Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Kwmu Siapa?


__ADS_3

Happy reading....


Karena sudah mendapatkan perintah dari Zain, Zaki pun menyusun siasat untuk bisa mendekati Zifa.


Sore ini, Zifa sudah lebih dulu pulang meninggalkan Kia di kampus. Ia benar-benar tidak ingin membuat Kia frustrasi, dengan cara membiarkan Kia bersama dengan kekasihnya, Fikar.


Zifa mengalah, demi mental health yang Kia miliki. Ia sangat menyayangi Kia, sama seperti ia menyayangi Fikar. Melihat Zifa yang sedang berjalan ke arah depan jalan raya, Zaki yang sudah sedari siang menunggunya, pun segera melancarkan aksinya.


Tak ingin membuat Zifa kaget, Zaki menyimpan motor besarnya di kampus. Ia hendak menyamai langkah Zifa, agar bisa dengan santainya berbicara empat mata dengan Zifa.


Langkahnya kini beriringan, membuat Zifa menyadari ada yang tidak beres dari orang yang ada di sebelahnya ini. Ia menoleh dan memandang Zaki dengan terkejut.


“Siapa, ya?” tanyanya, yang agak ragu karena merasa risih dengan kehadiran Zaki, yang berjalan di sebelahnya.


Zaki menoleh, memandangnya juga dengan lekat.


Perasaan takut dan khawatir menyelimuti Zifa, karena baru pertama kali ia melihat sosok lelaki bertubuh tegap yang agak berisi ini.


“Salam kenal,” sapa Zaki, sontak membuat Zifa bergetar mendengarnya.


Memang, siapa pun pasti akan merasa takut, jika tiba-tiba saja ada seorang lelaki asing, yang mengajaknya berkenalan di jalan seperti ini.

__ADS_1


Tak terkecuali dengan Zifa. Ia tak bisa memungkiri, kalau dirinya merasa sangat takut dan khawatir dengan keadaan mereka.


Karena merasa khawatir dan takut, Zifa pun segera menundukkan pandangannya, dan mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin bersinggungan dengan orang asing, yang sama sekali tidak ia kenal.


Zaki terheran, karena sapaannya sama sekali tidak dibalas oleh Zifa. Langkahnya ia percepat, sehingga bisa menyusul langkah kecil Zifa, dan kembali berjalan beriringan.


Terkejut melihat sosok pria asing tadi, Zifa merasa semakin takut, dan lantas lari dari hadapan Zaki.


Baru beberapa langkah Zifa berlari, Zaki menahan tangan kiri Zifa, membua Zifa memberontak kaget dan hampir saja berteriak. Akan tetapi, Zifa tertahan karena di tangannya terlihat sebuah benda, yang mengingatkannya dengan seseorang,


Kia.


Matanya mendelik kaget, “Siapa kamu?!” pekiknya, membuat Zaki merasa bingung harus memulai ucapannya dari arah mana.


“Kamu pasti tau ‘kan, ini benda milik siapa?” tanya Zaki, sembari memperlihatkan sebuah gantungan berbentuk bintang dengan warna dominan putih.


Zifa mengangguk kecil, berusaha bersikap tenang di hadapan Zaki saat ini. “Kamu siapa? Kamu kenal sama Kia?” tanya Zifa penasaran, dengan masih menyimpan rasa takutnya.


“Aku teman Zain, aku ingin bicara sama kamu, mengenai Zain dan Kia. Percayalah, aku bukan orang jahat!” ujarnya sedikit bersemangat, karena ia tidak ingin menyembunyikan apa pun pada Zifa.


Zaki harus mengatakan semuanya pada Zifa, agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.

__ADS_1


Mendengar ucapan Zaki, Zifa pun mendelik kaget, bingung harus mengatakan apa padanya.


Memang sangat aneh, lelaki asing yang tiba-tiba saja mengaku bahwa ia adalah teman dari Kia dan Zain. Zifa setengah tidak mempercayainya.


Namun, ketidakpercayaannya luntur, karena gantungan berbentuk bintang itu, yang dipesan secara custom oleh Kia, hanya untuk Zain. Dapat dipastikan, tidak ada orang yang memilikinya, selain Zain.


Matanya membulat, Zifa teringat akan sesuatu dari gantungan bintang tersebut.


Diraihnya gantungan itu, kemudian dilihat secara saksama sisi belakang gantungan tersebut.


Terlihat sebuah nama yang terukir, dan sukses meyakinkan dirinya tentang sosok lelaki ini.


Zaki.


Nama singkatan Zain dan Kia, yang terukir pada sisi belakang gantungan tersebut. Namanya memang sama seperti nama Zaki. Awal pertama Zaki melihatnya pun ia merasa bingung, karena ia mengira ini adalah namanya. Namun, Zain menjelaskan bahwa ini adalah nama singkatannya dengan Kia.


Akan tetapi, Zaki tak lantas serta-merta menerima ucapan Zain. Ia memiliki pemikirannya sendiri tentang hal itu.


‘Ini memang benar milik pak Zain!’ batin Zifa, yang merasa sangat yakin dengan hal ini.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2