
Setelah perbincangan mereka malam itu, ibu Marlina terlihat lebih ikhlas melepas anaknya ke luar kota dan menetap di sana. Selama ini dia sudah salah langkah, Dia sebenarnya ingin melihat anaknya bahagia dan tidak di gerogoti oleh istrinya Narita yang hanya jadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan.
Tapi seiring waktu berlalu, dan banyak hal yang di lewati oleh ibu Marlina dia tahu bahwa kebahagiaan bari bukan hanya di materi, bahkan bukannya ngumpul duit bari malah ngga ngumpul sama sekali.
Bari tidak pernah lagi perduli dengan uangnya, bahkan atmnya dia berikan kepada Eva yang nota bene tidak dia cintai apalagi di percayai, tapi karena bari malas untuk bicara dan berkomunikasi akhirnya dia langsung kasih atmnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tibalah waktunya tanggal dua puluh lima, waktu yang telah bari rencanakan untuk berangkat sesuai dengan kesepakatan dengan orang kantor pusat.
Semua sudah rapi, kalau ada yang tertinggal nanti akan di kirim oleh papanya. Bari sudah membawa semua yang dia perlukan dan butuhkan. Dan selama itu juga bari tetap berkomunikasi dengan Bagas dan Narita.
Pagi ini, Mobil pak Rudi sudah standbye di halaman mereka. Pak Rudi akan mengantar bari ke bandara bersama ibu Marlina. Terlihat sekali ibu Marlina sudah berubah, sepanjang malam dia hanya terus berpesan supaya bari tetap bahagia.
"pa ,ma, doakan bari ya, supaya di sana semua perjalanan bari di mudahkan" ujar bari saat ingin berangkat dari rumahnya.
"doa kami selalu untukmu bar, untukmu dan keturunanmu nanti" ujar pak Rudi sedih karena anaknya satu - satunya akan tinggal jauh darinya.
"pa, ma kalian harus sehat - sehat" ujar bari menyemangati orang tuannya.
Lalu setelah melewati drama - drama sejak tadi malam, akhirnya mereka akan berangkat ke bandara pagi ini. Papanya bari memimpin doa untuk ke berangkatan mereka ke bandara sampai penerbangan anaknya ke Jakarta bahkan rencana - rencana anaknya di Jakarta juga.
Setelah semua siap, mereka langsung menuju bandara.
Kalau kedua orang tuannya sedikit sedih karena jauh dari anak mereka, bari beda lagi. Hatinya sedang berbunga - bunga. Pertama ternyata perusahaan memberinya bonus dengan bea siswa untuk pendidikannya, di tambah juga uang jajan setiap bulan. Yang kedua, salarynya juga di kantor di sesuaikan dengan salary orang kantor pusat, sehingga jelas lebih tinggi dari biasanya selama ini.
Ketiga, ternyata bari juga di bayarin biaya kost kalau tidak mau tinggal di mess karena memang agak sepi. Banyakan yang tinggal di mess adalah driver single dan juga para ob atau pun kurir kantor.
Mengenai biaya kost untuk sementara sedang bari pertimbangkan, mengingat dia baru di Jakarta, mungkin dia akan tinggal di mess dulu. Tapi tidak akan lama, setelah dia beli kendaraan dia akan mencari tempat tinggal dekat Narita dan Bagas.
Tanpa terasa mereka sudah tiba di bandara. Pak Rudi dan ibu Marlina yang mencoba tegar, ternyata gagal karena ternyata mereka berdua sampai meneteskan air mata juga ketika anaknya masuk untuk boarding pass. Dan dari jauh bari masih melambaikan tangan untuk kedua orang tuannya.
Untuk mengisi waktu keberangkatan di ruang tunggu bari masih telepon anaknya Bagas.
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"hallo Pi"
__ADS_1
"hallo gas, lagi apa kamu"
"lagi siap - siap sekolah Pi"
"ohhhhh, okelah hati - hati ya, rajin belajarnya" ucap bari kepada anaknya
"iya Pi, tumben papi telepon jam segini" tanya Bagas
"iya nak papi ngga bisa tidur, ingat Bagas" ujarnya
"ya sudah ya Pi, Bagas mau sekolah dulu"
"oke gas, hati - hati ya"
"oke Pi" akhirnya sambungan itu di matikan oleh Narita supaya Bagas anaknya bisa fokus untuk persiapan sekolah dulu.
