PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 89 3 TAHUN BERIKUTNYA


__ADS_3

Setelah mengetahui semua yang dilakukan oleh mamanya dan eva, yang membuat mantan istrinya Narita meninggalkannya , hati bari semakin beku. bahkan sekarang komunikasi juga hampir tidak walaupun satu rumah.


Mereka hidup dalam satu rumah, tapi tidak pernah ada tegur sapa bahkan kepada mamanya sendiri.


Ibu Marlina juga sudah kehabisan cara supaya bari mau bicara lagi dengannya. Tapi tetap bari tetap tidak mau bicara dengannya dan Eva.


Bari hanya bicara seperlunya dengan papanya. Bahkan sekarang, Eva juga sudah mulai lelah. Dia ada didekat bari, tapi dia tidak dapat meraih bari. Hampir empat tahun mereka menikah, bari tidak pernah bisa bersikap hangat padanya.


Bari hanya seperti robot hidup. Kalau Eva godapun di tempat tidur, dia pasti bilang saya sangat cape. Bahkan Eva sudah menggunakan lingeri seperti kata teman - temannya biar menggairahkan, bari tetap diam aja, tak bereaksi bahkan langsung tidur.


Kadang teman - teman Eva sudah mengatakan berarti bari itu tidak normal, pantas aja ngga punya anak.


Pengaruh dari pendapat teman - temannya juga sedikit banyak mempengaruhi pendapat Eva. Sehingga sekarang dia juga ikut merasa kalau bari itu tidak sehat atau tidak normal. Tapi mau bertanya perasaan bari gimana caranya, soalnya ngga pernah komunikasi.


Puncaknya adalah pagi ini, dimana bari dan pak Rudi sudah siap - siap ke kota B, tempat dimana pemancingan mereka bersama temannya pak bari yang ternyata juga kakak keduanya Ida. Hanya saja mereka tidak sadar kalau di Jakarta Ida dan Narita itu berteman dekat.


"mau kemana lagi bang, mau minggat lagi sampai Senin gitu" ujar Eva sudah emosi, karena akhir - akhir ini, Sabtu pagi bari dan pak Rudi selalu sudah berangkat keluar kota untuk mancing, dan pulangnya Minggu malam sudah larut.


"Eva, apa maksud kamu" tanya pak Rudi emosi mendengar ucapan Eva, masalahnya bari pergi sama pak Rudi untuk mendapatkan udara segar daripada di rumah terus.


"emank iya kan pa, suami apa, setiap weekend malah pergi meninggalkan istrinya, atau jangan - jangan bang bari ini tidak normal kali ya, makanya ngga bisa punya anak" ujar Eva makin memancing emosi setiap orang termasuk ibu Marlina yang baru datang dari kamar.


plakkk


"jaga ucapan kamu Eva" ujar ibu Marlina sudah emosi. Selama ini apapun kesalahan Eva masih bisa dia maklumi, karena memang dulu dialah yang ingin Eva dan bari bersatu.


Tapi ini Eva sudah sangat menyinggung harga diri anaknya, ibu Marlina tidak terima.


Eva sangat kaget.


"jangan mentang - mentang kamu dokter, kamu sudah paling tahu keadaan orang lain Eva. cuihhhh dokter apa, tidak bisa menghargai orang lain" ujar ibu Marlina pedas.


"mama berani menampar saya"? tanya Eva ambigu karena sangat kaget, begitu juga bari dan pak Rudi.


"iya, kenapa ngga"? ujar ibu Marlina sangat lantang.

__ADS_1


"selama ini saya membebaskan kamu melakukan apa pun asal kamu bisa membahagiakan anak saya, tapi sekarang apa, kamu berani menghina bari ngga punya anak, kamu lupa Narita hamil"? lanjut ibu Marlina masih berang.


"hehehehe mama yakin itu anak bang bari" ucapnya terlihat mengejek dan membuat emosi bari bangkit tiba - tiba dan mendekat ke arah Eva lalu dia menampar Eva sangat keras.


plakkkk


"jangan sekali - kali menghina Narita, dia itu tidak seperti kamu, dia tidak bisa di bandingkan dengan kamu, karena kamu adalah orang yang penuh ambisi dan Narita adalah orang yang baik dan penyabar. Dan apa kamu bilang tadi, aku tidak normal, memang yang normal seperti apa, harus bisa memuaskan mu begitu" ujar bari terlihat sangat emosi mengejek balik Eva.


