PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 132 BICARA


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari bari anaknya, pak Rudi merasa kalau dia harus bicara serius dengan istrinya.


Sepanjang hari dia sudah kepikiran untuk membahas ini dengan istrinya. Sepertinya sih istrinya itu sudah berubah, tapi semua itu butuh kepastian memang. Pak Rudi sendiri menikah puluhan tahun merasa kecolongan dengan perilaku Bu Marlina dulu kepada Narita menantunya.


Sore hari ketika pulang kerja, ibu Marlina seperti punya firasat bahwa akan membicarakan hal penting. Dia menyiapkan kopi suaminya dan beberapa cemilan yang dia buat sendiri.


"kok tumben mama buatin cemilan" ujar pak Rudi sambil menaruh tasnya di atas meja.


"tadi ada sisa pisangnya pa, jadi ya bikin pisang goreng lah" ucapnya sambil mau menyimpan tas suaminya. Beginilah hidup mereka setiap hari, padahal usia mereka sudah tua, hanya mereka berdua di rumah besar ini.


"nanti aja ma, duduk dulu aja, papa mau bicara" ujar pak Rudi sambil mengangkat gelas kopinya.


"ada apa pa"? tanya ibu Marlina menatap suaminya serius


Pak Rudi langsung menatap ibu Marlina intens. Dia ingin mencari kejujuran di mata istrinya itu.


"sebenarnya ada apa pa, apa mama salah lagi"? tanya ibu marlina


"tidak ma, mama tidak salah, hanya saja mungkin sedikit ada dampak dari kesalahan mama di masa lalu" ujar pak Rudi


"maksudnya"


Pak Rudi kembali menyeruput kopinya, dan langsung bicara serius.


"tadi pagi bari telepon papa" ujar pak Rudi pelan - pelan.


Tapi pak Rudi belum kelar ngomong Bu Marlina sudah langsung memotongnya.


"apa kata bari pa, mereka baik - baik aja kan"? ujar ibu Marlina antusias.


"mereka baik ma, semua sehat katanya"


"terus ada apa"? tanya ibu Marlina ngga sabaran

__ADS_1


"bari bilang mereka ingin pulang,.." ucapan pak Rudi langsung di potong ibu Marlina.


"ohhh bari mau pulang pa, bawa kedua cucu kita"? ucap ibu Marlina antusias


"iya ma, bari bilang ingin pulang, tapi dia ragu untuk pulang ke rumah." ujar pak Rudi membuat ibu Marlina lumayan kaget.


"kenapa pa"?


"bari masih trauma ma, bari trauma mama akan pisahin mereka lagi dengan berbagai cara" ujar pak Rudi tegas


jedarrrr


Ibu Marlina yang tadinya terlihat antusias menjadi lesu lagi bahkan terhempas.Dia kembali ingat dengan masa lalunya memang. Dimana dulu dia selalu membenci Narita bahkan sampai memisahkan mereka secara terang - terangan maupun secara licik.


"tapi sekarang kan mama ngga ingin misahin mereka lagi pa" ucap ibu Marlina lesu. Dia terlihat tak berdaya sama sekali, karena memang salahnya sendiri.


" aku tahu ma, tapi ngga bisa juga kita paksa bari untuk percaya, sementara dia sudah mengalami hal buruk berkali - kali" ujar pak Rudi berusaha jadi penengah.


"Sebenarnya bari tidak ada keinginan untuk pulang ma, tapi Narita yang sudah kangen ke makam keluarganya. Bari tidak keberatan dia hanya masih takut terjadi sesuatu sama Narita"? tutur pak Rudi lagi


"Wajarlah ma, aku sendiri aja yang sudah bersama mama puluhan tahun butuh waktu untuk percaya lagi sama mama, apalagi bari ma, bari, anak yang sudah mama kecewakan berkali - kali" ujar pak Rudi kepada istrinya.


"iyah sih, terus rencana mereka gimana"? tanya ibu Marlina lagi sendu


"jujur bari ingin membawa mereka ke hotel ma, cuma papa tadi bilang, pulanglah ke rumah biar nanti papa yang bicara sama mama" tutur pak Rudi lagi lalu diam sejenak.


