandangan Kia.
Mereka berpisah sampai di sini.
.
.
Zain sudah sampai di basement apartemennya. Ia melangkah keluar dari dalam mobilnya, dan melangkah menuju ke arah lobi utama untuk masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Sosok hitam itu menatap tajam ke arah Zain berjalan, membuatnya segera mengikuti Zain dari kejauhan.
Zain masuk ke dalam lift, dan sosok itu pun mengikutinya masuk ke dalamnya. Sosok misterius itu berdiri di belakang Zain, sembari menatap sinis ke arahnya.
Merasa diperhatikan, Zain menoleh sedikit ke arah samping kirinya, kemudian mengindahkan apa yang ia lihat.
Zain menekan tombol yang bertuliskan angka 5, untuk menuju ke ruangan apartemen miliknya. Sosok itu sama sekali tidak menekan tombol, karena tujuannya yang sama dengan Zain.
TING!
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai pada lantai tujuan mereka.
Zain melangkah keluar dari sana, dengan sosok itu yang masih mengikutinya dari belakang. Ia melangkah menuju ke ruangan 510 yang berada di ujung lantai ini, sementara sosok misterius itu berhenti di depan pintu ruangan 509, bersebelahan dengan ruangan apartemen Zain.
Sosok misterius itu melirik sedikit ke arah Zain, yang sedang memasukkan kode ruangannya itu. Tak hanya diam, ia juga berusaha untuk menekan tombol sandi yang ada di depan pintu ruangan 509 itu, tentunya secara asal.
Pintu Zain terbuka lebar, ia pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan pintu otomatis terkunci saat ia menutupnya.
Pria tersebut melihat Zain yang sudah masuk ke dalam ruangan itu, segera melangkah menuju ke depan pintu, dan memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Menyadari ada banyak CCTV yang terpasang di sudut setiap ruangan apartemen, sosok misterius itu pun mengurungkan niatnya untuk memaksa masuk ke dalam ruangan apartemen milik Zain.
‘Sial, aku lupa CCTV!’ batinnya yang merasa sangat bodoh saat ini.
Perlahan, ia menjauh dari sana agar tidak mendapatkan masalah yang besar di sana. Ia harus mengganti strateginya, agar tidak menimbulkan permasalahan yang besar baginya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1