PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 131 RENCANA PULANG


__ADS_3

Sepanjang malam bari memikirkan keinginan istrinya untuk pulang kampung. Jujur bari tidak takut mengenai kemampuan istri dan anak - anaknya ataupun kemampuan finansial ya, atau bahkan waktunya untuk kuliah dan kerja. Yang baru takutkan hanya kelanjutan setelah bertemu mamanya. Apakah nanti Narita masih bisa bahagia dan tersenyum ataukah ada lagi hal diluar kendali bari yang membuat Narita menangis karena ulah mamanya.


'Sepertinya besok aku harus telepon papa" batin bari


'Papa itu adalah penengah, dan biasanya dia sangat bijaksana, keputusan dan saran papa sangat bisa menentukan keputusan' batin bari lagi


Bari akhirnya tertidur juga dengan sejuta rencana yang ada dalam pikirannya.


Tengah malam ternyata putrinya bangun dan menangis, tapi Narita sudah bisa atasi sendiri karena dia sangat kasian sama suaminya itu.


Bari masih tidur ketika putrinya sedang minum susu dan setelah itu ganti popok. Dia bangun ketika Narita kembali meletakkan putrinya di boksnya.


"kenapa sayang, angel bangun" ujar bari belum sadar penuh.


"tadi minta minum bang, sekarang sudah bobo lagi" ujar Narita


"kok ngga bangunin Abang dek"


"ngga apa - apa bang, tadi Abang kayaknya pulas banget, Abang udah cape juga, makanya aku langsung angkat Dede" ujar Narita tulus


"kamu belum bisa angkat berat de" ucap bari walaupun dia masih ngantuk


"iya bang aku tahu, sekarang Abang bobo lagi ya, dedenya sudah bobo lagi" ucapnya lembut supaya putrinya tidak kebangun.


"ya sudah, ayo kita bobo lagi" ujar bari langsung tepar lagi sambil memeluk Narita.


Sebenarnya Narita tahu suaminya itu sangat cape, tapi karena rasa bersalah bari di masa lalu pengen dia tebus sedikit demi sedikit akhirnya dia memaksakan diri untuk tetap mengurus semuanya.


Narita mengusap pipi suaminya, suami yang sangat dia cintai bahkan walaupun dia sudah beberapa kali di kecewakan. Tapi Narita tahu niat sebenarnya suaminya tidaklah seperti itu makanya dia tetap memaafkan suaminya apapun yang terjadi.


Puas memandangi wajah suaminya Narita pun akhirnya ketiduran juga.


Keesokan harinya bari kembali sibuk dengan rutinitasnya yang seperti hari sebelumnya.


Mulai dari mengurus Bagas, sampai membantu Narita mengurus angel. Barulah setelah angel tidur lagi biasanya Narita menemani bari untuk bersiap ke kantor dan ke kampus, walaupun hanya sekedar mengingatkan bari tentang apa yang urgent jangan sampai ketinggalan.


Setelah sarapan bersama bari siap untuk berangkat ke kantor. Narita mengantar sampai ke depan, sampai mobil bari hilang dari pandangannya.

__ADS_1


Barulah setelah suaminya berangkat Narita mulai membuka handphonenya, terutama tentang pekerjaan ayu. Atau kadang sekedar bertukar berita dengan kak Ida dan kak Risma.


Sementara bari, hari ini sengaja dia telepon papanya begitu dia sampai kantor. Dia belum membuka pekerjaannya, karena mang belum jam kerja juga.


dddrrttt dddrrttt dddrrttt


"hallo bar"


"hallo pa, papa di kantor atau di rumah"


"baru nyampe kantor bar, ada apa, cucuku pada sehat"? tanya pak Rudi dari sebrang


"sehat pa, papa ada waktu ngobrol bentar"? tanya bari membuat pak Rudi sedikit heran.


"banyak waktu papa bar, ada apa"?