Setelah telepon Bagas, bari telepon teman kantornya untuk bilang terimakasih juga. Dan berharap komunikasi mereka tidak terputus, karena bari pasti akan kembali ke kota kelahirannya.
Bari mulai di perintahkan untuk segera naik ke pesawat. Sambil berjalan sepintas bari ingat kedua orang tuanya. Dalam hati bari hanya berdoa untuk kedua orang tuannya dan berdoa juga semoga mulai sekarang semua bisa berjalan dan mereka semua bisa bahagia.
'aku pergi jemput impianku dulu pa, ma, aku yakin kalian akan baik - baik saja, dan aku akan kembali untuk kalian juga keluarga tercintaku' dia bari dengan tulus.
Tanpa terasa bari sudah tiba di Jakarta. Bari sudah di tunggu oleh supir yang di tugaskan dari kantor yang menjemputnya ke bandara.
Dan setelah supir itu menemukan bari, mereka langsung jalan menuju kantor sesuai instruksi.
Mereka akhirnya ke kantor dulu dengan semua barang bari masih di dalam mobil. Karena nanti dia harus di antar lagi ke mess.
Setelah beres bertemu perwakilan kantor pusat, bari langsung di antar ke mess. Dan karena hati sudah siang, bari akhirnya makan siang dulu bersama supir kantor itu. setelah selesai makan barulah bari di antar ke mess untuk istirahat.
Bari masih di beri waktu tiga hari kerja untuk istirahat, ditambah lagi week end Sabtu minggu, karena sesuai dengan perjanjian dia akan kerja mulai tanggal satu. Dan karena ini hari Jumat jadi bari mulai masuk kerja adalah hari Rabu yang akan datang.
Bari sudah berencana akan menghabiskan waktu bersama Bagas dan juga Narita. Setelah tiba di mess bari langsung istirahat dan telepon kedua orang tuannya.
Mungkin karena terlalu cape, dan kurang tidur tadi malam, sehingga begitu kena kasur bari langsung ngantuk dan ketiduran sampai sore.
__ADS_1
Ketika dia bangun, dia buru - buru mandi dan ganti baju. Dia ingin kasih kejutan kepada Bagas dan Narita. Dulu Narita sudah mengirimkan alamat mereka ketika bari ingin mengirimkan paket untuk bagas.
Menggunakan alamat itulah bari mengorder taxi online untuk mengantarkannya ke sana.
Dari aplikasi yang di lihat ternyata memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua koma lima kilo meter dari kantornya dan mess nya yang tidak jauh dari kantor.
Begitu taxi pesanannya datang, bari langsung bertanya kepada supirnya.
"tahu ya pak, sesuai map" ucap bari
"iya pak, silahkan" ujar sang supir.
Padahal seandainya supirnya ngga tahu, bari juga ngga bisa ber buat apa - apa, karena bari juga ngga bisa dan ngga mengerti daerahnya. Dia hanya pura - pura biasa naik taxi, padahal bisa di hitung selama dewasa dia naik taxi, hampir tidak pernah.
Setelah mereka bergerak, bari tetap menyalakan map-nya, dengan tujuan ingin tahu apakah drivernya sesuai map jalanya atau tidak.
Dan benar saja, ternyata alamat Narita itu tidak susah untuk di cari, karena berada di pinggir jalan walaupun bukan jalan protokol.
Begitu bari turun dari taxi, dia lalu bertanya sama pedagang alamat persis Narita, dan seorang pedagang menunjukkannya kepada bari.
Dengan perasaan campur aduk dan deg - degan bari mulai mengetuk pintu rumah tersebut yang jendelannya terlihat terbuka.
tok tok tok
"sebentar" terdengar suara Bagas mendekat ke pintu
ceklekkk
"papiiiiiiii" teriak Bagas sangat bahagia, membuat mereka yang sedang menjahit jadi menoleh.
Hallo guys
sory kemarin ngga up date
me time dulu guys
__ADS_1
Tetap dukung ya guys, like, coment dan vote
Terimakasih🙏