PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 87 MATI RASA


__ADS_3

Pertemuan antara pak Rudi dan pak Dion sebenarnya berjalan dengan baik. Mereka berdua sepakat untuk tidak memisahkan orang yang saling mencintai. Tapi pak Rudi juga paham kalau sekarang mungkin Narita butuh surat itu untuk menikah lagi. Dia ngga boleh egois, dia harus bisa mengerti dengan sikap Narita


Sementara pak Dion langsung telepon Narita dan menyampaikan hal - hal yang di sampaikan oleh pak Rudi. Tapi Narita tidak goyah, dia tetap ingin pisah dan ngga usah ada pertemuan lagi.


Akhirnya pak Dion tidak bisa negosiasi lagi, dia akan langsung proses surat perceraian itu.


"Pak, boleh saya bertanya satu hal, tolong jawab aja dengan jujur. Aku akan langsung tanda tangan surat ini asal bapak jawab jujur"? ujar bari kepada pak Dion saat ingin menandatangani surat itu, karena nari tetap memilih tidak usah bertemu.


"silahkan tanya pak"


"apakah saat ini Narita baik - baik aja dan bahagia"? tanya bari


"Dia sangat baik dan bahagia pak" jawab pak Dion semangat.


Barita langsung menandatangani surat itu dan memberikannya kepada pak Dion.


"saya sudah tanda tangan pak, jika memungkinkan tolong sampaikan salamku kepada Narita" ucap bari sangat sedih.


"baik pak"


"boleh saya minta satu lagi pak" tanya bari


"apa itu pak"


"nanti saya ingin rekam sendiri ucapan saya, saya akan kirim ke handphone bapak, tolong perdengarkan kepada Narita ya pak" ucap bari memohon.


"baik pak" ucap pak Dion sambil siap - siap pulang dan melanjutkan proses perceraian itu.


Bari menatap punggung pak Dion hingga hilang dari pandangan matanya, dia tidak bisa menghindari perceraian itu. Sudah dia tahan selama hampir tiga tahun, tapi ternyata mereka tetap tidak jodoh.


Bari langsung mengambil handphonenya dan merekam ucapan dari hatinya yang paling dalam.


Narita sayang, masih bolehkan kali ini aja aku panggil kamu sayang. ini untuk yang terakhir kali nar.


Aku sudah tanda tangani surat yang kamu minta, pasti kamu senang sekarang kan. Itulah yang aku harapkan nar, kamu tersenyum bahagia.


Maafkan selama ini aku egois, aku menahanmu di sampingku padahal aku tahu kamu selalu menangis. Besarnya cinta kita aku pikir cukup untuk membuat kita bersatu terus dek. Tapi ternyata arus yang datang lebih deras, bahkan mungkin bukan hanya arus tapi sudah gelombang. Maafkan aku yang selalu egois.


Dek, sekarang aku sudah menikah di bawah tangan dengan Eva, aku sudah mengikuti kemauan mama papa, berati tugasku sudah selesai kan nar. aku anak yang baik


Sekarang apa yang Eva, mama dan papa bilang, aku selalu lakukan nar. Itu semua biar mereka bisa senang dan puas. Minimal aku masih melihat mereka puas, berarti matinya rasa dan hidupku tidak dia - sia kan nar?


Hanya satu penyesalanku nar, yang sangat aku sesali dan tidak mungkin bisa aku perbaiki. Aku tidak bisa membahagiakan kamu orang yang sangat aku cintai, maafkan aku ya nar, semoga di kehidupan nanti aku masih bisa membahagiakan kamu, ucap bari di rekaman itu sudah disertai siakan.


Tetap bahagia ya dek, bersama cintamu sekarang.


Bari kembali memutar rekaman yang dia buat itu. Setelah dirasa cukup, dia langsung mengirimnya ke pak Dion.

__ADS_1


jujur Dion sangat kasian melihat bari, sepertinya hidupnya sangat tertekan.


Pak Dion yang tidak ingin di salahkan akhirnya bertanya sama pak Rudi.


"apa bisa kita bertemu pak" chat Dion ke pak Rudi


"baik pak, nanti jam makan siang"


"oke"


Dan seperti kesepakatan mereka, jam makan siang mereka bertemu di cafe terdekat dengan kantor pak Rudi.


"maaf pak, apa sudah lama menunggu"? tanya pak Rudi ketika sudah melihat pak Dion


"belum terlalu lama pak, sekitar sepuluh menit" ucap pak Dion sangat ramah.