"begini pa, Narita ingin kami pulang kampung, dia ingin jiarah katanya, gimana menurut papa"? tanya bari serius


"terus" tanya balik pak Rudi


"ya itu dia pa, papa kan tahu mama dan Narita, aku ngga ingin ke pisah lagi pa" ucap bari


"iya pa aku tahu, tapi gimana Narita, aku tidak ingin dia menangis lagi. Papa kan tahu mama, sudah berapa kali kita ketipu dengan perubahan sikap mama, tapi ternyata dia tetap berusaha misahin kita" ujar bari berusaha berpikir realistis.


"sepertinya sih tidak lagi bar" ucap pak Rudi mulai sedikit ragu juga ketika bari mengingatkannya bahwa istrinya itu selalu berusaha dengan berbagai cara untuk menyingkirkan Narita. Mungkin aja dia bisa terima cucunya, tapi gimana dengan Narita, apa bisa dia terima dengan lapang dada.


"jujur saya belum yakin pa, maaf kalau kali ini kita berbeda pendapat. Mama itu mungkin bisa menerima cucunya, kangen cucunya tapi dia tetap tidak terima Narita" tutur bari dengan pemikiran yang sama juga dengan pak Rudi.


"terus apa rencanamu"?


"kalau mama belum bisa terima Narita, maaf pa, mending kami menginap di hotel, karena aku benar - benar ngga mau Narita menderita lagi. Ada dua anakku yang akan jadi korban pa" tutur bari


Terdengar pak Rudi menarik nafas dalam, jujur dia juga ngga bisa memang menjamin istrinya itu. Bahkan dulu mereka sudah sering berantem karena sikap Marlina.


"begini aja bar, kasih papa waktu, untuk mencari tahu isi hati dan rencana mamamu. Untuk sementara dia ngga usah tahu dulu kalian ingin pulang kampung" ujar pak Rudi


"ohh apa menurut papa mama akan jujur"

__ADS_1


"akan papa usahakan tahu isi hati mamamu"


"okelah pa, saya harap mama tidak mengecewakan aku lagi, karena kali ini aku akan bela keluarga kecilku pa"


"iya bar, papa juga ngga mau kamu sama Narita mendapat masalah lagi" tutur pak Rudi


"iya pa, kali ini aku harus yakinkan mama bisa terima Narita, kalau tidak mungkin kami akan menginap di hotel aja" ujar bari yakin


"oke bar, papa selalu dukung keputusanmu, tapi kasih papa kesempatan dulu untuk bicara sama mama" ujar pak Rudi.


"oke pa, saya tunggu kabar baik papa"


"iya nak"


"makasih ya pa" ujarnya lalu mereka menyudahi panggilan mereka itu.


Bari merasa lega setelah bicara dengan papanya, setidaknya beban berat pikirannya sudah dia utarakan kepada papanya yang selalu berpikir bijaksana dalam bertindak.


Bari memulai pekerjaannya dengan rasa bahagia, apalagi setelah melihat walpaper handphonenya yang ada foto mereka bertiga, orang - orang yang sangat bari sayangi.


"kalian memang mood booster untukku, semua jadi terasa mudah dan gampang kalau sudah lihat wajah kalian bertiga" ujar bari sambil senyum sendiri.


Bari tidak bisa memungkiri kalau semua segi kehidupannya sangat bergantung kepada Narita. Mulai dari kehidupan pribadinya sampai juga semangat kerja dan semangat hidupnya. Sekarang dengan kedua anaknya dari Narita membuat bari semakin dan semakin lagi tidak bisa jauh dari Narita.


Karena terlalu semangat kerja bari sampai tidak berasa bahwa ternyata hari udah siang. Ini waktunya makan siang dengan bekal yang telah disiapkan oleh istrinya itu.


Setelah selesai makan siang bari telepon lagi anak dan istrinya itu. Ini untuk mood boosternya siang hari.


Sambil video call bari bisa melihat kalau putri kecilnya itu sedang bangun dan ketawa di pangkuan mamanya.


Bari merasa bahwa dunia saat ini sangat mendukung kebahagiaannya, apalagi setelah melihat senyum putrinya.


Tiada hilang senyum dari wajah bari.


Hallo semua


Dukung terus ya

__ADS_1


like, coment dan vote


Terimakasih 🙏


__ADS_2