PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 67 RENCANA


__ADS_3

Akhirnya Narita kembali tidur, mungkin pengaruh dari obat yang baru di minum juga. Saat Narita tertidur kak Risma mulai berpikir tentang bari yang sepertinya main hati itu.


Kalau bari sudah main api, untuk apa mereka bersatu. Bukan niat untuk memisahkan mereka tapi kalau hanya membuat Narita menderita dan tertekan terus untuk apa. Karena biar bagaimana pun ibu Marlina itu tetap ibunya bari, ngga mungkin bisa di pisahkan. Dan ibu Marlina juga sepertinya tidak bisa bersatu dengan Narita. Mungkin solusinya harus Narita yang pergi, itu yang terbaik, batin kak Risma.


Tapi memisahkan mereka juga bukan pilihan Risma, dia tetap tidak ingin ada perpisahan. Cuma harus bagaimana ya? batin Risma lagi.


Sementara di tempat lain bari dan pak Rudi sedang dalam perjalanan lagi menuju kota B, persisnya rumah sakit tempat Narita di rawat.


Di depan rumah sakit dokter Eva dan ibu Marlina masih menunggu balasan chat dokter Eva kepada bari. Terlihat chat itu sudah centang dua biru, yang berarti sudah di baca.


Tapi kenapa tidak di balas sama sekali?


Mereka tidak tahu kalau yang baca pesan itu adalah kak Risma dan Narita.


karena penasaran terus gada balasan, dokter Eva mengirim pesan chat lagi ke bari.


"bar, kamu sibuk banget ya, tumben nggada balasan"


"atau kamu lagi meeting ya"


"kalau iya, sory ya, nanti aja kita makan siang di tempat biasa"


Eva yang tak kunjung dapat jawaban akhirnya tidak mengirim chat lagi.


"maaf Tante, sepertinya bari tidak bisa di ganggu, karena semua chat ku di baca tapi sama sekali ga di balas." ujar dokter Eva ke ibu Marlina.


"apa dia baik - baik aja va" tanya ibu Marlina mulai khawatir.


"apa aku telpon aja pakai handphone mu ya" ujar ibu Marlina.


Semua chat dari dokter Eva selalu di baca oleh kak Risma tapi tidak di balas sama sekali.


"ya sudah, ini Tante coba aja" ucap ibu Marlina.


Eva langsung menghubungi nomor bari.


dddrrttt dddrrttt dddrrttt


Terdengar bunyi handphone bari di atas laci dekat bed Narita. Kak Risma langsung melihat dan mengerutkan kening melihat di sana tertulis Eva calling...


Risma semakin bingung sama nih cewek, kok terus - terusan menghubungi bari, apa dia sebegitu penasarannya bari lagi dimana, batin kak Risma.


Kak Risma hanya melihat handphone bari itu tanpa berniat mengangkatnya sampai akhirnya diam sendiri.

__ADS_1


Kak Risma jadi tambah kasihan sama Narita, baru aja kehilangan anaknya, sekarang ketahuan lagi kalau suaminya sedang di dekati cewek, pasti hatinya tambah hancur.


Sekitar jam sebelasan bari dan pak Rudi sudah tiba kembali di rumah sakit. Risma masih berpikir sambil duduk menjaga Narita.


"gimana nari kak" tanya bari sudah menerobos masuk.


Risma yang sedikit kaget langsung memberi tanda untuk jangan berisik.


"sssstttttt dia lagi tidur, dari tadi menangis" ucap Risma.


"apa nak Risma sudah beritahu dia tentang...." belum kelar ucapan pak Rudi tapi Risma sudah memotongnya.


"sudah om, makanya tadi dia sangat terpukul dan terus menangis sampai perutnya terasa sakit" ujar Risma


Bari kembali sedih melihat istri yang dia cintai terbaring lemah dan pucat untuk melahirkan anak mereka, sedangkan anak itu juga langsung meninggalkan mereka juga.


Tanpa bisa dia bendung kembali airmatanya mengalir di pipinya.


Dia mengusap rambut Narita pelan membuat Narita menggeliat dan terbangun.


"sayang, kamu sudah bangun" tanya bari serak.


