
Ibu Marlina memang selalu terlihat emosi kalau menyangkut istrinya bari, biarpun bercerita atau bicara dengan siapa aja, pasti ibu Martina bawaannya emosi aja.
Apalagi sekarang semenjak kehadiran dokter Eva, ibu Marlina semakin merasa mendapat sekutu untuk memisahkan mereka. Dia sudah bertekad untuk memisahkan mereka berdua selamanya, dan dia akan bekerja sama dengan dokter Eva.
'gimana ya caranya memisahkan mereka secara diam - diam' batinnya
"oh iya Tante, besok - besoklah kita cerita lagi, sore ini aku harus ke rumah bibiku, sudah janji tadi jemput di kantornya" pamit Eva karena memang mengingat janjinya dengan bibinya.
"ohhh iya nak Eva, terimakasih ya, sudah bersedia menerima keluh kesah ibu, ibu sangat bahagia nak"
"sama - sama Tan, kalau ingin cerita telepon saya aja Tan," ujar dokter Eva sambil menyerahkan selembar kartu namanya untuk ibu Marlina.
"iya nak Eva, nanti ibu miscall nomor ibu juga ya"
"oke tan, saya pamit dulu"
Akhirnya dokter Eva berlalu dari rumah orang tua bari setelah mereka bersalaman dan berpelukan. Dokter Eva sedikit mendapat titik terang dan kesempatan, karena jelas - jelas mamanya bari sangat membenci menantunya bahkan tidak mengakui anak yang di kandungnya.
Eva seolah mendapat angin segar lagi untuk memiliki bari.
'Untuk kali ini aku tidak akan menyerah lagi bar, batin dokter Eva.'
'aku juga sudah terlanjur malu bar, karena ungkapan perasaanku sama kamu' batinnya lagi.
Eva melajukan mobilnya menuju kantor bibinya.
Sementara ibu Marlina, semenjak ke pergian dokter Eva dia belum beranjak dari sofa rumahnya. Dia masih berpikir keras gimana caranya memisahkan bari dan Narita.
'Apapun yang terjadi mereka harus pisah' batin ibu Marlina.
Selagi dia sedang berpikir keras, apa yang harus dia lakukan untuk memisahkan mereka , suaminya papanya bari sudah pulang kerja.
Mendengar suara mobil suaminya, ibu Marlina langsung bangkit dan menyambut suaminya seperti biasa. Dia sepertinya jangan cerita dulu tentang dokter Eva, karena sudah sangat jelas kalau suaminya itu pasti akan menentang pendapatnya.
"papa sudah pulang" sambutnya seperti biasa
"hmmmm" ujar pak Rudi seperti biasa kalau menjawab sapaan istrinya pulang kerja.
"tolong ambilin kunci motor bari ma" ujarnya
"untuk apa pa"?
__ADS_1
"mau manasin motor bari dulu "! ujarnya sambil berdiri mendekati motor bari.
Sementara ibu Marlina langsung masuk dan mengambil kunci motor bari dan keluar lagi dan memberikannya kepada pak Rudi.
Setelah memanaskan motor bari mereka kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara bari seperti biasa , setelah jam kantor usai dia langsung melajukan mobilnya ke arah kota B tempat tinggalnya sekarang bersama istrinya. Dia sedikit melupakan masalah perasaan Eva, karena dia lebih fokus ke istrinya.
Keesokan harinya ibu Marlina sudah bertekad untuk mendatangi Narita di kota B. Tapi dia masih bingung dengan siapa dia ke sana. Karena dia belum pernah menyetir sendiri sejauh itu, selama sekitar dua jam perjalanan.
Kalau urusan mobil, ibu Marlina sering menggunakan mobil mereka sendiri kalau mau ke usaha kolam ikannya.
Tak habis akal akhirnya ibu Marlina telepon ponakannya untuk menyupiri dan menemani dia ke kota B.
Sebenarnya dia juga ada urusan sih, tapi karena rayuan Bu Marlina akhirnya dia mau mengantarkan tantenya itu ke kota B.
"Tan, sebenarnya Tante mau ngapain sih kesana, kok ngga sama om Rudi" tanya ponakannya yang kurang tahu tujuan sebenarnya ibu Marlina.
