
Melihat respon Kia yang seperti itu, Adnan pun hanya bisa tersenyum. Ia tidak mungkin berbuat apa pun dengan Kia. Terlebih lagi di depan umum seperti ini.
“Emm ... gimana lukanya, udah sembuh?” tanya Adnan, Kia memandangnya datar.
“Belum sembuh. Semua karena ada orang gila yang nyerempet mobil Zaki kemarin!” celetuk Kia, membuat Adnan terkejut mendengarnya.
Sempat salah tingkat, tetapi Adnan berusaha untuk menutupi rasa gelisahnya. Ia merasa sangat kaget, mendengar ucapan Kia beserta ekspresi Kia yang sangat tajam itu.
“Emm ... masa sih? Ada orang gila yang nyerempet mobil kalian? Lo kenal sama dia?” tanya Adnan yang tidak logis bertanya seperti itu di hadapan Kia.
Kia menatapnya sinis, “Gak mungkin gue kenal sama dia, lah! Gue cuma ingat mobilnya aja,” bentak Kia sinis, membuat Adnan tak sengaja menelan salivanya.
‘Dia tau mobil yang nyerempet dia?’ batin Adnan, merasa agak ragu menanyakannya pada Kia.
“Mm ... apa mobilnya warna hitam, merk Toyota?” tanya Adnan, Kia mengangguk kecil mendengarnya.
‘Sial, ternyata luka Kia disebabkan oleh orang-orang yang gak tau diri itu! Gue suruh mereka buat ngasih peringatan untuk Zaki, kenapa pas lagi bareng sama Kia? Bener dugaan gue!’ batin Adnan, merasa sangat kesal dengan kejadian ini.
Amarahnya sudah ingin meledak, dan ingin sekali menghabisi orang suruhannya, karena pekerjaan yang mereka lakukan sangatlah tidak benar. Bukan itu yang Adnan ingikan. Bukan saat Kia sedang bersama dengan Zaki.
Adnan benar-benar tidak bisa melihat Kia seperti ini. Walaupun Adnan sangat sinis dan kejam, tetapi jika itu menyangkut orang yang ia cintai, ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu sampai terluka.
Karena pikiran Kia yang hanya berfokus kepada jaket Zaki yang ia pegang, ia sampai tidak sadar dengan pertanyaan yang Adnan lontarkan padanya. Ia tidak sadar, dan tidak memiliki feeling apa pun tentang hal ini.
Padahal, jika Kia sadar, ia bisa saja menuduh Adnan yang melakukan hal itu pada mereka.
Adnan mengubah sikapnya. “Ya udah, ayo gue antar lo ke rumah sakit. Kita periksa bareng-bareng,” ajaknya, membuat Kia memandangnya dengan datar.
__ADS_1
“Gak usah, gue sama Zaki udah periksa ke rumah sakit kemarin,” tolak Kia, membuat Adnan menghela napasnya panjang.
“Terus gimana? Apa hasilnya?” tanya Adnan.
“Baik, gak ada yang terjadi sama gue,” jawab Kia datar, yang sudah mulai malas untuk melayani Adnan. “Eh, udah ya, gue mau ke kelas!” pamitnya, tetapi Adnan lagi-lagi menahan lengan tangan Kia.
“Kia, jangan langsung ke kelas dong ....” Adnan berusaha untuk menahannya, tetapi Kia memandangnya dengan sinis.
“Mau ngapain lagi emangnya? Gue ada kelas Pak Broto, dan gak bisa ditunda!” ketus Kia, Adnan tersenyum di hadapannya.
“Temenin gue ke kantin dulu,” pinta Adnan, tetapi Kia tidak bisa melakukan hal itu.
“Sorry, gue udah telat.” Kia berusaha untuk melepaskan tangannya, tetapi Adnan masih tetap saja tidak ingin melepaskannya.
Kia menatap Adnan sinis, “Nan, jangan gini lah! Gue gak suka lo begini, ya!” bentaknya, Adnan terpaksa harus melepaskan tangannya dari lengan Kia.