"jangan nangis bar, nanti dia menangis juga, dan dia bisa pendarahan kalau nangis terus." Risma kembali mengingatkan. Risma juga mulai berkurang rasa simpatinya kepada bari semenjak tahu cewek bernama Eva itu.


"ohhh iya kak, iya, " ucap bari menghapus airmatanya.


Sejujurnya Narita masih merasakan cinta di mata bari. Apalagi selama ini bari tidak pernah menyakiti hatinya selain karena salah paham dulu. Tapi harus bagaimana ya, sepertinya ibu mertuannya juga tidak bisa menerima Narita bahkan setelah Narita mengandung anaknya barita.


Narita tidak bisa menahan air matanya juga. dia sudah berusaha, tapi mau gimana lagi, anggota tubuhnya tidak mendukung itu, airmatanya jatuh begitu aja.


"nar, jangan nangis, jangan nangis sayang" ucap bari sambil menghapus airmata Narita yang dari tadi masih betah dengan diamnya, hanya pikirannya yang bekerja sendiri. Kadang dalam diamnya airmatanya menetes tanpa bisa dia kendalikan, mungkin karena terlalu sesak dia ngga bisa menjelaskan satu persatu.


Risma yang melihat Narita menangis mendekati bed Narita lagi.


"narrrr, kamu ingat pesan dokter tadi, jangan sampai kamu menyesal ya dek, dampak dari pendarahan lagi nanti bisa bahaya buat kamu" ucap Risma tegas walau dia sendiri juga kasian dengan kondisi Narita.


Pak Rudi yang mendengar itu pun ikut nimbrung akhirnya.


"nak nari, papa tahu hatimu sedang sesak, tapi sekarang kamu fokus sembuh dulu ya nak, ikutin saran dokter, karena mereka yang tahu kondisi tubuhmu" ucap pak Rudi bijak.


"apa kamu ingin makan sesuatu apa minum sesuatu"? tanya pak Rudi lagi.


Narita hanya menggeleng pelan. Dia sedang tidak ingin makan sesuatu atau minum sesuatu.

__ADS_1


"maaf om, makanannya belum sembarangan kata dokter" ucap Risma


"ohhh begitu, baiklah nak, istirahatlah dulu ya" ucap pak Rudi. Sementara bari masih tetap menggenggam tangan istrinya dan menatapnya, tapi dia berusaha untuk tidak menangis lagi.


"oh iya bar, kakak ingin bicara sebentar boleh" ucap Risma sambil menatap bari.


"ohhh boleh kak"


Narita sebenarnya ingin bilang ngga usah, karena Narita yakin kak Risma pasti bahas tentang Eva itu. Tapi dia lagi malas mikir sekarang, biarlah semuanya berjalan sesuai keadaannya.


Eva keluar di iringi oleh bari, sementara pak Rudi ingin ke kamar mandi dulu.


"bar, boleh kakak tanya sesuatu"? tanya kak Risma serius


Bari menoleh ke arah kak Risma lalu mengangguk kan kepalanya.


"boleh kak, tanya aja"? ucap bari yang yakin kak Risma akan bertanya tentang mamanya.


"tolong kamu jawab dengan jujur ya bar" ujar Risma sambil terlihat berpikir. Dia sekarang seperti seorang kakak yang ingin mencari kejujuran adiknya.


"sebenarnya apa yang akan kakak tanyakan" bari sambil duduk di kursi tunggu di luar ruangan itu.


Kak Risma menatap bari kembali, dia ingin tahu sebenarnya kejujuran bari dari caranya menjawab Risma, tapi jujur Risma tetap melihat kalau bari masih sangat cinta sama Narita.


"siapa wanita bernama Eva itu"? tanya Risma to the point.


Bari sangat kaget mendengar kak Risma sebut nama Eva, sampai dia duduk tegak yang tadinya menunduk.


Darimana kak Risma tahu tentang Eva?


Apa semua kejadian ini ada hubungannya dengan Eva?


Tapi untuk apa Eva melakukannya?


Apa mama di suruh oleh Eva ya?


Banyak pertanyaan yang ada di kepala bari yang membuat dia bengong sehingga Risma mengartikannya dengan gugup.


"kenapa kamu gugup"?


Hai pembaca setiaku


Tetap dukung ya

__ADS_1


like, coment dan vote


Terimakasih🙏


__ADS_2