
Keesokan harinya Narita benar - benar sudah bisa pulang ke rumah. Kak Risma selalu menyemangati Narita untuk lebih ceria lagi.
Seminggu sudah setelah kematian anak mereka, barita akhirnya harus mulai kerja dan Narita pun sudah bisa beraktivitas yang ringan. Tapi bari tidak ingin kecolongan lagi, bari semakin mengingatkan ibu may untuk menjaga istrinya.
Bari juga masih setia membujuk istrinya untuk tidak melakukan kegiatan yang berat - berat. Sejujurnya komunikasi mereka sangat mandek, karena sekarang terlihat Narita hidup tanpa gairah. Dia hanya mengikuti semua yang bari bilang tanpa perlawanan tapi diam tanpa bicara.
"dek, Abang kerja dulu ya, sudah seminggu Abang ngga kerja, nanti bos Abang marah" canda bari pagi ini seperti ucapannya tadi malam.
"hmmmm" hanya itu jawaban Narita tanpa ekspresi marah atau apalah.
Bari akhirnya memilih berangkat, dia tidak ingin membuat istrinya itu kurang nyaman karena malas dia ajak bicara. Bari sangat mengerti hati istrinya, tapi apa yang bisa dia lakukan, dia juga sangat kehilangan.
Bari berangkat dengan naik motor, karena kemarin dia sudah minta papanya antar mobilnya ke rumahnya, karena bari belum siap ketemu mananya. tapi papanya malah mengirim motor dan mobil juga sekaligus.
Hanya sekitar dua jam bari sudah tiba di kantor, jelas aja di mejanya sudah numpuk kerjaan.
Bari tidak pernah masalah dengan pekerjaan sebanyak apa pun, itu bisa di atasi sendiri oleh bari. Tapi masalah istri dan mamanya membuat bari tidak bisa berpikir, apalagi sekarang istrinya sepertinya menghindar untuk bicara dengan bari, membuat hati bari makin sedih.
Tapi bari tidak mau menyerah, dia akan tetap berusaha untuk meraih hati dan kepercayaan istrinya lagi. Dia harus menangkan lagi hati Narita, itu tekad bari.
Akhirnya sore pun menjelang tanpa terasa. Badan bari sudah sangat pegal, tapi mengingat akan ketemu istrinya dia kembali semangat.
dddrrttt dddrrttt
"hallo pa"
"bar, kamu sudah mau pulang? kamu pakai motor?" pertanyaan pak Rudi sangat beruntun.
"iya Pa, ini sudah mau pulang, aku belum mau lembur karena kasian Narita" ucap bari
"iya benar nak, kasian Narita dia pasti masih terguncang" ujar pak Rudi bijak
"iya pa, nari masih betah diam, hanya ngomong seperlunya, seolah dia malas banget ngomong sama aku"?
"sabar nak, siapa pun yang ada di posisi Narita itu pasti marah. Anaknya meninggal karena mamamu" ucap pak Rudi juga lesu.
"iya pa, makanya aku juga sabar, tidak mau memaksa dia untuk bicara"
__ADS_1
"tapi ngga boleh gitu juga nak, tetap kamu harus ajak ngomong yang ringan - ringan, supaya dia bangkit lagi perlahan"
"iya pa, mama sama papa gimana"?
"yahhh gimana lagi bar, papa juga kasian sebenarnya lihat mamamu sekarang mungkin merasa bersalah, dan juga papa diamkan, tapi biarin aja dulu sampai dia sadar apa akibat dari ulahnya" ucap pak Rudi.
"kamu tidak usah pikirin mama, tugasmu adalah Narita" lanjut pak Rudi
"iya pa"
"ya sudah hati - hati ya"
"iya pa"
Pembicaraan itupun terputus, bari langsung beresin mejanya untuk pulang. Seperti dari awal kalau masalah pekerjaan bari pasti bisa sikat dengan cepat.
Sekitar jam tujuh malam bari sudah tiba di kota B di rumah kontrakannya. Bari berharap bisa melihat senyum istrinya untuk menyambutnya pulang, tapi nihil. istrinya masih betah diam walaupun dia tetap menyambut bari pulang kerja di teras dengan wajah datar.
