
Bari tak habis - habisnya bersyukur atas kelahiran putrinya ini. Lengkaplah sudah kebahagiaannya.
Tapi melihat istrinya masih tidur tenang, hati bari kembali tercubit mengingat masa lalunya.
'Berarti dulu ketika melahirkan Bagas siapa yang mendampingi kamu nar, hanya kak Ida dan temanmu. kasian sekali kamu, berjuang sendiri, aku tidak bisa memaafkan diriku jika mengingat hal itu' gumam bari sambil tetap mengusap punggung tangan istrinya.
'maafkan aku sayang, dulu hanya membuatmu terus menangis, padahal aku bilang aku selalu mencintaimu. Tapi aku ngga pernah mengerti kamu, aku hanya memikirkan diriku sendiri' ujar bari perlahan takut mengganggu tidur istrinya itu.
Sampai sore ternyata Narita baru bebas dari pengaruh obat biusnya. Bari melayaninya seperti anak kecil, apalagi Narita juga belum bisa banyak gerak.
Bari tidak mau ketinggalan sedikit aja mengurus istrinya, sekecil apapun itu.
Setelah Narita boleh minum dan makan sedikit, seorang perawat membawa bayinya untuk mendapatkan ASI-nya.
"dedeknya mau minum asi ya ya Bu" ujar sang perawat sambil mengangkat dedenya.
"tolong pa, tempat tidur ibunya di atur dulu untuk duduk" pinta sang perawat kepada bari supaya Narita bisa memegang putrinya.
Bari dengan sigap langsung mengatur bed istrinya itu. Setelah pas bari membantu memegang putrinya untuk di taruh di pangkuan Narita. Tak terkira senangnya bari pertama kali menggendong putrinya ini walau hanya sejenak.
Setelah posisi anaknya pas, Narita langsung memberikan ASI kepada putrinya dan mulut putrinya juga langsung komat Kamit padahal asinya baru setetes.
"dedenya sudah pintar nyusu ibu, usahakan makan makanan yang segar - segar ya pak, biar asi ibunya lancar dan bagus untuk Dede bayinya" ucap perawat itu. Dia langsung memasukkan kembali putrinya ke dalam box bayi itu.
"baik sus"
"siapa nama Dede nya ibu"?
"belum kita tentukan sus, karena kita ngga usg jenis kelamin jadi kita belum pastikan nama" ucap Narita senyum.
"ohhh begitu ya Bu, kalau begitu saya tinggal dulu ya Bu, Dede bayinya di sini aja sama ibu atas permintaan bapaknya" ucap perawat itu. Memang bari yang bilang box bayi putrinya di ruangan istrinya aja.
"makasih sus"
"sama - sama Bu"
Bari dan Narita sama - sama senyum bahagia. Bari kembali menatap putrinya yang sudah kembali tidur itu.
"dia bobo lagi sayang" ucapnya
"bayi memang begitu bang, tidurnya sehari masih delapan belas jam" ucap Narita.
"ohh begitu sayang" ucap bari
"namanya Dede sudah Abang pikirkan" tanya Narita
"sudah sayang, tapi papa ada permintaan, kalau kamu izinkan" ujar Bagas. Dia memang bilang kok ke papanya tanya Narita dulu, dia tidak mau Narita keberatan. Dan pak Rudi juga setuju dengan pendapat bari.
"siapa namanya bang"
__ADS_1
"papa nyumbang nama angel, karena bagi papa katanya ini seperti malaikat kecil. Sudah lama papa ingin anak perempuan, baru di kasih sekarang walaupun cucu" ucap bari
"angel, bagus juga bang"
"jadi kamu setuju"?
"setuju bang, jadi Bagas dan angel." ucapnya
"ya sudah sayang, berarti nama Putri kita angel ya " ujar bari
"iya bang, kalau Abang mau nambahin ngga apa - apa" ucap Narita
"Berarti Angelita sayang, nama belakang kita berdua 'ta'' ujar bari
Narita hanya senyum sambil kembali menatap putrinya.
"jadilah kamu wanita yang lembut ya nak, wanita mandiri dan kuat" ucap Narita sebagai doa sambil mengusap pipi putrinya.
