
Dokter Eva tidak menyangka kalau bari benar - benar mencintai istrinya yang telah mengkhianati dia. Dari cara bari juga terlihat bahwa dia mengakui pernah cekcok dengan istrinya, sampai istrinya pergi berbulan - bulan dan lalu bertemu lagi.
Sepertinya ucapan Tante Marlina ada benarnya, bari terlalu patuh sama wanita itu. ini tidak cocok untuk seorang laki - laki sekeren bari. Tapi mau bertanya perasaan bari yang sebenarnya kepada istrinya jelas dokter Eva ngga punya keberanian, bukan apa - apa dia takut nanti sangat menyakitkan.
"kalau boleh tahu, memangnya dulu masalah apa kalian bisa berantem, kalau aku kan jelas karena dia lebih cinta barang haram itu" ujar dokter Eva memancing bari.
"yahhhh kalau bisa di bilang ya, agak sensitif juga sih. salah paham, istriku itu terlalu tidak mau terbuka, semua dia pendam sendiri dan dia simpulkan sendiri dengan hanya mendengar omongan orang." ujar bari sambil makan.
"tapi syukurlah, dengan kejadian itu bisa membuat kami berdua tambah dewasa, terutama saya ya, karena menurutku akulah yang kurang dewasa dan tanggap dengan perasaannya" ujar bari mengingat istrinya yang sering di marahi mamanya tanpa berusaha dia pahami.
"yahhh, masalah kita sedikit beda, karena kalian berdua langsung saling menyadari kesalahan masing - masing" ujar Eva lesu
"va, rumah tangga itu tidak sama dengan pelajaran di sekolah. Kadang ilmunya hanya di dapat dalam perjalanan rumah tangga kita. Yahhh termasuk saling mengerti dan mengalah."
"Di rumah tangga kalian siapa yang banyak mengalah"? tanya Eva Menatap bari.
"istriku" jawab bari tegas.
"Dia itu selalu mengalah dalam segala hal, sehingga aku sempat terlena dan terbuai sampai akhirnya dia pergi dan aku sadar betapa dia sangat berharga va"
"dari tadi sepertinya kamu sangat memuja istrimu"
"yahh begitulah, karena dia memang pantas di puja va, orangnya cantik kalau bagiku, baik untuk semua orang sehingga sering di manfaatkan orang" ujarnya.
"apakah kamu sangat mencintai istrimu"? akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut dokter Eva.
"sangat, aku sangat mencintainya"
"apakah kamu tidak berpikir bahwa setiap orang itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya" tanya dokter Eva mulai serius.
__ADS_1
"yah itu pasti, tapi karena aku sangat mencintainya, jadi kesalahan dia bagiku bisa di tutupi rasa cintaku yang sangat besar" ucap bari mantap
Eva terdiam menatap bari dalam.
"apakah aku tidak boleh mendapatkan sedikit saja perhatianmu bar," tanya dokter Eva membuat bari terdiam mematung sejenak.
"apa maksudmu"? tanya bari masih terbengong.
"jujur bar, semenjak aku kembali ke kota ini, namamu lah yang pertama ingin aku cari. Dan mungkin keberuntungan aku pikir berpihak padaku karena aku ketemu Tante Marlina dan dapat nomor kontaknya." tuturnya sementara bari masih terdiam mendengarkan kata demi kata yang tidak dia sangka keluar dari mulut seorang Eva yang sangat cantik dan dokter lagi.
"Aku mencari sosial mediamu dan aku melihat postinganku yang galau karena di tinggal istrimu. Saat itulah aku seolah memiliki harapan untuk mendapatkan cintamu bar" ucap Eva to the point sambil menatap bari. Rasa percaya diri Eva memang termasuk tinggi, sehingga dia mampu mengucapkan semuannya sambil menatap barita.
"haaaa" bari kaget luar biasa, cewek yang dulu mempermainkan perasaannya sekarang datang menyerah dan mengaku cinta setelah bari bahagia bersama istrinya.
"hahahaha kamu lucu banget sih va, becandanya ngga lucu. cerita kita itu dulu saat kita masih SMU, masih remaja dan labil" ujar bari masih ketawa.
