
"papiiiiii" teriak Bagas membuat Narita dan temannya menoleh ke pintu. Dan betapa kagetnya Narita melihat bari sudah ada di depan pintu rumah kontrakannya.
"bang bari" ucap Narita pelan sambil melongo.
"siapa kak" tanya temannya ayu
Narita masih melongo terdiam sambil menatap bari tanpa kedip. Dia merasa ini seperti mimpi. Benar ngga ya ini bang bari datang ke Jakarta? Jantung Narita berpacu lebih cepat dari biasanya dan hatinya masih susah di ajak untuk kerjasama supaya tidak bergetar di depan bari, karena mereka sudah tidak punya ikatan apa - apa lagi.
Narita masih setia dengan bengongnya ketika temannya ayu bertanya lagi.
"siapa kak"?
"papanya Bagas" jawabnya akhirnya setelah dia mulai sadar dari keterpanaannya, dan dia mulai bisa menetralisir jantungnya walaupun masih berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya.
"mami, papi datang ke rumah kita" teriak Bagas sambil menarik tangan bari masuk ke dekat Narita.
"asyik mi, asyik" teriak Bagas membuat hati bari menghangat. Segitu bahagiannya anaknya ketemu dia, padahal dia tidak mengenalnya selama ini. Tapi mungkin dari ikatan batin mereka masih sangat kuat karena bari dan Narita masih sangat saling menyayangi walaupun mereka sudah berpisah.
Bari mendekati Narita yang sedang sibuk sepertinya, terlihat kerjaanya sangat banyak.
'kasian Narita harus bekerja keras untuk menghidupi Bagas seorang diri' batin bari sedih.
"apa kabar nar"? tanya bari sambil bersalaman dengan Narita sebagaimana orang yang sudah lama tidak bertemu.
"baik bang" ucap Narita masih bingung dan merasa seperti mimpi. Dia belum percaya kalau bari akhirnya mendatangi mereka ke Jakarta. Sebelumnya Narita sih sudah kepikiran itu, tapi Narita juga ngga menyangka kalau bari akan datang secepat ini.
"ayo duduk Pi" ucap Bagas sambil menunjuk karpet kecil di dekat jendela.Kembali hati bari perih melihat tempat tinggal anaknya dan orang yang dia cintai ini, tapi mau bagaimana lagi, sudah harus begitu memang. Rumah kontrakan Narita memang termasuk kecil di mata bari, karena hanya ada satu kamar dan satu ruangan tempat dua mesin jahit. Lalu dekat jendela ada karpet kecil sepertinya tempat mereka untuk istirahat dan nonton tivi. Lalu ada sekat yang memisahkan dapur dan kamar mandinya. Benar - benar kecil.
"duduk bang, maaf hanya beginilah rumah kami" ujar Narita
"iya nar, tidak apa - apa yang pentingkan kalian hidup nyaman." jawab bari juga sambil melirik semua keliling rumah itu.
"Abang mau minum apa"? tanya Narita lagi
"apa aja, air putih aja nar, Jakarta panas" ujar bari lagi masih duduk dekat Bagas yang selalu bergelayut pada papinya.
"Bagas, belikan minum papi sayang, yang dingin ya" perintah Narita sambil memberikan duit sepuluh ribuan.
"oke mi" ujar Bagas langsung lari dan mengambil duit maminya.
__ADS_1
Bagas langsung berlari keluar dari rumahnya menuju warung untuk beli minuman.
"kok Abang ke Jakarta ngga kabarin dulu"? tanya Narita biasa aja, tapi malah membuat hati bari menghangat sehingga dia mulai menggoda Narita.
"emank kalau Abang kasih tahu mau di kasih apa"? tanya bari sambil senyum ke arah Narita. Bari sekarang sudah beda memang, sudah mulai mau becanda. Bukan Bari yang tanpa semangat dan terlihat pasrah aja.
"ya enggak sih..." jawab Narita gantung bersamaan dengan Bagas masuk membawa minuman air mineral dingin.
"ini Pi, minum dulu" ucapnya sangat senang dan masih senyum - senyum.
"terimakasih sayang. Bagas kangen papi ngga"? tanya bari sambil menciumi pucuk kepala anaknya.
