PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 102 BAHAGIA


__ADS_3

Setelah cape ngerumpi para ibu - ibu ikut bergabung dengan para bapak - bapak yang sedang memancing.


Terlihat yang paling bahagia adalah anak - anak mereka.


Tanpa terasa sore pun tiba, mereka akhirnya harus berpisah. Narita dan Bagas akan menginap di rumah kak Risma sementara kak Ida akan kembali ke rumah kakaknya.


Kak Risma sudah mengajak Narita dan Bagas masuk ke mobilnya, tapi di cegah oleh pak Rudi.


"nak Risma, om akan mengantar mereka ke rumahmu, om hanya mau memastikan mereka sampai di rumahmu"! ujar pak Rudi


"ya sampe lah pak, wong kami mau pulang" ujar Risma bingung


"iya nak, tapi Narita sama Bagas kami antar aja ya. Tenang aja kita konvoi aja." ujar pak Rudi.


"ya sudah terserah om ajalah" ujar Risma akhirnya.


Toh mereka itu juga kakek dan papanya Bagas, batin kak risma


Risma dan suaminya serta anaknya sudah di mobil Risma sementara Narita dan Bagas akan di antar oleh pak Rudi dan bari.


Saat di perjalanan bari sudah mulai berani bicara langsung kepada Narita. Tidak sekaku kemarin - kemarin.


"nar, kasih aku nomor rekeningmu" ucap bari ke arah Risma yang duduk dengan Bagas di belakang karena Bagas sudah ketiduran.


Pertamanya Narita masih diam bengong, karena mereka kan belum membicarakan ini secara serius hanya menyinggung - nyinggung kemarin.


Tapi pak Rudi kembali meyakinkan Narita, bahwa biar bagaimanapun bari itu punya andil tanggung jawab dalam membesarkan Bagas, tapi karena keadaan mereka sekarang lagi begini bari mungkin hanya bisa membantu secara finansial.


"nak Narita, bari itu harus bertanggung jawab, paling tidak untuk biaya hidup Bagas, karena posisi kalian sudah pisah, tapi biar bagaimana pun Bagas itu anakku bari" ujar pak Rudi.


Akhirnya Narita tidak mau berdebat lagi, karena pada dasarnya juga Narita adalah wanita yang sangat baik, selalu menjaga perasaan orang lain.


"ya sudah pak, saya kirimkan ke handphone bapak" ujar Risma karena jujur dia sudah ngga ada nomor handphone bari.


"kirim ke nomorku aja, ini aku misscall kamu" ujar bari lebih berani.


Pak Rudi tertawa kecil anaknya bari sudah makin berani berinteraksi dengan Narita. Biasanya dia seperti ketakutan dan minder.


'Narita dan Bagas memang sangat hebat, aku ngga mau kehilangan mereka lagi, aku harus bicara sama Marlina' batin pak Rudi.


Akhirnya Narita mengirimkan nomor rekeningnya ke nomor handphone bari. Dan bari dengan segera mengirimkan uang untuk belanja Bagas nantinya. Jumlahnya tidak sedikit, malah sangat banyak kalau menurut Narita.

__ADS_1


"Nar, ini untuk yang belanja Bagas, nanti berikutnya aku akan kirimkan tiap aku gajian. Tapi kalau ada perlu untuk yang lain minta aja kapan aja, nanti aku kirimkan" ucap bari sudah banyak bicara.


Pak Rudi benar - benar senang. Tak terkira rasa syukurnya kepada Tuhan karena anaknya sudah seperti hidup kembali. Tidak seperti mayat hidup hanya bisa berjalan dan bergerak dalam diam.


Pak Rudi juga mengirimkan uang tambahan untuk membeli pakaian Bagas katanya. Jadilah Narita punya banyak duit malam itu untuk versi Narita.


"nar, bapak juga kirimkan buat Bagas ya, ini hasil dari kolam tadi bukan gaji bapak. Nanti setiap bulan juga aku kasih ke Bagas, karena itu jatah bagas." ujarnya


"ini yang dikasih bang bari juga sudah banyak pak" ujar Narita polos.


