PENYESALAN SEORANG SUAMI

PENYESALAN SEORANG SUAMI
PART 128 MAU MELAHIRKAN


__ADS_3

Semakin hari kebahagiaan bari semakin lengkap saja. Semenjak mengetahui keberadaan Bagas, kebahagiaan bari terus berkelanjutan.


Bari tiada henti - hentinya bersyukur untuk semua itu. Bari tidak pernah merasa cape dengan banyaknya rutinitas yang harus dia jalani mulai dari mengantar Bagas sekolah, mengajari Bagas kalau malam, dia sendiri harus kuliah dan bekerja. Belum lagi dia harus mengurus istrinya yang semakin lama semakin banyak keluhan, maklumlah wanita hamil, pasti akan semakin banyak keluhannya.


Bari melakukan semuannya dengan senang hati. Tanpa beban dalam hatinya.


Bari bahkan sangat senang bangun malam kalau istrinya itu tiba - tiba lapar dan ingin makan buah.


Hari ini rencananya bari akan membawa istrinya periksa ke dokter. Karena hari ini bari benar - benar free. Dia juga sudah tidak ada mata kuliah lagi hari ini.


Bari tidak pernah mengabaikan jadwal periksa istrinya itu. Dia berpikir bahwa istrinya itu harus benar - benar di bawah pengawasan dokter. Dia ngga mau anaknya sampai melewatkan sesuatu.


Sebelum berangkat ke dokter bari harus menyiapkan semuannya, karena Narita sudah agak susah untuk bergerak.


Dari tadi Narita sudah agak gampang capek.


Dan ketika mereka tiba di dokter, dokter itu bilang bahwa narita harus segera di periksa. menurut pengamatan dokter secara fisik sepertinya Narita sudah akan melahirkan.


"segera bawa ke ruang pemeriksaan" ujar sang dokter


"baik dok" dua orang perawat langsung mendorong bed Narita kevruang periksa dokter tersebut.


Dokter segera melakukan pemeriksaan terhadap Narita, dan menurut dokter Narita sudah hendak melahirkan tapi sepertinya posisi bayinya masih sungsang, alias tidak pas untuk keluar.


"kita harus ambil tindakan, sebelum ibunya lemas"


"baik dokter"


Ini sedikit diluar perkiraan dokter, tapi memang sering terjadi dalam proses melahirkan, maju atau mundur.


Bari yang belum pernah mendampingi Narita melahirkan jelas kaget dengan penjelasan dokter tentang kondisi Narita ini. dia jadi gugup dan bingung mau ngapain sekarang.


Tanpa pikir panjang bari langsung tanda tangan surat rujukan untuk ke rumah sakit tersebut.


Bari dan Narita langsung menuju rumah sakit yang terdekat dengan klinik dokter tersebut.


Bari juga sudah menghubungi art rumah untuk mengantarkan tas siaga ibu Narita yang ada di kamar.


Begitu sampai rumah sakit ternyata Narita sudah langsung masuk ruang pemeriksaan dan akan langsung di lakukan tindakan Caesar.


Bari sampai meneteskan airmata mengingat perjuangan istrinya. Apa kabar dulu saat melahirkan Bagas pasti Narita sudah bingung sendiri apalagi nggada keluarga.


Mengingat semua itu membuat bari semakin menyesal sebagai suami. Terlalu banyak salah terhadap istrinya yang membuat istrinya harus menderita.


Lampu ruang operasi masih menyala menandakan operasi belum kelar. Bari masih komat Kamit berdoa sambil mondar mandir disana, sementara Bagas sudah di bawa artnya keluar. Dia belum di perkenankan menunggu di depan ruang operasi.


Hati bari bercabang - cabang antara Narita dan anaknya juga Bagas. Dalam keadaan kalut bari ingin minta doa kepada kedua orang tuannya.


Bari langsung telepon papanya. Untungnya pak Rudi sedang ada di rumah hari ini, padahal biasanya hari Sabtu Minggu dia dan Bu Marlina pasti pergi ke pemancingan di kota B.


dddrrttt dddrrttt dddrrttt

__ADS_1


"hallo bar"


"pa" bari sudah gugup, dia bingung mau bicara apa membuat pak Rudi bingung di sebrang.


"bar, kamu ngga apa - apa kan"?