Tapi ketawanya langsung berhenti ketika dia lihat wajah dokter Eva sangat sedih bahkan terlihat matanya sudah memerah karena malu atau marah, mungkin juga keduannya karena terlihat di matannya sudah tergenang airmata.
Bari yang memang orang baik jelas aja tidak tega melihat mantan pacarnya atau temannya sampai meneteskan airmata begitu. Dari dulu dia tidak ingin sebenarnya melihat seorang wanita menangis di hadapannya apalagi karena dirinya.
'aduhhh kenapa jadi begini sich' batin barita.
"maaf va, maaf, bukan maksudku untuk menyinggung perasaanmu. maksudku..." bari jadi bingung mau ngomong apa karena dokter Eva bukannya diam malah tambah menangis.
"vaaaaa, sudah donk va. jangan nangis, ngga enak dilihat orang.ini tempat umum, maafkan aku kalau aku buat kamu tersinggung ya" bujuk bari bingung . Bagaimana pun bari belum pernah menghadapi wanita menangis di depannya, apa lagi istrinya bukan tipe yang gampang ngambek dan menangis. Bahkan hampir tidak pernah melihat Narita nangis karena masalah rumah tangga apalagi di tempat umum kayak gini. Nah ini, Eva dulu pernah dia cinta dan sekarang menyesal dan mengharapkan dirinya.
'aduhhhh kok jadi begini sih' batin bari terdiam juga akhirnya.
'cobaan apalagi ini Tuhan' batin bari lagi.
__ADS_1
Selera makannya jadi hilang karena kejadian ini. perut laparnya jadi kenyang melihat tangisan eva.Padahal belum separuh makanan pesanannya di makan tapi dia sudah kenyang jadinya.
Eva sendiri terlihat hanya terbawa emosi dan suasana aja. Mungkin karena dia sudah mengharapkan bari akan bercerai tapi bari malah terus memuji istrinya itu. Membuat dia tidak bisa mengontrol perasaannya. Jujur Niat awalnya hanya ingin mendekati bari perlahan dan berjalan alami saja.
Dia jadi malu sendiri akhirnya. Dia sudah tidak bisa bicara lagi. Dia hanya menunduk sampai bari mengajaknya pulang. Dan ketika bari sudah selesai dia langsung mengajak Eva untuk pulang. Biar bagaimana pun jam istirahatnya sangat terbatas, bstintidak mau kena tegor dan akhirnya tidak bisa mengajukan cuti saat nanti istrinya melahirkan.
"va, kita pulang ya, jam istirahatku sudah habis, maklumlah masih karyawan" ujar bari berusaha tersenyum, tapi malah terlihat kaku dan hambar.
"hmmmm" balas Eva sambil menunduk
Bari dan Eva berjalan bersama keluar dari restoran tersebut. Mereka langsung menuju mobil dokter Eva, dan bari langsung duduk di balik kemudi. Dia tidak ingin banyak drama lagi tentang siapa yang nyetir, dia hanya ingin pulang ke kantor lalu kerja sampai istrinya itu lahiran.
Tidak berapa lama mereka sudah tiba di depan kantor bari. Bari sengaja tidak memasukkan mobil Eva ke parkiran, biar Eva bisa langsung pulang. Bari ingin Eva menyadari ucapannya dan juga keadaan mereka yang sekarang yang sudah memiliki pasangan.
"va, terimakasih ya, sudah traktir makan siang tadi" ucap bari.
Eva tidak berani menatap bari, dia hanya tertunduk lesu lalu menganggukkan kepalanya.
Bari terlihat keluar dari mobil mewah dokter Eva,
"oh iya va, tentang hari ini, maaf kalau aku membuat kamu tersinggung, demi Tuhan aku ngga bermaksud menyinggungmu, tapi tentang perhatian yang kau inginkan maaf va, aku ngga bisa, perhatianku sekarang full habis untuk istriku" ucap Daniel sambil melangkah masuk ke lokasi kantornya.
Hai readersku semua
dukung terus ya
like, coment, vote
Terimakasih🙏
__ADS_1