"kangen Pi, aku malah berdoa biar papi ke Jakarta, ehhh benaran, biar kita bisa jalan - jalan" ucap Bagas polos.
"emank Bagas mau jalan - jalan ke mana"? tanya bari lagi
"banyak yang mau Bagas datangin Pi, ke Ancol, ke taman mini, banyak deh" tuturnya semangat.
"oh iya Bagas ini ada kue titipan kakek" ujar bari sambil menyodorkan tas titipan papanya dan mamanya untuk di kasih ke Bagas.
Bagas sangat gembira menerimanya, lalu langsung membuka tas kiriman kakeknya.
"baik, mereka kangen kamu dan Bagas" ucap bari
"aduh papi enak banget ini, mba ayu mau ngga, enak lho mba" ucap Bagas seru
"mau gas, tapi ntar dulu ya" ujar ayu lagi.
"istirahat dulu yu, ntar kita lanjutkan, makan ini dulu " ucap Narita membuat ayu meninggalkan kursi mesin jahitnya itu.
Bagas dan ayu langsung menyiapkan kuenya di piring lalu di bawa kehadapan mami dan papinya.
"terus sama siapa bang bari ke sini"? tanya Narita yang berpikir bari datang hanya untuk mengunjungi mereka. Narita sudah berpikir untuk memberitahu kak Ida supaya bari nanti bisa nginap di rumahnya daripada harus di hotel.
"sendiri" jawab bari simple
"tapi ini kan hari kerja bang"? tanya Narita lagi
"ya iya sih, tapi besokkan Sabtu, week end" ujar bari lagi.
__ADS_1
"Jadi besok kita akan jalan - jalan sampai hari Minggu boleh ngga"? tanya bari lagi. Terlihat Narita berpikir sebentar, bukan karena kerjaannya tapi gimana mereka jalan padahal mereka tak ada ikatan.
"kerjaanmu pending dululah sampai Senin" goda bari melihat Narita diam.
"Bukan masalah itu bang, tapi..." ucapan Narita masih gantung ketika langsung di potong oleh bari.
"tapi kenapa, kita bukan suami istri lagi? aku kan cuma ingin menyenangkan Bagas dan kamu ibunya Bagas, apa salah" ujar bari lagi.
"terus tas Abang mana"? tanya Narita yang melihat bari tidak bawa tas sementara mau sampai Minggu di Jakarta.
"ada di sana, di penginapan" jawab bari akhirnya.
"emank papi ngga nginap di sini"? tanya Bagas yang baru datang membawa kue di piring yang mendengar jawaban bari di penginapan.
Bari sebenarnya masih membiarkan Narita penasaran tapi karena ini Bagas anaknya yang bertanya bari ngga mungkin berbohong. Akhirnya dia jelaskan juga tentang kepindahannya ke Jakarta.
"papi akan tinggal di Jakarta nak, tapi dekat kantor papi. Nanti Bagas dan mami bisa kok main ke sana" ujar bari tenang tapi membuat Narita sangat kaget. Dia sampai melongo terdiam sambil menatap bari.
'apa katanya tadi, sudah pindah ke Jakarta, dekat kantor, berarti bang bari sekarang tinggal dan bekerja di Jakarta' batin Narita.
"apa Pi, papi tinggal di Jakarta, pindah ke Jakarta? di mana Pi? jauh ngga?" tanya Bagas bertubi - tubi karena senang tanpa perduli reaksi maminya.
"iya sayang, Bagas senang ngga? nanti kita bisa ketemu tiap hari" tuturnya lagi
"emank kantor bang bari pindah ke Jakarta"? tanya Narita polos dan agak rancu.
"bukan kantorku yang pindah nar, tapi aku yang pindah ke kantor pusat Jakarta" ucapnya mantap sambil senyum melihat Narita.
Barulah Narita seperti sadar apa yang terjadi sebenarnya sambil ber oh ria.
'Kamu sangat terlihat lucu nar, saat kamu bingung begitu, aku kangen banget sama kamu nar,' batin bari sambil menatap wajah Narita yang sedang membantu Bagas mengambil sepotong kuenya.
Hai guys
dukung terus dunk author
like, coment dan vote
*Terimakasih**🙏*
__ADS_1