"Aku tidak menjamahmu karena aku jijik, aku hanya ingin bersama Narita, tidak akan aku jamah wanita lain, jadi kalau dia sudah pergi berarti aku tidak perlu lagi memuaskan yang lain, dengar itu" ujar bari sangat emosi sekali.


'Ya Tuhan, berarti emosi anakku akan bangkit hanya kalau ada Narita, lihatlah dia bicara panjang lebar hanya karena Eva menghina Narita' batin pak Rudi sedih campur senang.


'Ya Tuhan, kalau kebahagiaan mereka adalah harus bersatu, pertemukan lah mereka ya Tuhan' dia pak Rudi tulus dari lubuk hatinya.


Bari terlihat mengangkat ranselnya dan hendak melangkah ketika Eva bicara lagi.


"kalau begitu ceraikan aku" teriaknya membuat bari terdiam sejenak.


"ya sudah, toh selama ini aku tidak pernah mengikatmu, jadi silahkan kalau itu maumu" ujar bari lalu melangkah.


"kurang ajar" teriak Eva sambil ingin memukul punggung bari dengan tangannya, tapi bari langsung berbalik.


"ingat Eva, segala sesuatu yang di awali dengan kebohongan tidak akan berakhir baik" ujar bari mantap.


"bahkan aku lihat di wajah dan perilaku, sedikitpun kamu tidak merasa bersalah telah memisahkan dua orang yang saling mencintai, " ucap bari lagi dengan lantang.


"tapi itu semua ide mama kamu" teriak Eva ngga mau disalahin sendirian sambil menangis. Tapi mbyat ibu Marlina yang dari tadi garang menjadi diam menunduk.


Bari menarik nafas panjang lalu berujar lagi.


"lalu karena itu ide mama aku, kamu manfaatkan untuk kepentingan mu sendiri, begitu"? licik kamu!" ucap bari berapi - api.


"Jangan kamu pikir selama ini saya diam karena saya ngga tahu apa - apa, tapi karena saya sudah malas dengan hidup saya, dan itu karena kamu"? ujar bari akhirnya.


"ayo pah jalan, nanti keburu siang, panas di jalan" ujar bari ke arah papanya.

__ADS_1


Akhirnya bari dan pak Rudi mengangkat ransel mereka masing - masing dan berlalu dari rumah itu. Di teras mereka duduk sambil memakai sepatu santainya.


Baru aja mereka memakai sepatu masing - masing Eva keluar dengan tas tangannya doang dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Terlihat wajahnya masih merah dan sangat emosi, entah apa yang ingin dia lakukan.


"bar, gimana ini" ujar pak Rudi


"biarin aja pah, saya sudah cape, saya ingin tenang" ujar bari lagi.


"mah, hati - hati di rumah, wanita seperti Eva itu orangnya sangat nekat" ucap bari kepada mamanya yang ada di pintu.


"iya bar"


Setelah mobil Eva keluar, mobil bari pun keluar untuk berangkat keluar kota. sedikitpun bari tidak penasaran apa yang akan Eva lakukan karena kalau berhubungan dengan Eva dia sudah mati rasa.


Mobil mereka melaju dengan tenang menuju kota B. Saat perjalanan itu handphone pak Rudi berdering.


dddrrttt dddrrttt dddrrttt


"hallo Rudi, hari ini ke sini kan"? tanya temannya di sebrang


"iyalah, ini sudah otw"


"ngga usah makan dulu di jalan ya, makan disini aja, hari ini kita makan bersama, soalnya ada keluarga adek gua juga baru datang dari Jakarta, mereka ingin menikmati makan di suasana kolam katanya"


"ohhhhh, berarti lagi ngumpul nih keluargamu"?


"ngga cuma adek gua yang dari Jakarta doank, maklumlah disana sudah mumet kali, mumpung pulang pengen ke kolam katanya" ujar temannya.


"ok deh, kita akan langsung ke TKP" ucapnya lalu mematikan sambungan telepon itu.


"bar, katanya kita ngga usah makan dulu, soalnya dia masak karena adeknya dari Jakarta datang" ujar papanya


"ohhhh" entah kenapa hati bari yang tadi bergemuruh karena marah sedikit lebih tenang.


Selamat malam guys

__ADS_1


Jangan bosan pencet like ya, coment dan vote


Terimakasih 🙏


__ADS_2