
Baru aja mereka selesai membahas Eva, pak Rudi baru ingat untuk menghubungi Narita, takutnya mereka keburu pesan makanan.
dddrrttt dddrrttt
"hallo pa"
"hallo nar, ngga usah pesan makan ke hotel ya, ini bari sama papa mau pesan makan" ujar pak Rudi.
"ehhh ngga usah pa, kami mau makan di luar aja. Aku ingin ajak Bagas keluar hotel bentar pa, biar dia tahu tentang kota ini" ujar Narita polos. Ehhh hal itu jelas di sambut oleh pak Rudi dan bari yang masih ingin jalan - jalan sama Bagas dan Narita.
"ohhh gitu, ya sudah kalian siap - siap biar kamu kita makan di luar sekalian ajak Bagas mutar - mutar."
"ehhhh papa ngga usah ke sini, aku sama Bagas aja, kami ngga jauh - jauh kok pa" Narita tidak ingin terlalu lama merepotkan mantan mertuannya sekalipun Bagas adalah anaknya bari dan cucunya pak Rudi.
"tidak ada penolakan Narita, tunggu sebentar lagi kami sampai" ujar pak Rudi langsung mematikan sambungan telepon itu.
Narita masih bengong di tempatnya, karena bingung mau ngomong apa sementara sambungan telepon itu sudah di putus mantan bapak mertuannya.
"kenapa ma"? tanya Bagas melihat maminya bengong. Malam ini Bagas sudah tampil cantik dengan kemeja dan celana Levis, membuat anak itu makin menggemaskan.
"ngga sayang, kakek mau antar kita keliling kota ini" ujar Narita jujur
"ohhh bagus deh ma, jadi ngga perlu naik taksi" ujar Bagas, sementara Narita jadi bengong.
Bagas dan Narita baru aja keluar dan membuka pintu ketika bari dan pak Rudi sudah berdiri di depan kamar Narita dan Bagas.
"papa, bang bari" ucap Narita kaget begitu buka pintu kamar mereka.
Pak Rudi terpana dengan tampilan Bagas yang semakin mirip dengan bari waktu kecil, hanya saja badan Bagas sekarang lebih berisi di banding bari zaman dulu.
Sementara bari sangat terpesona dengan tampilan Narita yang jauh semakin cantik sekarang. Badannya juga sedikit lebih berisi tapi belum kategori gendut. Saat ini dia tampil dengan baju kaos putih street dan juga celana Levis yang pas di badan, membuat Narita tampil seperti anak kuliahan.
"papa sama bang bari cepat banget sampai" tanya Narita membuyarkan lamunan mereka.
"iya nar, tadi kami masih ada di sekitar sini, niatnya sampai pesanin kalian makan malam takutnya kalian kecapean." ujar pak Rudi sementara bari dari tadi hampir tidak bicara lagi, hanya pak Rudi yang banyak bertanya dan menjawab.
__ADS_1
"Bagas mau makan apa"? tanya bari akhirnya sama anaknya.
"ayam goreng ...om" ucap Bagas ragu untuk manggil bari apa, karena dari tadi sore dia lebih banyak berinteraksi dengan pak Rudi.
Narita yang melihat itu sebenarnya kasian sama bari, dia bisa melihat kekecewaan di wajah bari. Akhirnya Narita jongkok di hadapan anaknya Bagas.
"Bagas, kamu pernah tanya kan papi pergi kemana? kok lama baru pulang? " ujar Narita
"iya mi"
"Bagas, inilah papimu nak, karena papi sangat sibuk jadi kita yang kesini bukan papi yang kesana. jadi Bagas jangan panggil om lagi, nanti papi sedih"? ucap Narita sambil melirik bang bari.
"emank iya mi" tanya Bagas memastikan sambil menatap bari intens.
"hmmmmm" jawab Narita sambil mengangguk dan menahan air matanya tapi tetap aja jatuh, apalagi pak Rudi juga terlihat sudah meneteskan air mata, begitu juga bari.