Begitulah hubungan mereka sampai hampir dua bulan ini berjalan. Mereka hanya banyak bicara kalau ada kak risma di rumah, tapi begitu Risma pulang hubungan mereka kembali beku.
Seperti malam ini, bari yang baru cape pulang kerja langsung mandi biar sedikit lebih segar. Baru aja bari ingin masuk kamar mandi datanglah kak Risma mengantar martabak kesukaan Narita, sekalian kak Risma mau izin sama bari besok Narita ikut ke kios mau bantu Risma.
"ngga lah bar, oh iya bar, besok aku pinjam nari ya, aku butuh bantuannya, daripada dia di rumah terus"
"emank sudah bisa kak" tanya bari khawatir memandang istrinya.
" tergantung narinya, kan dia yang tahu kondisinya" ucap kak Risma melirik Narita.
Narita terlihat menatap suaminya untuk minta persetujuan, biar bagaimanapun Narita tetaplah seorang istri.
Bari merasa senang melihat tingkah istrinya itu, berarti Narita masih sangat menghargainya.
"terserah kamu aja dek, kalau kamu siap ngga apa - apa, tapi tetap awasi dia ya kak" ujar bari ke arah kak Risma juga.
"oke, kakak ngga bisa lama ya, kakak sedang ada kerjaan, harus lembur nih"
"oke kak"
__ADS_1
Kak Risma akhirnya pergi dari rumah mereka. Narita langsung masuk rumah mereka dan bari mengikuti dari belakang. Narita membawa martabak itu ke meja makan dan berniat memakannya sepotong. Bari yang masih setia mengikuti Narita dari belakang langsung memeluk istrinya itu lembut dari belakang.
"aku merindukan senyummu dek, seperti saat bersama kak Risma tadi" ucap bari penuh harap sambil menjatuhkan dagunya di pundak istrinya itu.
degggg
Narita seperti disadarkan akan apa yang telah dia lakukan selama ini. Diam dan Diam, tanpa senyum lagi.
Betapa berdosanya dia terhadap suaminya ini, padahal apa yang mereka alami adalah musibah, bukan karena suaminya ini.
Perlahan Narita meletakkan martabak yang di pegangnya dan berbalik ke arah barita. Barita masih heran dengan perubahan istrinya itu, tapi dia belum tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu.
Narita langsung memeluk suaminya dan merapatkan kepalannya ke dada suaminya.
"maafin nari bang" ucapnya sendu, tapi bari sudah sangat bahagia. akhirnya istrinya kembali, istri yang sangat baik dan perhatian. Istri yang selalu mengerti bari.
Dengan erat dan penuh kasih sayang bari semakin memeluk istrinya. Saking bahagiannya bari sampai meneteskan air mata. Hati bari kembali berbunga - bunga seperti seorang remaja yang baru jatuh cinta.
Narita merenggangkan pelukannya lalu mendongakkan sedikit kepalanya untuk memandang suaminya.
Bari juga menatap istrinya dengan intens dan perlahan menyentuh bibir istrinya. Sentuhan itu membuat tubuh Narita bergetar, seperti baru pertama kali bari menyentuhnya. Mungkin selama ini Narita terlalu menutup dirinya atau hatinya sehingga terasa mati, dan sekarang rasa itu hidup kembali hanya dengan sentuhan kecil bari. Karena sejujurnya mereka berdua masih sangat mencintai.
Bari melepas sebentar sentuhan itu dan kembali menatap istrinya lembut.
"aku sangat merindukanmu sayang, sangat merindukanmu. Walaupun tiap hari kamu selalu disisiku, tapi kamu sangat jauh" ucap bari terharu .
"maafkan nari ba..." belum sempat Narita menyelesaikan ucapannya bari sudah membungkam mulut Narita dengan c.uman mesranya.
"jangan minta maaf lagi, bukan salahmu" ucapnya di sela - sela ciuman mereka. Bari tidak ingin mengingat lagi hari kemarin untuk sementara, bari ingin menikmati yang sekarang, dimana istrinya kembali, Naritanya kembali.
Dengan tatapan penuh kerinduan bari kembali memeluk istrinya lebih erat.
Hai semua
Dukung terus ya
Like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