
Pak Rudi dan bari segera keluar dari bandara ketika pesawat yang membawa Narita dan bagas sudah terbang. Memang ada kesedihan ketika berpisah, tapi juga ada setitik harapan ketika acces mereka untuk bicara dengan Bagas terbuka selebar - lebarnya.
Menempuh perjalanan sekitar dua jam menuju kota S, mereka berdua hampir tidak ada pembicaraan yang berarti.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
Bari sibuk merenungi nasibnya yang selalu kehilangan Narita, orang yang selalu dia cintai, tapi entah kenapa Tuhan selalu mempertemukan mereka kembali juga. Dan sekarang bukan hanya mereka berdua tapi ada Bagas, anak buah cinta mereka. Dan karena keserakahan mamanya lah semua itu terjadi, dan bodohnya lagi bari seperti tidak bisa berbuat apa - apa. Itulah yang jadi penyesalan terbesar bari, tidak bisa melindungi keluarganya dari pengaruh luar, bahkan sepertinya bari tidak membentengi rumah tangganya sama sekali sehingga siapapun bisa masuk untuk merongrong cinta mereka, apalagi dengan segala kebaikan Narita yang selalu memikirkan kebaikan orang lain, bukan untuk kebaikannya sendiri atau tidak egois.
Sementara pak Rudi lebih realistis, dia hanya berdoa dalam hati semoga suatu saat bisa berkumpul bersama cucunya lagi gimanapun rencana yang Tuhan buat.
Begitu sampai rumahnya, bari langsung mandi dan ingin ke kantor.
Dia ingin bekerja dan bekerja untuk mendapatkan banyak uang. Tidak perduli badanya cape dan kesehatannya lagi.
Sebelum ke kantor bari akhirnya memastikan Narita dan Bagas dulu. Bari langsung menghubungi Narita lewat sambungan video call.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo Pi" langsung wajah Bagas yang terlihat di layar handphone bari
"hallo Bagas, sudah sampai rumah nak"?
"sudah Pi, ini Bagas baru sampai"
"tadi semua lancar kan perjalanannya? mana mami"? tanya bari
"ini Pi, lagi beres - beres"
'Mi ini papi mau ngomong' terdengar suara Bagas seiring bergantinya foto di layar handphone bari.
"haloo bang bari, ada apa"? terdengar suara Narita yang selalu lembut
"ngga cuma ingin mastiin, kalian sudah sampai" ucap bari
"sudah bang"
"ya sudah istirahat dululah, aku juga mau ke kantor" ujar bari lalu langsung mematikan sambungan telepon itu.
Ingin rasanya Narita bilang terimakasih bang bari, hati - hati kalau mau ke kantor, tapi mulut Narita tidak bergerak sama sekali mengingat diantara mereka sudah tidak ada hubungan selain mengenai Bagas.
Sementara bari, begitu mendengar suara Narita dan Bagas, semangatnya sudah kembali berkobar. Dia sudah mendapatkan mood booster yang paling pas untuk pagi ini.
__ADS_1
Dia sudah siap untuk berangkat ke kantor sekarang.
Tadi bari memang sudah izin bosnya untuk datang siang. Bari ingin menyelesaikan pekerjaannya semua dengan cepat dan benar.
Begitulah hari - hari bari sekarang berlalu. Dia punya kebiasaan baru untuk selalu telepon Bagas dan sekaligus Narita, walaupun pasti selalu Bagas yang angkat telepon duluan. Tapi tidak apa - apa, bari sudah bertekad dalam hati dia akan mengejar Narita sampai kemana pun.
Seminggu sudah Bagas dan Narita pulang ke Jakarta. Bari jelas sudah sangat kangen dengan anaknya itu.
Bersamaan dengan ini ternyata urusan bari dan Eva sudah di bereskan oleh pak Rudi. Sekarang sudah tidak ada urusan Eva dengan bari, karena bukti - bukti yang langsung memberatkan Eva yang berselingkuh sampai masuk hotel itu, memudahkan keputusan.
Sore ini pak Rudi ingin bicara dengan anaknya bari, jadi dia sengaja menunggu bari di ruang keluarga.
Begitu mendengar suara deru mobil bari masuk pekarangan, pak Rudi sudah tersenyum dan melirik map yang tadi dia taruh di atas meja.