"ada apa pak, sehingga bapak mengundang saya untuk bertemu, apa bari belum bersedia tanda tangan"?


"bukan mengenai tanda tangan pak, kalau itu sudah selesai. ini mengenai ungkapan hati pak bari, tadi dia minta agar aku sampaikan ke pada ibu Narita" tutur pak Dion


"ungkapan hati"? pak Rudi sedikit bingung.


Pak Dion akhirnya mengambil handphonenya dan memberikannya kepada pak Rudi.


"ini pak voice note pak bari untuk mantan istrinya, bukannya saya mau ikut campur pak, sejujurnya tujuan utama saya hanyalah surat cerai itu, tapi saya lihat pak bari pada keadaan yang sangat down. apa menurut bapak ini tetap saya perdengarkan ke ibu Narita"?


Pak Rudi sangat hancur hati mendengar semua itu. Apa artinya aku sebagai seorang ayah, hanya bisa melihat penderitaan anakku tanpa bisa menolong.


"pak Dion, berikan saja di dengar oleh Narita, mungkin hati mereka bisa sama - sama lapang untuk menjalani hidup masing - masing." ujar pak Rudi


"baik pak, akan saya berikan kalau bapak bilang begitu" ucap pak Dion.


Setelah selesai minum kopi mereka akhirnya berpisah. Pak Rudi kembali ke kantornya dengan hati yang sangat sesak.


'Ternyata begitu dalam penderitaan anaknya itu, sampai dia merasa sangat menyesal ngga bisa membahagiakan istrinya itu'


'Ya Tuhan, tolong tunjukkan aku satu jalan untuk bisa membuat anakku bahagia lagi' doa pak Rudi tulus dari dalam hatinya.


Sore harinya pak Rudi sudah duduk di sofa ruang depan sepulang kerja. Dia sedang menunggu bari anaknya. Dia ingin mengajak bari untuk memancing beberapa hari keluar kota.


"baru pulang bar" sapa pak Rudi yang melihat anaknya sudah turun dari mobilnya


"iya pa"


"duduk dulu bar" perintah pak Rudi


Bari hanya menurut dan duduk berhadapan dengan papanya.

__ADS_1


"Bar, teman papa ada yang punya usaha pemancingan di kota B, papa ingin ikut nanam saham bar, tapi duit papa kurang" ujar pak Rudi memancing reaksi anaknya.


"terus kenapa pa"?


"kamu punya duit ngga, papa pinjam dulu"


"berapa pa?


"sekitar sekian"


"kayaknya ada sih, atmku sama Eva pa, nanti minta aja"


"apa" ibu Marlina yang baru menaruh kopi suaminya kaget bukan main.


"atmku sama Eva pa, tanya aja dia duitnya masih ada ga"? tutur bari datar.


"bari, kamu sudah gila ya, terus kamu tiap hari makan dari mana"


"tiap bulan aku ambil gajiku satu juta" ucapnya tanpa beban


"bari kok kamu jadi begini sih" mamanya sudah sangat emosi


Bari masih terdiam menunduk, tapi hatinya sudah sangat sedih. Tapi biar ajalah, siapa yang perduli perasaannya selain Narita


"begini gimana ma"? tanya bari lesu


"yahhh kamu jadi kayak orang sakit yang ngga punya gairah hidup" tanpa sadar mamanya berujar membuat bari dan papanya emosi.


Bari menatap mamanya dan dengan datar dia bicara tegas.


"Hatiku memang sudah mati ma, tinggal badanku doank yang hidup" ucapnya datar dan hendak melangkah


"bar" geram mamanya


"cukup Marlina. apa belum cukup pengorbanan bari untuk menjadi anak yang baik. apa lagi Marlina. Apa bari harus memberikan nafasnya biar kamu puas" pak Rudi sudah tidak tahan dengan kelakuan istrinya. Sudah tua bukannya tobat tapi tetap egois.


"pa" ibu Marlina masih berusaha bela diri.


"kamu usir istrinya dia diam, kamu bunuh anaknya dia masih diam dan memaafkanmu, lalu kamu mengusir istrinya lagi, apa menurutmu ada lagi yang bisa bari lakukan Marlina, tidak. Sudah tidak ada. Benar kata bari, hatinya sudah mati. Kamu sendiri sebagai mamanya ngga ngerti apalagi Eva yang bukan siapa - siapa"?


Ibu Marlina terdiam, dia memang bisa merasakan kalau sekarang bari tidak bahagia. Hidupnya asal hidup doank.


Hallo guys


Tetap setia ya


I love you all

__ADS_1


__ADS_2