"itu berarti rezeki Bagas nak, bari juga selama ini sudah ngga perduli duitnya, dia sudah seperti orang linglung" ujar pak Rudi lagi


Tanpa terasa mereka sudah tiba di rumah kak Risma. Bari langsung mengangkat Bagas yang sudah tidur dan mengantarnya ke kamar tamu rumah Linda.


Setelah semuanya beres dan Risma juga sepertinya ingin istirahat, bari sama pak Rudi pamit pulang.


Mereka masih harus menempuh perjalanan sekitar dua jam lagi untuk nyampe rumah.


Tapi hati pak Rudi dan bari sedang diliputi ke bahagian, sehingga semua rasa capek itu terbayar lunas. Begitu sampai rumah wajah mereka masih terlihat bahagia dan sumringah.


"kalian sudah pulang" tanya Bu Marlina yang sedang duduk sendirian di ruang tamu


"iya, ada apa, tumben kamu belum tidur" tanya pak Rudi sementara bari sibuk mengeluarkan barang - barang mereka.


"baguslah, terus kamu berusaha nahan dia gitu" tanya pak Rudi cuek


"ngga sih, cuma masa bari jadi duda lagi pa, kalau mereka pisah" ucap Bu Marlina sedih.


"itu lebih baik daripada punya istri nggada akhlak" ujar pak Rudi yakin.


Pak Rudi terlihat utak Atik handphonenya dan mengirimkan video Eva di hotel itu ke ibu Marlina.


"tuh lihat kelakuan menantu kesayanganmu, tidak layak di pertahankan" ujar pak Rudi cuek


Sementara bari yang sudah selesai membereskan semua barang mereka ingin mandi dulu.


"udah noh pah, aku mandi dulu, gerah nih"


Ibu Marlina yang membuka video itu Langsung teriak ya ampun sambil menutup mulutnya.


"benar ini pa"? tanya Bu Marlina

__ADS_1


"menurutmu, ya benarlah, tanya aja bari kan dia yang ada di video itu"


"video apa pa" tanya bari yang memang tidak tahu mereka sedang bahas apa.


"video kamu sama Eva yang di hotel SS itu" ujar pak Rudi santai.


"ohhh, ngga usah bahas dia lagi pa" ucapnya ingin berlalu


"itu mamamu nanya bar, katanya si Eva udah ambil semua barangnya ke sini" cerita pak Rudi


"ohhh baguslah, kalau belum dia ambil juga bakal gua keluarin" tutur bari juga.


"emank video itu benar bar" tanya ibu Marlina ke arah anaknya. Biasanya hanya di jawab dengan anggukan atau gelengan tapi sekarang bari benar - benar jawab.


"sangat benar ma, aku melihat langsung dia sama laki - laki itu bergandengan masuk hotel SS sambil senyum bahagia tanpa beban" ujar bari lagi.


"ya ampun Eva" gumam ibu Marlina


"sudah ah ma, aku mau mandi" bari langsung berjalan masuk.


Ibu Marlina masih terlihat shock dan bengong dengan yang dia lihat.


"aku udah urus perceraian mereka karena wanita selingkuh susah untuk di maafkan" ujar pak Rudi lagi sementara ibu Marlina hanya diam jadinya.


"ternyata perilaku Eva yang seorang dokter sangat rendah, jauh dari sifat Narita yang lembut dan penyabar" pancing pak Rudi.


"iya ya pa" jawab Bu Marlina.


"Ya sudah, aku juga mau mandi" ujar pak Rudi


Ibu Marlina masih diam terpaku di tempatnya.


Dia sedang merenungi ucapan pak Rudi tadi. Memang benar sih, Narita itu sangat lembut, tidak pernah membantah kalau di bilangin, hanya karena terlalu marah dan merasa di bohongi dulu saat awal pernikahan mereka mengenai uang, ibu Marlina terus membenci Narita.


Padahal dulu bari itu selalu terlihat bahagia, makanan dan pakaiannya terurus.


hai semua


dukung terus ya


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih🙏


__ADS_2