"sudah pulang bar" tanya pak Rudi
"iya pa," jawab bari singkat sambil duduk dan membuka sepatunya lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang ke sandaran sofa.
"mau minum kopi bar" tanya mamanya yang sedang mengantar kopi pak Rudi.
"ntar dulu deh ma, bari ingin mandi dulu" ucap bari
"setelah mandi papa tunggu di sini bar" ucap pak Rudi
"ada apa pa" tanya bari heran
"mandi aja dulu" perintah pak Rudi
"baik pa"
Akhirnya bari masuk kamarnya dan membersihkan diri. Setelah di rasa sudah fresh, seperti permintaan papanya bari langsung menuju ruang keluarga.
"tumben papa serius, ada apa"? tanya bari sambil melirik mamanya juga, tapi mamanya terlihat biasa aja.
"apa kamu sudah telepon Bagas"?
"sudah pa, tiap hari bari telepon Bagas, kadang sampai berkali - kali" ucap bari
"apa mereka baik - baik aja bar" tanya ibu Marlina takut - takut, karena jujur sekarang anak dan suaminya sudah tidak percaya lagi padanya, sekalipun dia sudah bertobat.
"iya ma, mulai Minggu ini Bagas masuk sekolah, masa liburan sudah selesai" ujar bari semangat.
__ADS_1
"ohhh baguslah" lalu pak Rudi meraih map tadi yang sudah dia siapkan.
"ini, urusanmu sama Eva sudah beres" ucap pak Rudi
"secepat itu pa" tanya balik bari kagum dengan kinerja papanya, sangat gerak cepat.
"iya, karena papa sudah sangat muak sama Eva" ucapnya seolah jijik.
"ya sudah Pi, simpan aja takut besok - besok butuh, kalau aku ngga butuh itu sekarang" ucap bari
Ibu Marlina kembali sedih mengingat percintaan bari dengan Eva, yang selalu dianggap ibu Marlina akan berakhir indah tapi kenyataannya menambah luka di hati bari.
Mungkin karena merasa usiannya juga sudah tidak muda lagi, ibu Marlina sudah sangat ingin memiliki cucu dari bari putra satu - satunya.
Dan begitu mengetahui tentang Bagas, jujur ibu Marlina sangat senang apalagi setelah melihat foto - foto dan video anak itu, membuat hatinya bergetar setiap mengingatnya.
"bar, apa Narita belum menikah lagi"? tanya ibu Marlina membuat bari dan pak Rudi saling pandang lalu berbarengan menatap ibu Marlina, seolah mengintimidasi kenapa kamu mau tahu tentang Narita, apa lagi rencana mama? apa mama meragukan Bagas?
Ibu Marlina sangat tahu arti tatapan suami dan anaknya, sehingga dia meralat sedikit ucapannya.
"Maksud mama, kalau dia belum menikah siapa tahu benar kalian masih jodoh bar, mama akan dukung" ujar mama bari.
Bari dan pak Rudi kembali melongo satu sama lain. Mereka memang sudah melihat sedikit perubahan ibu Marlina, tapi tetap aja butuh waktu pembuktiannya.
Bari terlihat menarik nafas panjang, jujur tanpa persetujuan mamanya pun bari sudah bertekad untuk memperjuangkan Narita dan Bagas setelah semua urusannya di sini beres. Jadi kalau sekarang mamanya setuju, bari sangat bersyukur untuk itu, berarti bari tinggal melangkah maju.
"Jangan di paksa atau di anjurkan, kecuali barinyang bertanya. Sekarang bari nikmati aja setiap kejadian dalam hidupmu, ambil hikmahnya, tentukan langkahmu. Ingat pesan suami Risma, tentukan dulu prioritas mu baru kamu melangkah. Kalau kamu butuh tempat untuk bertanya cari papa dan mama, kalau masih yakin dengan langkahmu dan sudah memikirkan baik dan buruknya, lakukan saja " saran pak Rudi yakin.
Pak Rudi ingin agar bari menjadi laki - laki yang bertanggung jawab seratus persen dengan keputusannya, Jang semuanya tergantung pendapat orang.
Hai semuanya
Apa kabar di sana
Masih setiakan
Dukung terus ya
like , coment dan vote
Terimakasih🙏
__ADS_1