Ketika hendak meluapkan emosinya di hadapan Adnan, ia tak sengaja melihat Zaki yang memerhatikan mereka dari kejauhan. Zaki sudah berada di arah menuju kantin, membuat Kia tersadar dan hendak mengembalikan jaketnya pada Zaki.
“Emm ... setelah gue pikir-pikir, gue mau ke kantin sebentar,” ujar Kia, yang lalu segera pergi meninggalkan Adnan di sana.
“Kia!” pekik Adnan, tetapi Kia sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Adnan hanya memerhatikan ke arah Kia pergi, dan melihat bahwa Kia saat ini sedang bersama dengan Zaki. Zaki mengelus rambut Kia, dengan wajah Kia yang tersenyum saat berada di hadapannya. Hal itu sontak membuat Adnan mendelik tak percaya, karena kedekatan mereka yang kian hari kian terlihat dengan jelas.
‘Sialan, ternyata mereka udah semakin dekat sekarang!’ batin Adnan, memandang sinis ke arah Zaki yang sedang fokus ke arah Kia.
Pandangan mereka Zaki dan Adnan bertemu, membuat Adnan sedikit tersentak kaget karena tiba-tiba saja pandangan mereka yang bertemu. Terlihat jelas pandangan Zaki yang menatap tajam ke arah Adnan, membuat Adnan mendelik tak percaya dengan apa yang Zaki lakukan.
__ADS_1
‘Oh, dia sengaja mau menantang gue, ya? Oke, liat aja nanti! Gue gak akan bikin lo selamat dari rencana gue kali ini! Kemarin lo boleh selamat, sekarang gue akan berusaha untuk bikin perhitungan ke lo!’ batin Adnan kesal, yang lalu segera pergi dari sana menuju ke arah lain.
Zaki memandangnya heran, ‘Lho, dia gak jadi ke kantin?’ batinnya, merasa sangat puas bisa memperlihatkan kedekatannya dengan Kia.
Kia menoleh ke arah Adnan, yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah Zaki, yang kini masih saja mengelus lembut kepalanya dengan tangannya.
“Apaan sih lo? Jangan lama-lama ngelus kepala gue! Gak mau gue lama-lama begini!” bentak Kia, membuat Zaki tersadar dengan keadaan.
“Ah, sorry. Gue gak sengaja dan keenakan. Udah lama gak pernah ngelus rambut cewek lagi,” ujar Zaki dengan polosnya, membuat Kia terdiam sejenak mendengarnya.
‘Ya ... gak salah sih. Dia memang tipe cowok yang lembut dan perhatian. Dia pasti pernah ngelus rambut cewek lain, makanya dia kayaknya udah biasa gitu pas ngelakuin itu tadi ke aku,’ batin Kia, yang malah memikirkan hal aneh tentang Zaki.
“Tadi gimana ceritanya? Dia gangguin lo lagi?” tanya Zaki, membuyarkan lamunan Kia.
“Ah, iya. Tadi dia megang-megang tangan gue lagi, padahal gue sama sekali gak mau dipegang dan gak mau dipaksa. Dia juga maksa gue buat ikut ke kantin bareng sama dia,” jawab Kia, merasa sangat kesal dengan apa yang Adnan lakukan padanya.
Zaki tertawa kecil, “Ayo, ngobrolnya sambil jalan. Kita ke kantin dulu!'' ajaknya, sembari menggandeng tangan Kia, dan berjalan bersama dengan Kia menuju ke arah kantin.
Mereka sudah sampai di kantin, kemudian mereka pun duduk pada tempat yang sama, saat mereka pertama kali kenal.
Kia baru saja tersadar, ketika Zaki menggengam tangannya sampai ia ke kantin. Jantungnya seketika berdebar, karena ia merasa aneh saat Zaki menggandeng tangannya.
Ini juga kali pertama, jantung Kia berdebar kembali setelah kehilangan Zain. Entah apa yang Kia pikirkan saat ini mengenai Zaki, sampai mampu membuat jantungnya berdebar kencang.
‘Lho, aku gak sadar bisa digandeng sama Zaki. Kenapa baru sadar pas udah sampai kantin? Zaki sadar gak sih yang dia lakuin tadi?’ batin Kia, merasa malu di hadapan Zaki saat ini.
BERSAMBUNG....
__ADS_1