"mana bisa, om kamu itu kan sibuk"
"iya sh"
"tu anak sekarang susah di atur"
"susah di atur gimana Tan" tanyanya lagi lebih penasaran saat mereka udah mulai jalan menuju kota B.
"dia itu sudah di perbudak istrinya" jawabnya asal
"ahhh Tante bisa aja, di budakin gimana? kak Narita baik begitu" jawabnya lagi sambil senyum ke arah ibu Marlina. Dia tidak percaya kalau Narita itu budakin bari, karena setiap ada kumpul keluarga dia melihat Narita itu sangat baik, rajin dan sabar. Kayaknya budakin orang bukan karakternya deh. Bahkan mungkin minta tolong sama orang aja dia sudah sangat sungkan.
"baik dari Hongkong, dia itu pintar bersandiwara tahu ngga"? cecar Bu Marlina
"coba kamu pikir, mana ada istri yang baik pergi meninggalkan suaminya berbulan - bulan, pulang - pulang langsung hamil" ucapnya berapi - api
"ahh masa sih Tan"
"makanya kamu itu kalau cari istri, carilah yang bibit bebet bobotnya baik. ini bibitnya aja udah dari keluarga yang mata duitan" ceritanya sangat antusias.
"kamu masih muda, belum paham urusan orang tua, tapi kamu ingat kan waktu mereka mau pesta, Tante sudah bawain uang untuk pesta itu dengan harapan jangan sampai malu saat pestanya, tapi mana, om dan tantenya malah belanjain duit Tante untuk modal usaha mereka. Giliran hari H mereka bilang seadanya aja, cobaaa mau taruh dimana muka Tante" tuturnya setengah teriak
"terus gimana jadinya Tan"
__ADS_1
"yaaa begitu, om mu dan bari akhirnya patungan lagi. Mereka mah bodo amat sama pesta itu, mau malu kek, mau apa kek"
"tapi itu kan keluarganya Tan, bukan kak Narita ya"
"halahhh sama aja, sifatnya itu pasti tidak beda jauhlah"
"soalnya yang sering aku lihat kak nari itu baik banget orangnya"
"baik karena ada maunya doank" jawabnya judes
"aku nih ya kalau bari mau ninggalin tuh cewek, Tante nikahkan dia sama cewek yang benar, Tante pestain besar - besaran, wong anak Tante cuma itu" ujarnya lagi
"ngga boleh begitu Tan, harusnya orangbtua doain anaknya jangan sampai berpisahlah, bukannya doain semoga berpisah Tan"
"kamu sih ngga ngerasain, gimana melihat anakmu harus menghadapi wanita yang bikin pusing Mulu, malah Tante yang kasian sama bari tahu ngga"?
"sabarlah Tan, nanti mereka dapatkan yang terbaik"
"yang terbaik mah, pisah aja" ujarnya ibu Marlina sangat judes.
Keponakannya akhirnya memilih diam dan fokus nyetir, sepertinya tantenya ini sudah sangat benci sama istrinya bari. Jadi biar kita ngomong apa pun dia sudah tetap pada pendiriannya. Mending kita tidak usah berpendapat deh.
Setelah berkendara selama dua jam akhirnya agak siang mereka sudah tiba di kota B. Karena tujuan mereka belum tercapai juga, mungkin butuh lima belas menit lagi, akhirnya mereka memilih makan siang dulu.
Setelah makan siang mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah barita dan Narita yang pernah dia ikuti kemarin.
Tidak begitu susah untuk mencarinya walaupun dia baru sekali ke daerah ini. Dan ketika mereka tiba ternyata rumah itu tertutup rapat pintunya hanya saja jendelanya terbuka lebar.
"yang ini rumahnya Tan"
"kamu yakin"
"yakin Tan"
Ibu Marlina perlahan turun dari mobil dan berniat untuk mengetuk pintu rumah itu. Walaupun sedikit ada keraguan di hatinya dia tetap melangkah ke arah rumah Narita.
Hai semua
Dukung ya dengan like, coment dan vote
Terimakasih banyak 🙏
__ADS_1