"ma, apa sekarang kamu masih ingin bari meninggalkan Narita? jujurlah dari hatimu ma, jujur jauh lebih baik biar nggada lagi nanti salah faham" ucap ibu Marlina.


Ibu Marlina sudah tidak mampu menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia sangat sedih mengingat perlakuannya dulu dan sekarang begitu dia berubah tidak ada yang percaya padanya lagi, itulah sulitnya memang mengembalikan kepercayaan.


"Dulu aku memang benci Narita dan keluarganya, aku tidak ingin Narita bahagia dengan bari, aku tidak ingin punya cucu dari rahim Narita" tutur ibu Marlina sedih


"Tapi setelah aku pisahkan berkali - kali, dan mereka tetap bertemu kembali aku sadar pa, ternyata jodoh mereka sangat panjang. Tidak bohong memang , bahwa aku juga sadar setelah melihat kehancuran bari setiap Narita pergi." ujar ibu Narita

__ADS_1


"Awal Narita pergi pertama kali, aku merasa bari hanya perlu orang yang bisa membuatnya melupakan Narita, tapi kehancurannya ketika bersama Eva benar - benar membuatku sadar bahwa aku sudah membuat anakku bersedih. Membuat anakku dalam tekanan besar." ujarnya sudah menangis.


Pak Rudi melihat istrinya itu benar - benar sudah sadar. Dia merangkul istrinya dan memeluknya erat.


"sudahlah ma, semua orang pernah salah, tidak ada orang yang selalu benar. Sekarang bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu.


Papa akan minta mereka pulang ke rumah, tapi kalaupun mereka ngga mau mama jangan marah dan berkecil hati karena mama harus sadar dan ingat itu akibat kesalahan masa lalu. Jangan lagi tambah marah membuat bari makin jauh dari kita. Ingat ma, kita sudah tua, bentar lagi aku pensiun sejujurnya aku sudah hanya ingin momong cucuku aja" ucap pak Rudi juga sendu


"iya pa" ucap ibu Marlina


"kita doakan aja ma, biar hati bari sedikit melembut dan dia membawa cucu - cucu kita ke rumah. Karena aku yakin ini semua idenya bari untuk tinggal di hotel, Narita tidak mungkin berpikir begitu, aku tahu dia. Tapi bari juga tidak salah dia hanya ingin melindungi keluarga kecilnya dari orang seperti kita." tutur pak Rudi lagi


"iya pa"


"ya sudah, kita masuk yuk, aku sudah mau mandi, takut keburu malam" ujar pak Rudi sambil melangkah masuk rumah.


Ibu Marlina hanya bisa mengikuti pak Rudi dari belakang sambil membawa tas pak Rudi.


Dia menaruh tas pak Rudi di meja kerja suaminya, lalu kembali ke ruang depan. Entah kenapa hati Bu Marlina sangat sedih mendengar cerita pak Rudi tadi.


'ibu seperti apa sih aku, bahkan anakku sendiri takut sama aku' batin ibu Marlina


'di usiaki seperti sekarang ini malah aku belum pernah bertemu langsung dan bercanda sama cucuku sementara teman - temanku tiap hari sama cucu' batin ibu Marlina


'aku memang ibu yang sangat buruk, aku egois, dan sekaranglah Tuhan menghukumku dengan segala rasa bersalahku. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan, semua sudah hancur' batin ibu Marlina sedih


'Tapi setidaknya aku akan berusaha bujuk papa, supaya aku bisa bertemu langsung dengan cucuku' batin ibu Marlina.


Akhirnya dia masuk kamar dan menyiapkan baju suaminya yang sedang mandi. Setelah itu ibu Marlina menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Begitulah setiap hari rumah mereka ini selalu sepi tanpa canda tawa. Tanpa suara anak kecil kecuali ada saudara yang datang bermain. Dan semua itu akibat ulah ibu Marlina yang menghancurkan hidup putranya sendiri.


Hallo pembaca setiaku yang baik hati


tetap dukung ya

__ADS_1


like , coment dan vote


Terimakasih🙏


__ADS_2