"iya mami, aku pasti kuat seperti mami, baik seperti mami juga" ucap bari menirukan suara anak kecil.
"bang bari bisa aja, Abang sudah makan, makan dulu gih" ucap Narita
"Abang sudah kenyang sayang melihat kamu sama Dede angel sehat" ucap bari senang
Bari kembali mengecup kening istrinya lalu memberikan minuman supaya istrinya minum lagi.
"hei nar,.selamat ya, dapat putri cantik" ucap kak Ida
"iya selamat ya kak" ucap ayu juga.
Lalu kak Ida dan ayu menyalami bari juga.
Bahkan kak Ida masih sempat becanda menggoda bari.
"nah bar, sudah di kasih putri cantik lho, anakmu ganteng dan cantik, waktunya kamu fokus nyekolahin" ujar kak Ida sambil menowel pipi putrinya Narita.
"iya nih kak, harus kerja keras" ucap bari semangat. Narita hanya senyum - senyum saja, karena dia sudah tahu kok semangat suaminya itu walaupun tanpa di ucapkan.
"bang mumpung ada kak Ida dan ayu, Abang makan dulu sana" ucap Narita.
"ohhh iya bar kamu makan dulu gih, malam ini kamu ngga bisa tidur pulas lho, soalnya Narita belum bisa gerak, Paling besok pagi baru belajar miring, jadi kalau dedenya nangis haus harus kamu yang angkat, jangan sampai nanti kamu ketiduran Narita maksain diri" ujar kak Ida.
"ohh begitu iya kak"?
"ya iyalah makanya makan dulu sana di kantin, jangan jauh - jauh kami ngga bisa lama soalnya, Bagas nanti nungguin ayu" ujar kak Ida
"kalau gitu aku makan sambil cari kopi dulu sayang" pamit bari
Narita hanya mengangguk sambil senyum.
__ADS_1
"siapa namanya nar" tanya kak Ida
"dari kakeknya angel kak, kami cuma nambahin ta nya doang, jadi Angelita" ujar Narita.
"ohhh bagus sekali namanya, malaikat kita" ujar kak Ida.
Kak Ida yang sudah pengalaman langsung memangku putri Narita dengan santai.
Dia menina bobokkannya sambil bernyanyi kecil membuat angel terlihat tetap terlelap.
Setelah lumayan lama bercerita bahkan melakukan video call ke kak Risma, akhirnya kak Ida pamit bersama ayu. Mereka akan ke rumah bari untuk melihat Bagas. Kalau Bagas mau akan di bawa ke rumah kak Ida, tapi kalau tidak mau, ayu yang akan nemenin Bagas di rumahnya.
"makasih banyak ya kak" ucap bari ketika kak Ida dan ayu pamit pulang.
"jaga dia bar, kalau dia bergerak banyak fatal akibatnya lho, bisa pendarahan. takutnya dia reflek dengar anak nangis ternyata jahitannya masih basah begitu" ujar kak Ida.
"iya kak" ucap bari
Bari saja ngeri ngebayangin istrinya reflek terus jahitannya bermasalah, bari pasti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Akhirnya bari berusaha untuk tidak mengantuk, syukurnya besok hari Minggu. Jadi bari tidak harus ngantuk - ngantuk di kantor.
"sayang kamu mau makan sesuatu"? tanya bari
"emank sudah boleh bang"
"ohhhh harus tanya dokter ya sayang"
"iya bang, takutnya perutnya belum bisa terima makanan"
"ohhhh, sebentar sayang ya, cantik papi tinggal dulu ya" ujar bari kepada putrinya.
Tidak berapa lama dia nongol lagi.
"kata dokter sudah bisa makan sayang, tapi yang lembut - lembut, terus jangan langsung banyak" ujar bari
"ohhhh, makan bubur kali bang"
"ya sudah, Abang turun bentar ya"
"jangan lama - lama bang"
"aku juga ngga ingin lama ninggalin kamu dan Putri kita sayang, maunya di sini terus melihatin kalian" ujar bari lagi sambil senyum. Lalu dia buru - buru cari makan untuk istrinya itu.
Hallo guys
masih setiakan
Like, coment dan vote ya
Terimakasih🙏
__ADS_1