"doakan nari pa" ucapnya sudah menangis


"nari kenapa bar" pak Rudi tampak sudah panik


"dia sedang di ruang operasi pa"


"apah"


"apa dia sudah mau melahirkan" tanya pak Rudi lagi


"iya pa, harus Caesar" jawab bari


"iya iya bar, papa doakan Narita baik - baik aja. Kamu harus tenang ya, jangan panik" ujar pak Rudi berusaha menenangkan bari.


"Naritanya sudah lemas pa" ucapnya terbata - bata.


"sabar bar, tenang ya"


"Narita kenapa pa" terdengar ibu Marlina bertanya kepada suaminya.


"katanya sedang di ruang operasi ma" jawab pak Rudi


"iya tapi harus Caesar"


"bar, tetap doakan istrimu bar, walaupun dia di dalam dia butuh dukunganmu bar" Teriak ibu Marlina di handphone suaminya.


"iya ma, doakan Narita ya ma, maafin Narita kalau ada salah" ucap bari membuat ibu Marlina di sebrang menangis.


"nari ngga pernah salah sama mama bar, mamalah yang sering menyakitinya" ujar ibu Marlina sedih dan meneteskan airmata juga.


"pokoknya maafin Narita mah" ucap Bari bersamaan dengan matinya lampu ruang operasi. Bari masih berada di panggilan itu ketika dokter keluar dengan perawat di sampingnya.


"gimana istri saya dok" tanya bari ngga sabaran


"bapak ini suaminya ibu nari"?


"iya dok"


"selamat ya pak, putri anda selamat dan sehat, begitu juga ibu Narita, semua berjalan lancar" ucap sang dokter dan masih di dengar pak Rudi di sebrang telepon.


'putri, anak kedua bari seorang putri' batin pak Rudi sangat bahagia. Dari dulu dia sudah mendambakan anak cewek dan sekarang dia dapat cucu cewek, bahagia sekali rasanya.


"kami permisi dulu pak" ucap dokter tersebut


"baik pak"

__ADS_1


Bari sangat gembira mendengar ucapan sang dokter. Bari tidak pernah menyangka kebahagiaannya kini hampir sempurna. Anak dan istrinya selamat, serta anak keduanya cewek.


Terimakasih Tuhan, batin bari


"bar, bar" ucap pak Rudi di sebrang membuyarkan lamunan bari.


"iya pa, operasinya sukses, anakku cewek pa" teriak bari sangat bahagia.


"iya nak, papa tadi sudah dengar yang dokter bilang" ucap pak Rudi.


"anakku sepasang pa, lengkap pa. Aku sekarang punya anak dua pa, dari Narita pa" ucapnya antusias banget.


"udah dulu ya pa, anakku udah di bawa keluar nih" ucap Bagas ketika melihat dua perawat mendorong box bayi.


"bar video call donk bar" ucap pak Rudi ngga sabar ingin melihat cucunya walaupun lewat layar handphone.


"ohhh ini pa" bari langsung mengganti mode panggilannya menjadi video call.


Bari mengarahkan kamera ke arah wajah putrinya, membuat pak Rudi dan bahkan bari sekalipun sangat bahagia dan terpesona.


Kemudian anaknya langsung di dorong lagi oleh perawat tersebut untuk di bawa ke ruang bayi.


Tidak berapa lama terlihat perawat laki - laki mendorong bed Narita keluar dari ruang operasi. Dia masih setengah sadar dari obat bius yang di gunakan.


Bari langsung menciumi istrinya. Bahkan dia sampai menangis mengucapkan terimakasih.


Bari langsung mengikuti perawat tersebut dari belakang menuju ruang rawat istrinya.


Tak henti - hentinya bari mengucap syukur untuk semua hal dalam hidupnya. Setelah istrinya di pasangin alat dan di biarkan tidur, bari langsung telepon anaknya Bagas.


Bagas awalnya menangis menanyakan maminya, tapi setelah tahu kelahiran adiknya Bagas sangat bahagia. dia terlihat jingkrak - jingkrak.


"jadi malam ini tidur sendiri ya, besok papi baru pulang, tapi nanti uwak Ida akan mampir ke rumah kita" ujar bari lagi.


"iya Pi"


"Bari duduk di samping bed istrinya dan memegang erat tangan istrinya itu. Tidak pernah lepas senyuman bari dari bibirnya, semua di mudahkan menurutnya.


Hallo guys


Jangan bosan ya


Dukung terus


Like


coment


vote


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2