"tapi kenapa papi tidak pernah bawa Bagas ikut mi, bagaskan ingin juga bersama papi" ujar Bagas mulai banyak protes.
Bari langsung menjatuhkan dirinya di samping Narita di hadapan Bagas. Dia meraih kedua tangan putranya.
Dan menurut pak Rudi, dia sendiri ada andil dalam perpisahan Narita dan bari, karena dia mendukung bari dulu untuk menikah dengan Eva, cewek berpendidikan yang selalu di banggakan oleh istrinya, tapi tak lebih dari seorang cewek yang ambisius dan menghalalkan segala cara.
"tapi kenapa papi juga tidak pernah datang ke rumah, buat antar aku sekolah. teman - temanku di antar papinya sekolah" tuntut Bagas lagi membuat hati bari semakin teriris bagai di sayat sembilu. Bagaimana tidak, anaknya ternyata merindukannya juga, sementara bari tidak tahu tentang keberadaan anaknya.
'ayah macam apa saya' batin bari sambil menangis.
Melihat bari tidak bisa menjawab pertanyaan putranya akhirnya pak Rudi yang bicara kepada cucunya.
"Bagas, Bagas tahu kan papimu kemarin sedang sibuk bekerja, tapi bagaskan punya mami yang hebat nak" ujar pak Rudi kepada cucunya, sementara Narita sudah membuang pandangannya ke samping, untuk menghindari pertanyaan anaknya.
"ya sudah mulai sekarang, panggil papi aja ya Bagas jangan om lagi." perintah Narita membuat Bagas tak berkutik lagi hanya menjawab iya mami doank.
"sebaiknya sekarang kita makan malam dulu" ujar pak Rudi akhirnya memecahkan kekakuan itu.
"iya pa" jawab Narita menggandeng tangan anaknya keluar dari hotel.
__ADS_1
"Bagas mau ayam goreng crispy atau ayam goreng sambal" tanya Narita sambil menggandeng anaknya.
"yang paling dekat aja mi" ucapnya sudah melompat - lompat sambil berjalan.
Begitu sampai di lobby, pak Rudi langsung buru - buru ambil mobilnya.
"kalian tunggu di sini dulu ya, papa ambil mobil" ucapnya setengah berlari meninggalkan Narita Bagas dan juga bari.
"iya Pa"
Tidak berapa lama pak Rudi sudah ada di lobby. Bari membukakan pintu untuk Narita dan putranya Bagas.
"terimakasih Pi, papi duduk di belakang sama mami boleh ngga, Bagas ingin di depan sama kakek" ucap Bagas bagaikan aliran air sejuk di hati bari. Pertama karena Bagas sudah memanggilnya papi, dan kedua karena Bagas bisa berdekatan dengan Narita walaupun hanya tubuh, karena bari yakin Narita masih menutup hatinya rapat - rapat.
"boleh sayang, ayo" bari langsung membuka pintu mobil sebelah supir. Lalu dia naik di bangku belakang bersama Narita. Jelas tercipta kecanggungan disana, apalagi mereka berdua masih saling mencintai. Selama ini yang ada hanya mereka berdua berusaha menekan perasaan masing - masing karena banyaknya cobaan dalam hubungan mereka.
"Bagas mau makan ayam goreng yang gimana"? tanya pak Rudi lagi.
"terserah kakek aja kek, yang penting jangan terlalu pedas" ucap Bagas.
"emank kalau pedas Bagas belum kuat ya"? goda pak Rudi
"kuat kok kek, tapi setelah itu terus ke kamar mandi" ujarnya sambil senyum menunjukkan gigi - gigi putihnya.
"maksudnya"
"buang air terus kek wkwkwk" ujar Bagas sambil ketawa geli sendiri.
Mendengar ucapan Bagas membuat mereka semua jadi ketawa.
Wah wah wah guys
Masih setia kan
Like, coment dan vote ya
__ADS_1
Terimakasih🙏